Di Bawah Naungan Ilmu

2 menit baca
Di Bawah Naungan Ilmu
Di Bawah Naungan Ilmu

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Manusia akan selalu resah dan gelisah. Ketidakpastian apa yang akan datang, membuatnya terbelenggu kekhawatiran. Antara yang diinginkan tak terwujud dan yang dihindari malah terjadi.

Masa lalu telah membikin manusia sedih dan pilu. Bayang-bayang buruk seolah tak bisa lepas dari pikiran. Peristiwa yang lewat, seakan hadir di depan mata setiap saat.

Gelap dan gelap. Gelapnya pekat. Bagai tak berpenghujung. Ia mencari cahaya walau setitik. Tanpa ilmu, perjalanan hidup di dunia ibarat berjalan di lorong labirin sempit yang gelap.

Ibnul Qayyim bertutur (Miftah Daris Sa’adah 178) : ” Problematika hamba muncul karena gelapnya pengetahuan dan lemahnya hati. Jika ilmu bermanfaat telah mapan kuat, maka teranglah ilmunya dan kuatlah hatinya ”

Hidup di dunia bak perjalanan panjang. Ada satu tujuan yang harus dicapai, yaitu kampung halaman. Maka, ingatlah selalu bahwa surga lah kampung halaman kita.

Namun, untuk sampai ke sana, mau tak mau haruslah ada peneduh yang menaungi.

Di dunia, teriknya matahari dan panas sinarnya menggambarkan banyaknya masalah dan pergi datangnya persoalan. Jika panasnya sinar matahari mengharuskan kita untuk mencari tempat yang teduh, maka banyaknya masalah mengingatkan kita akan ilmu sebagai tempat bernaung.

Sasaran utamanya adalah generasi muda yang sedang galau-galaunya.

Tak hanya mengupas tentang masa muda mereka, Di Bawah Naungan Ilmu juga mengajak generasi muda untuk mempersiapkan diri sebagai orang tua yang akan bersentuhan langsung dengan pendidikan anak. Seperti apa kriteria orang tua pendidik itu?

Rumah tangga dengan berbagai warna dan motifnya juga dibahas Di Bawah Naungan Ilmu. Supaya ada bekal menjadi suami yang bijak dan istri yang baik. Walaupun tidak lengkap, minimal sebagai dasar pijakan.

Tentu Di Bawah Naungan Ilmu hanyalah percikan kecil dari luasnya lautan ilmu. Mengarunginya perlu waktu panjang, menyelaminya umur tak kan cukup. Hanya saja, semoga yang sepercik ini bisa menyadarkan kita bahwa manusia adalah setitik debu di tengah luas dan agungnya ciptaan Allah Ta’ala.

Sebagai penulis, harapan terbesar adalah Di Bawah Naungan Ilmu dapatlah bermanfaat seluas-luasnya.

Iya, karya manusia tak ada yang sempurna dan tak ada yang tanpa cacat. Kritik dan saran selalu terbuka. Menginspirasi generasi muda agar giat menulis, mudah-mudahan cukup sebagai sisi positifnya.

Semoga Allah Ta’ala meridhai dan memberkahi.

وَ آخِرُ دَعْوَانَا أَنِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (40) Dek, pasti engkau banyak memikul beban hidup. Galau oleh setumpuk persoalan. Ada masalah yang tertimbun. Fokusmu berserakan. Tentang...
  • (126) Thalabul Ilmi artinya sedang berjuang. Ia memperjuangkan agama Allah. Berjuang menghimpun ilmu. Bahkan, thalabul ilmu menjadi perjuangan terbaik...
  • (86) Semalam saya mengajak satu santri menemani bermotor untuk sebuah kajian rutin. Di perjalanan, (mungkin kesempatan baginya), ada pertanyaan...
  • (370) Ini bukan untuk menuduh, atau menghakimi isi hati. Ini bukan menjudge, apalagi menjatuhkan vonis. Ini pun bukan tentang...
  • Baiknya memang sering-sering membaca kisah kesabaran Nabi Muhammad ﷺ. Ibarat tanaman, kisah-kisah itu adalah airnya. Sementara kita, bagai tanaman...
  • (346) Berbicara tentang kota Madinah, rasanya tak lengkap bila tidak membahas Imam Malik. Satu dari ulama 4 madzhab. Beliau...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca