Memang sensitif jika bicara niat. Tetapi, hal ini selalu diingatkan ulama.

2 menit baca
Memang sensitif jika bicara niat. Tetapi, hal ini selalu diingatkan ulama.
Memang sensitif jika bicara niat. Tetapi, hal ini selalu diingatkan ulama.

Al Fudhail bin Iyadh ( Siyar A’lam Nubala) berkata, ” Kasihan benar engkau, He. Engkau jahat tapi merasa baik. Engkau bodoh namun menganggap diri pintar. Engkau kikir tapi merasa dermawan. Engkau dungu namun menganggap berakal. Ajalmu pendek walau angan-anganmu panjang “

Adz Dzahabi menambahkan, ” Demi Allah, beliau memang benar! Engkaulah yang zalim tapi merasa dizalimi. Engkau makan yang haram namun menganggap diri wara’. Engkau fasik tapi merasa bersikap adil”

” Engkau thalabul ilmi untuk tendensi duniawi, namun engkau beralasan mencarinya karena Allah “, pungkas Adz Dzahabi.

Sedih sangat! Jika ada santri punya banyak potensi, pintar, cerdas, baik, sopan, dan semangat. Namun, di tengah perjalanan, ia ingin berhenti jadi santri. Ia ingin kerja, ingin cepat menikah saja, ingin jadi orang biasa, katanya.

Sedih juga, bila punya teman. Dia lebih pintar. Dia lebih cerdas. Dia lebih sopan. Dia lebih rajin. Tetapi, setelah cukup jauh melangkah, ia menghilang. Thalabul ilmi ditinggalkan.

Maka, koreksi niat harus rutin dilakukan. Menjaga dan merawat niat agar tetap bersih dan jernih. Niat terus dievaluasi supaya selalu bening dan hening. Cerah dan tidak keruh.

Apalah kita? Lemah dan kerdil. Naif dan bodoh.

Imam Ahmad bin Hanbal (Raudhatul Muhibbin 1/69) saja ketika ditanya, ” Apakah Anda mempelajari ilmu karena Allah? “.

” Adapun karena Allah, amatlah berat. Namun, sesuatu yang aku dibuat suka, maka aku lakukan” , jawab beliau.

Jika niat thalabul ilmi, ngaji, menghadiri majlis ilmu, mengikuti daurah, jadi santri, benar-benar lillahi Ta’ala, tentu akan bertahan. Bila salah niat, akan tiba waktunya menguap dan menghilang.

Imam Malik bin Anas menyatakan, ” Apapun, jika niatnya Lillahi Ta’ala, tentu akan bertahan”.

Di Calon Asrama Kelas IV

Awal Shafar 1444 H/29 Agustus 2022

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad mengulas tentang Oud (kayu gaharu). Ada beberapa jenis gaharu disebutkan. Asal daerah nya, warna...
  • Dek, pernah mendengar nama Ya’qub bin Syaibah? Ulama hadits kelahiran 180-an hijriyah ini dipuji oleh Ad Dzahabi dalam Siyar...
  • (203) Cinta biasa ditamsilkan pelita, yakni lampu berbahan bakar minyak. Sepanjang minyak diisikan, sepanjang itulah pelita bercahaya. Bagaimana dengan...
  • (146) Selalu bersiap dan bersenanghati untuk autokritik. Itulah satu langkah positif yang seyogyanya ditempuh jika dihadapkan pada kenyataan adanya...
  • (174) Meniti Rendah Hati Ada nasihat bagus dari Al Muzani. Al Muzani di sini, bukan murid Imam Syafi’i yang...
  • Ibnul Mubarok bercerita (Tarikh Ibnu Asakir 36/313) tentang Imam Malik bin Anas yang disengat kalajengking berkali-kali. Saat itu, Imam...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca