![]() |
| Lanskap Bening Kesabaran |
(331)
Jika problematika manusia diumpamakan air keruh dan likat, maka kesabaran menjadi beningnya lanskap kehidupan.
Saat masalah bertumpuk-tumpuk saling membelit dan seakan tak ada ujung pangkalnya, hati menjadi gelap tak bercahaya.
Ketika beban pikiran seperti lorong-lorong labirin yang cabang dan titik-titik temu jalannya membingungkan, di situlah bagai berada di malam dua puluh tujuh yang kelam.
Hamba mesti sadar bahwa dia tidak semestinya berada di posisi seperti itu.
Iya, punya masalah itu berat. Mengalami musibah itu beban. Ibnul Qayyim menyebut 16 langkah yang bisa ditempuh agar yang gelap menjadi terang dan yang keruh kembali bening.
Di artikel ini, kita sedikit menyinggung langkah yang ke- empat.
Ibnul Qayyim (Zaadul Ma’ad) menulis, ” Ingatlah bahwa, ” Di setiap lembah, selalu ada kabilah Bani Sa’ad “.
Kalimat di atas pepatah Arab. Diucapkan pertama kali oleh Al Adh-bath bin Qurai’ bin Auf kemudian tersebar luas. Al Adh-bath sendiri adalah tokoh terkemuka kabilah Bani Sa’ad.
Ceritanya; Al Adh-bath kecewa dan tersinggung dengan sikap masyarakat Bani Sa’ad yang meremehkan dan tidak menghargainya. Al Adh-bath pun pergi sejauh-jauhnya.
Ke kabilah manapun pergi dan di manapun kampung berada, Al Adh-bath menemukan kenyataan bahwa selalu saja ada orang-orang yang meremehkan dan tidak menghargai.
Al Adh-bath memutuskan pulang kampung. Katanya, ” Ternyata, aku harus menerima bahwa manusia sama saja”. Lanjutnya, ” Di setiap lembah, selalu ada kabilah Bani Sa’ad “
Artinya, sudah seperti itulah sunnatullah di atas muka bumi. Selalu ada masalah, selalu ada cobaan, dan terus menerus ujian menerpa.
Tidak ada yang dikecualikan, termasuk hamba-hamba Allah yang beriman. Bahkan, semakin tinggi kualitas iman maka semakin berat ujiannya. Bukankah demikian?
Kata Ibnul Qayyim, ” Silahkan menoleh ke kanan, bukankah ia tidak melihat kecuali cobaan? Kemudian lihatlah ke kiri, bukankah ia tidak menyaksikan kecuali kekecewaan? “
Ibnul Qayyim menegaskan,” Andaikan ia memeriksa seluruh dunia, ia tidak akan menemukan kecuali orang-orang yang mengalami cobaan, yaitu kehilangan yang dicintai atau mengalami hal yang dibenci “
Namun, ” Kepedihan dunia hanya bagaikan mimpi tidur atau bayang-bayang benda yang pasti hilang “, pungkas Ibnul Qayyim.
Perlu diingat juga bahwa cobaan tidak selalu berbentuk kesulitan dan kesusahan. Kemudahan dan kebahagiaan pun wujud cobaan. Allah Ta’ala berfirman;
وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً
” Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan ” QS Al Anbiya; 35
Ibnu Katsir memberi tafsir, ” Kadang-kadang Kami menguji kalian dengan musibah, kadang-kadang Kami juga menguji kalian dengan limpahan nikmat. Supaya kami melihat siapa yang bersyukur, siapa yang kufur. Siapa yang bersabar, dan siapa yang putus asa”
Marilah mendamaikan hati dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ berikut ini :
فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَىٰ حَسْبِ دِينِهِ، فَإِن كَانَ فِي دِينِهِ صَلْبًا ٱشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِن كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةً ٱبْتَلَىٰ عَلَىٰ حَسْبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ ٱلْبَلَاءُ بِٱلْعَبْدِ حَتَّىٰ يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى ٱلْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
” Hamba diuji sesuai kualitas agamanya. Jika pada agamanya ada kekuatan, ujiannya semakin berat. Bila pada agamanya ada kelemahan, ia diuji sesuai kadar agamanya itu. Cobaan akan selalu dihadapi hamba, sampai ia dibiarkan berjalan di atas bumi tanpa ada dosa yang membebani ” HR Tirmidzi no.2398 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash.
Ya, karena di setiap cobaan, ia memandangnya di lanskap bening kesabaran.
Jum’at 25 April 2025. Memandang Rammang-Rammang
