![]() |
| 3 Suami adalah penanggung jawab |
Tanggung jawab dalam hal apa?
Semuanya. Seluruh hal. Bukankah istrimu adalah tanggung-jawabmu? Bukan hanya di dunia, bahkan di akhirat kelak, engkau pun harus mempertanggungjawabkan.
Urusan rumah. Bersih-bersih. Menata. Memasak. Mencuci. Merawat anak. Memperbaiki kerusakan. Ingat, nabi Muhammad pun sering dan senang membantu meringankan pekerjaan rumah istrinya.
Kelak pendidikan anak juga tanggung jawabmu, wahai calon suami.
Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menjadi seorang ayah yang baik? Seorang bapak yang shaleh?
Engkau pikir menikah itu hanya sekadar tersenyum bahagia dan tertawa gembira? Senang kita lamaran diterima. Senang saat sah ijab kabul. Senang ketika mendapatkan ucapan selamat dan doa.
Menikah itu perjalanan yang sangat panjang. Jarak tempuhnya amat jauh.
Salah satunya adalah mendidik anak. Engkau harus belajar dan memahami seluk beluk mendidik anak. Jangan menunggu setelah punya anak! Itu terlambat.
Inti point ini adalah memahamkan dirimu, Dek.
Bahwa apa yang terjadi dan dialami dalam rumah tangga adalah tanggung-jawabmu. Jangan lari dari tanggung-jawab! Jangan engkau lemparkan tanggung-jawab pada orang lain.
Ibarat kapal, katanya. Hendak kemana dan bagaimana berlayar, berpulang kepada nahkoda. Ketika mengalami badai atau gelombang besar, nahkoda harus sabar dan tegar. Penumpang menunggu arahanmu.
4 Banyaklah mengalah
Sahabat Khudzaifah pernah berkata, “Saat-saat paling membahagiakan bagiku adalah saat-saat ketika anak dan istriku berkeluh-kesah kepadaku”
Inilah perangai mulia dan karakter positif yang harus engkau persiapkan dari sekarang, Dek.
Saat istrimu mengatakan capek. Ketika ia bilang lelah. Waktu ia memintamu untuk melakukan sesuatu. Apabila istrimu mengeluh. Menceritakan masalahnya. Mewartakan problemnya.
Itulah saat yang membahagiakan bagi seorang suami. Seorang laki-laki.
Jadilah tempat bersandar untuknya! Buatlah ia nyaman di dekapanmu! Dengarkan cerita dan keluh kesahnya! Bikin ia tertawa.
Tsabit bin Ubaid berkisah, “Aku tidak pernah melihat sosok yang lebih menggembirakan saat di rumah, tenang ketika di majlis, dibanding sahabat Zaid bin Tsabit”
Begitulah, Dek! Menjadi suami dengan pribadi yang menyenangkan dan menggembirakan.
5 Jangan kasar
Ini pesan ke-lima, Dek! Tolong jangan kasari istrimu. Jangan dengan suara, jangan dengan kata-kata dan jangan pula dengan fisik.
Wanita itu makhluk lemah.
Walau engkau tengah emosi. Meski engkau sedang marah. Kendalikan diri dan tetaplah tenang. Lebih baik diam daripada mengumbar kata-kata.
Ini semua demi kebaikan bersama. Ingat, bukankah niatmu adalah ibadah? Jangan kotori niatmu. Jangan nodai tujuan baikmu.
Terakhir, rasa suka bukan satu-satunya pondasi rumah tangga. Maka, ketika tidak ada lagi rasa suka, jangan engkau robohkan keluarga!
Ada orang hendak menceraikan istrinya. Umar bin Khattab bertanya, “Kenapa engkau ingin menceraikannya?”.
“Aku sudah tidak suka lagi dengannya?”, ia menjawab.
Kata Umar, “Apakah setiap rumah tangga hanya dibangun di atas rasa suka? Di mana engkau tempatkan ri’ayah? Di mana engkau posisikan tadzammum?”
Ri’ayah adalah ibadah dalam bentuk pemenuhan hak dan kewajiban pada masing-masing anggota keluarga.
Masih banyak ibadah dalam rumah tangga yang dapat dilakukan. Masih banyak amal shaleh yang hanya bisa dilakukan melalui rumah tangga.
Tadzammum adalah upaya menjaga keutuhan rumah tangga agar tidak terjadi dampak negatif dari perceraian. Seperti dampak negatif pada anak, keluarga besar dan lain-lain.
Artinya jagalah rumah tangga yang sudah engkau bina. Pertahankanlah sekuat tenaga. Pertimbangkanlah efek-efek buruknya. Berpikirlah dengan jernih dengan bersih.
Buanglah ego. Sirnakan emosi. Jangan ikuti amarah sesaat.
Semoga rumah tanggamu, rumah tangga kita semua, menjadi rumah tangga yang diridhai Allah Ta’ala.
Bersiap-siaplah dari sekarang, Dek. Sebelum terlambat.
Di Lendah 17 Jan 2021
