![]() |
| Edisi 09: Kitab Sunan Nasa’i dan Syarah Dzakhiratul Uqba |
Kitab Sunan Nasa’i termasuk 6 kitab induk hadits Nabi. Dibandingkan Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, kitab Sunan Nasa’i masih sedikit yang secara khusus menjabarkannya.
Di zaman ini, as Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam al Atyuubi telah menulis Syarah nya. Beliau beri judul “Dzakhiratul Uqba fii Syarhil Mujtabaa”.
Kitab ini terdiri dari 45 jilid. Masing-masing jilid berkisar antara 600-700 halaman.
Menurut as Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i, Syarah berjudul “Dzakhiratul Uqbaa fii Syarhil Mujtabaa” karya as Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam, sama metodenya dengan al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.
Syaikh Muqbil melanjutkan, “Hati ini terasa tenang dengan tarjih dan pilihan pendapat as Syaikh Muhammad karena sesuai dengan dalil.
Saya nasehatkan para penuntut ilmu untuk serius mempelajari kitab beliau yang luar biasa ini.
Tidak semua ahli hadits zaman ini yang memiliki kemampuan untuk menyusun syarah semacam ini.
Sebelumnya, ketika saya membaca kitab Sunan Nasa’i, saya menemukan banyak sisi-sisi sanad yang rumit, perbedaan para perawi di sejumlah hadits.
Imam Nasa’i menyebutkan itu semua dengan panjang lebar.
Saya berpikir, “Kitab Nasa’i ini perlu penjelasan (Syarah), namun siapa yang mampu mendetailkan riwayat-riwayat yang berbeda ini?”
Saya memohon kepada Allah supaya memberi balasan kebaikan untuk Imam Nasa’i dan as Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam.
Walhamdulillah rabbil ‘alamin.
(As Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i, Kamis 02 Shafar 1422 H)
Dalam kesempatan lain, as Syaikh Muqbil memuji kitab Dzakhiratul Uqba sebagai Syarah Sunan Nasa’i, “….(as Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam) membahas makna-makna secara bahasa, sanad hadits dan fikihnya secara dalam dan teliti. Beliau mentarjih pendapat yang dipandang kuat”
As Syaikh Muqbil melanjutkan, “Kenyataan tidak bisa disamakan hanya dengan cerita saja. Saya pribadi telah duduk di majlis as Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam al Atyuubi -hafidzahullah-. Saya menilai beliau sebagai lautan berbagai disiplin ilmu, apalagi ilmu bahasa dan ilmu hadits”
