![]() |
| Memang sensitif jika bicara niat. Tetapi, hal ini selalu diingatkan ulama. |
Al Fudhail bin Iyadh ( Siyar A’lam Nubala) berkata, ” Kasihan benar engkau, He. Engkau jahat tapi merasa baik. Engkau bodoh namun menganggap diri pintar. Engkau kikir tapi merasa dermawan. Engkau dungu namun menganggap berakal. Ajalmu pendek walau angan-anganmu panjang “
Adz Dzahabi menambahkan, ” Demi Allah, beliau memang benar! Engkaulah yang zalim tapi merasa dizalimi. Engkau makan yang haram namun menganggap diri wara’. Engkau fasik tapi merasa bersikap adil”
” Engkau thalabul ilmi untuk tendensi duniawi, namun engkau beralasan mencarinya karena Allah “, pungkas Adz Dzahabi.
Sedih sangat! Jika ada santri punya banyak potensi, pintar, cerdas, baik, sopan, dan semangat. Namun, di tengah perjalanan, ia ingin berhenti jadi santri. Ia ingin kerja, ingin cepat menikah saja, ingin jadi orang biasa, katanya.
Sedih juga, bila punya teman. Dia lebih pintar. Dia lebih cerdas. Dia lebih sopan. Dia lebih rajin. Tetapi, setelah cukup jauh melangkah, ia menghilang. Thalabul ilmi ditinggalkan.
Maka, koreksi niat harus rutin dilakukan. Menjaga dan merawat niat agar tetap bersih dan jernih. Niat terus dievaluasi supaya selalu bening dan hening. Cerah dan tidak keruh.
Apalah kita? Lemah dan kerdil. Naif dan bodoh.
Imam Ahmad bin Hanbal (Raudhatul Muhibbin 1/69) saja ketika ditanya, ” Apakah Anda mempelajari ilmu karena Allah? “.
” Adapun karena Allah, amatlah berat. Namun, sesuatu yang aku dibuat suka, maka aku lakukan” , jawab beliau.
Jika niat thalabul ilmi, ngaji, menghadiri majlis ilmu, mengikuti daurah, jadi santri, benar-benar lillahi Ta’ala, tentu akan bertahan. Bila salah niat, akan tiba waktunya menguap dan menghilang.
Imam Malik bin Anas menyatakan, ” Apapun, jika niatnya Lillahi Ta’ala, tentu akan bertahan”.
Di Calon Asrama Kelas IV
Awal Shafar 1444 H/29 Agustus 2022
