![]() |
| Kecewa Terkadang Obat Pembersih Jiwa (2) |
(343)
Kecewa itu wajar. Manusiawi. Asalkan tidak berlebihan dan tidak melampaui batas. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ tidak marah ketika Umar bin Khattab menyampaikan kekecewaannya.
Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab (Beberapa Hikmah Perjanjian Hudaibiyah), menyebut pada nomor 22, “ Kelembutan dan kasih sayang Nabi Muhammad. Beliau tidak marah “
Ibnul Qayyim (Zaadul Ma’ad) lumayan panjang lebar menjelaskan hikmah-hikmah dari tertundanya umroh dan kesepakatan Hudaibiyah. Antara lain ;
Pertama: Perjanjian Hudaibiyah adalah mukadimah (pembuka) untuk kemenangan terbesar dalam sejarah Islam, yaitu takluknya kota Mekkah.
Kedua: Gencatan senjata yang disepakati, memberi kesempatan kaum muslimin untuk secara bebas dan leluasa mendakwahkan Islam dan mengajarkan Al Qur’an di manapun dan ke manapun.
Ketiga: Tahun depannya (7 hijriyah), kaum muslimin bisa berumroh dengan tenang dan berinteraksi dengan keluarga-keluarga di Mekkah. Mendengar informasi tentang Islam, maka banyak penduduk Mekkah yang masuk Islam. Bahkan, tokoh-tokohnya.
Keempat : Orang-orang yang sebelumnya masih sembunyi-sembunyi berislam, akhirnya berani terang-terangan.
Kelima: Kaum muslimin bisa fokus menghadapi kaum Yahudi. Maka, setelah perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin menyerang markas Yahudi di Khaibar.
Jelasnya, dengan Perjanjian Hudaibiyah, posisi kaum muslimin menjadi naik dan terangkat. Jika sebelumnya, kaum Quraisy tidak menganggap bahkan memandang rendah. Dengan perjanjian, posisi kaum muslimin menjadi seimbang dan sama kuat.
Ibnul Qayyim mengajak kita untuk mengelola rasa kecewa dengan baik. Terima dan pandanglah secara positif. Saat itu pasti para sahabat sedang bergejolak hati dan betul-betul kecewa, sehingga mereka sangat membutuhkan rasa tenang.
Disebabkan para sahabat menerima dengan penuh keimanan, Allah pun menurunkan rasa tenang yang luar biasa. Allah tambah iman mereka dengan keimanan.
Allah berfirman ;
“ Dia lah Allah yang telah menurunkan ketenangan di dalam hati orang-orang yang beriman, supaya keimanan mereka bertambah di atas keimanan mereka (yang sudah ada sebelumnya) “ QS Al Fath; 4
Intinya, kecewa tentu dirasakan oleh kita dalam kehidupan ini. Keinginan yang tidak tercapai, gagal di tengah jalan, harapan yang pupus, mengalami kerugian, atau apapun sebabnya.
Sikap seorang hamba adalah yakin bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk dirinya. Bisa jadi kita membenci sesuatu, padahal itu justru hal yang baik. Bisa juga kita senang sesuatu, ternyata malah merugikan dan keburukan.
Apapun itu, yakinlah bahwa semuanya telah tercatat di Lauh Mahfuz!
“ Supaya kalian tidak bersedih untuk sesuatu yang luput dari kalian. Dan supaya kalian tidak sombong dengan apa yang diberikan- Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri “ QS Al Hadid;23
Andai semua yang diinginkan selalu tercapai, andai tidak pernah gagal, andai tidak pernah kecewa, takutnya menjadi manusia yang sombong dan takabbur! Kecewa adalah media untuk mengingatkan bahwa manusia itu lemah.
Mekkah, 20 Shafar 1447 H/15 Agustus 2025
anakmudadansalaf.id
