Menepuk Air di Dulang, Terpercik Muka Sendiri

3 menit baca
Menepuk Air di Dulang, Terpercik Muka Sendiri
Menepuk Air di Dulang, Terpercik Muka Sendiri

(171)

Ada kaidah berbunyi, ” Apa yang didapat, sesuai dengan yang diperbuat”. Kadang-kadang juga disebut, ” Semisal perbuatan, demikianlah nantinya balasan “.

Kitab-kitab ulama sering menjelaskannya dengan ungkapan, Al Jaza’ min jinsil ‘Amal.

Detail dan rinciannya bukan di tulisan ini.

Kita sebatas merefresh kembali, mengingat ulang, bahwa setiap ucapan dan perbuatan selalu ada konsekuensi darinya.

Langkah yang diambil -semestinya- adalah koreksi diri. Bukan menimpakan kesalahan pada orang lain. Bukan mencari-cari siapa yang akan dikambinghitamkan?

Sebagai contoh adalah sabda Rasulullah berikut ini :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ ! لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَّبَعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَّبَعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

” Wahai, orang-orang yang beriman dengan lisannya, tetapi iman belum masuk dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin! Janganlah pula mencari-cari aib mereka! Sungguh, siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, maka Allah akan mencari-cari aib nya. Barangsiapa yang Allah mencari-cari aib nya, maka Allah akan mempermalukannya. Meskipun ia berada di dalam rumahnya (saat melakukan aib itu)”.

HR Ahmad dari sahabat Abu Barzah Al Aslami.

Berhati-hatilah saat berbicara! Pikirkan akibat dan efeknya! Apalagi jika terkait aib dan cela orang lain.

Apalagi -saking parahnya- menyengaja, merencana, menyusun agenda : bagaimana caranya mendata, mencatat, menginventarisir, membuat list, untuk kesalahan-kesalahan orang lain.

Lebih ekstrem lagi, jika hal itu disalahgunakan untuk mengancam, mengintimidasi, dan menjatuhkan nama baik seseorang. Na’udzu billah min dzaalik.

Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (1/695-696) menerangkan beberapa watak manusia yang memiliki kemiripan dengan hewan.

“Ada orang dengan watak babi. Ia lewati makanan yang enak, tidak menoleh sama sekali. Justru jika ada orang selesai buang air besar, ia bersihkan dengan lidahnya.

Orang semacam ini sangat banyak jumlahnya. Ia melihat dan mendengar banyak hal yang baik tentang dirimu, berkali-kali lipat lebih banyak dari keburukanmu. Tapi, tidak dia ingat, tidak ia ceritakan, dan menurutnya tidak cocok.

Sekali ia melihat satu kesalahan, satu kata yang pincang, seolah-olah ia memperoleh barang yang lama diidam-idamkan, yang ia harapkan. Ia jadikan itu sebagai santapan dan bahan cerita ke sana kemari “, demikian Ibnul Qayyim menulis salah satunya.

Hadis Abu Barzah di atas, membuat siapapun yang membaca harus selalu takut.

Takut mencari aib orang, sebagaimana ia takut aib nya diketahui orang. Takut mempermalukan orang di depan umum, seperti takutnya dia jika dipermalukan di depan orang banyak.

Ibrahim An Nakha’i (Syuabul Iman 5/315) berkata, ” Sungguh! Terkadang saya melihat sesuatu yang saya benci. Tidak ada yang menghalangi saya berbicara, kecuali karena saya takut tertimpa semisalnya”

As Sakhawi ( Adh Dhau’ul Laami’ 1/106) menyebutkan ucapan Imam Malik, ” Saya bertemu sekian banyak orang di negeri ini (Kota Madinah), mulanya mereka tidak memiliki aib. Namun, mereka menceritakan aib orang lain. Ternyata, mereka pun akhirnya diketahui memiliki aib”

Beliau melanjutkan, ” Saya pun bertemu dengan sekian banyak orang, mereka punya aib, namun tidak mau berbicara tentang aib orang, maka aib mereka pun dilupakan”

Allahul musta’an…

Setiap orang punya aib. Sibukkan dengan aib sendiri untuk memperbaiki.

Jika engkau tidak berbicara tentang aib orang, aib mu akan tertutupi. Namun, jika engkau senang berbicara tentang aib orang, akan tiba saatnya, aibmu akan dibicarakan ke sana kemari. Aib mu akan tersebar kemana-mana.

Introspeksi diri! Barangkali itu akibat perbuatannya sendiri. Walaupun dahulu kala.

Ibnu Sirin bercerita pernah menghina orang karena bangkrut. ” 40 tahun kemudian, saya sendiri mengalami kebangkrutan” (Shaidul Khatir hal.21)

Ruang Zaadul Ma’ad

27 Desember 2022

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (107) Egois! Manusia berpembawaan egois. Sering memandang dari satu arah. Tak peduli sudut-sudut yang lain. Asalkan hati senang, apa...
  • Bercerita walau berkenang, Andalus adalah kisah besar dalam sejarah Islami. Walau kini tak semua ingin mengerti dan mau peduli....
  • (280) Saat ini, letaknya bersambung dengan halaman Masjid Nabawi di sudut barat daya. Gerbang nomor 310 adalah penandanya. Pasar...
  • Kata sebagian orang, ”Mekkah itu jauh”. Mekkah memang jauh. Namun, sejauh-jauhnya Mekkah tetap masih bisa diperkirakan berapa kilometer jaraknya....
  • (293) Sebulan lalu, 7 remaja ditemukan tewas di Kali Bekasi. Menurut pihak berwenang, mereka bagian dari aksi tawuran yang...
  • Saya tahu engkau lelah. Engkau sebagai orangtua pasti lelah. Membesarkan dan merawat anak bukanlah hal yang mudah. Mendidik dan...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca