![]() |
| Belajar Tahu Diri Dari Kota Nabi |
(346)
Berbicara tentang kota Madinah, rasanya tak lengkap bila tidak membahas Imam Malik. Satu dari ulama 4 madzhab. Beliau lahir tahun 93 hijriah di Madinah. Wafat pun di sana.
Adz Dzahabi (Siyar A’lam 8/48), menyatakan, ” Syaikhul Islam. Hujjatul Ummah. Imam Daril Hijrah (Kota Madinah). Malik bin Anas bin Malik bin Abi ‘Amir bin ‘Amr bin Al Harits bin ‘Amr bin Al Harits Al Ashbahi”.
Banyak warisan kebaikan yang ditinggalkan Imam Malik untuk kita; termasuk ketawadhuan. Silahkan sebut dengan; sikap tahu diri!
Berikut ini 3 ajaran Beliau tentang sikap tahu diri:
Pertama : Jangan merasa lebih baik dari yang lain. Kita mesti saling melengkapi satu sama lain.
Ada yang ingin fokus ke durus (berbagai pelajaran). Ada yang maunya konsentrasi di bidang Al Qur’an. Ada yang mantap memilih satu bidang ilmu. Ada juga yang ingin banyak-banyak ibadah dengan berbagai macam pilihan.
Abdullah Al ‘Amri, seorang ulama ahli ibadah, pernah menulis surat untuk Imam Malik. Isinya, mengajak Imam Malik agar lebih fokus ibadah.
Imam Malik menulis surat balasan (Siyar A’lam Nubala 8/114);
” Sungguh, Allah telah membagi-bagikan amal sebagaimana membagi-bagi rezeki. Ada hamba yang dibukakan untuknya salat, namun tidak dibukakan puasa. Lainnya dibukakan sedekah, namun tidak dibukakan puasa. Ada juga yang dibukakan jihad untuknya “
” Menyebarkan ilmu juga termasuk amal kebaikan yang afdhal. Sungguh, saya sudah ridha dengan apa yang dibukakan untukku. Menurut saya, apa yang saya lakukan tidak berbeda dengan apa yang Anda lakukan. Saya berharap, kita berdua sama-sama di atas kebaikan dan kebajikan “
Mereka yang diberi karunia thalabul ilmi di Timur Tengah, sepulangnya ke Indonesia, masing-masing berjuang untuk agama sesuai bidang yang dipelajari dan dikuasai. Harapannya, kita sama-sama di atas kebaikan.
Kedua : Jangan terburu-buru menganggap diri telah layak berfatwa!
Jangan tergesa-gesa menilai diri seakan-akan sudah menguasai ilmu agama! Proses thalabul ilmi itu sangat panjang dan menghabiskan waktu yang lama. Bahkan, hingga mati pun tetap berthalabul ilmi.
Imam Malik berkata, ” Saya tidak berani berfatwa, sampai ada 70 ulama memberi rekomendasi bahwa saya sudah pantas berfatwa ” (Hilyatul Auliya 6/316)
Imam Malik berkata, ” Saya tidak berani berfatwa, sampai saya bertanya kepada orang yang lebih alim dari saya ; apakah saya pantas menjawab? Saya bertanya kepada Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id. Mereka berdua memberikan rekomendasi untuk saya “
Ada yang bertanya, ” Wahai Abu Abdillah, andaikan mereka melarang Anda? “. Imam Malik menjawab, ” Saya pasti menahan diri. Tidak semestinya seseorang menilai dirinya layak melakukan sesuatu, sampai dia bertanya kepada yang lebih alim ” (Hilyatul Auliya, 6/316)
Ketiga : Jangan malu untuk mengatakan : Saya tidak tahu!
Jangan memaksakan diri untuk mengesankan serba tahu. Jangan sungkan dan tidak perlu takut dibilang ini dibilang itu ketika tidak bisa menjawab pertanyaan!
Imam Malik berkata, ” (Jawaban) Saya tidak tahu adalah surga nya orang berilmu. Jika ia lalaikan, ia terancam binasa ” (Al Intiqa, hal 37)
Seseorang menemui Imam Malik untuk menyampaikan satu pertanyaan. Jarak kampungnya ke Madinah 6 bulan perjalanan. Kata Imam Malik, ” Sampaikan kepada orang yang menyuruhmu bahwa saya tidak tahu jawabannya ” (Al Intiqa, hal.38)
Imam Malik pernah ditanya 48 pertanyaan. 32 pertanyaan dijawab dengan, ” Laa adrii (saya tidak tahu)” (Al Intiqa, hal.38)
Khalid bin Khidasy bercerita, ” Dari Iraq saya datang menemui Imam Malik membawa 40 pertanyaan. Beliau tidak menjawab kecuali 5 saja ” (Al Intiqa, hal.38 )
Sebagai penutup, pesan Imam Malik berikut adalah rambu kerendahan hati. Bahwa thalabul ilmi bukan bertujuan mencari banyak pengikut, banyak follower, banyak anggota grup, banyak yang like, atau yang semisal.
Kata Imam Malik (Siyar A’lam 8/66), ” Tidaklah saya belajar kecuali untuk diri saya sendiri. Saya belajar bukan karena ingin manusia membutuhkan saya. Dan demikianlah para ulama zaman dahulu “
Keempat : Bagi yang ingin memperdalam ilmu Al Qur’an, maka persiapkan betul hafalan Al Qur’an mu!
Di Masjid Nabawi, halaqah-halaqah Al Qur’an sangat banyak pilihannya. Mulai dari tahsin, hifz, murojaah, hingga ijazah bersanad. Semuanya harus diuji sebelum masuk, dan setelah berjalan selalu ada ujian-ujian.
Kelima : Sejak sebelum berangkat, tentukan target dan tujuannmu! Apa yang engkau cari di kota Madinah? Apa yang hendak engkau pelajari di Masjid Nabawi?
Ingat, ilmu itu sangat luas. Ilmu itu berbagai macam disiplin. Andaikan kita punya waktu puluhan tahun, seumur hidup, belum tentu satu bidang ilmu bisa dikuasai. Apalagi jika waktunya hanya terbatas beberapa tahun, atau beberapa bulan. Maka, diskusikan dan mintalah saran kepada seorang ustadz tentang target thalabul ilmi di kota Nabi.
Intinya, dalam hitung-hitungan manusia; siapa yang sungguh-sungguh thalabul ilmi di Indonesia, dia akan sungguh-sungguh thalabul ilmi di kota Madinah. Sebaliknya, kalau di Indonesia malas dan tidak semangat, sulit rasanya untuk kemudian di Madinah bisa tekun dan tahan banting dalam thalabul ilmi.
Ingat, Thalabul ilmi tidak bisa bergantung pada orang lain. Kesadaran dan kemauan harus dimulai dari diri sendiri.
Semoga kita istiqamah dalam thalabul ilmi.
Tanah Suci, 06 Rabiul Awwal 1447 H/29 Agustus 2025
