![]() |
| Nasihat untuk Menghormati dan Menyayangi Ayah |
Dek, mungkin menurut adek, ayahmu kurang ideal. Bukan sosok ayah yang bisa dibanggakan. Bukan figur ayah yang dapat diandalkan. Barangkali ayahmu tidak dapat mewujudkan harapan-harapanmu.
Iya, ayahmu memang terbatas. Ayahmu tidak sempurna. Ayahmu tidak pandai bercerita. Ayahmu tidak selalu menjawab pertanyaanmu. Ayahmu tidak selalu ada waktu untukmu. Ayahmu jarang tersenyum untukmu.
Namun, apakah itu adek jadikan alasan untuk membenci? Kurang menghormati?
Dek, ingatlah bagaimana nabi Ibrahim berbicara dengan ayahnya yang kafir. Ayahnya yang musyrik. Nabi Ibrahim tetap memanggil dengan “yaa Abati” , duhai ayahanda. Nabi Ibrahim berbicara dengan lemah lembut dan penuh cinta. Memilih kata dan merangkai kalimat seindah mungkin. Berbahasa sesopan-sopannya.
Bagaimana denganmu, Dek?
Ijinkan saya memberimu nasehat, Dek. Selagi ayahmu masih sehat. Mumpung ayahmu masih ada. Senangkanlah hatinya. Bahagiakanlah dirinya. Jangan membuatnya kecewa. Jangan bikin dirinya susah.
Kalau ada kesempatan, peluklah ayahmu. Dekap sekuat-kuatnya. Sambil berbisik, ”Terima kasih, ayahku. Kebaikan-kebaikan ayah tak mungkin ananda balas”. Jangan malu dan jangan sungkan untuk melanjutkan, ”Maafkan anakmu yang telah banyak berbuat salah”.
Lakukanlah sebelum ayahmu tiada. Jangan sampai menyesal saat tidak ada lagi tubuh renta dan rapuh yang pantas engkau dekap. Momentum memeluk ayah adalah momentum yang sangat indah. Momentum yang selalu dirindukan. Momentum yang terus terkenang, termasuk saya yang menulis surat ini untukmu, Dek.
Ya Allah, ampunilah aku dan ampunilah ayahku. Curahkanlah rahmat-Mu kepada ayahku sebagaimana beliau telah merawat dan menjagaku sejak kecil.
Ruang tamu Masjid Polres Selayar.
08 Ramadhan 1442 H
