Walau Ditutup-tutupi, Niscaya Diketahui

3 menit baca
Walau Ditutup-tutupi, Niscaya Diketahui
Walau Ditutup-tutupi, Niscaya Diketahui

(64)

Bait syair di atas sangat akrab dan familiar di pesantren. Sejak belajar Nahwu pertama kali, bait syair ini sudah dikenalkan. Misalnya, Syaikh Al Utsaimin. Beliau menyebutkannya saat mensyarah matan Jurumiyah pada bab al jawazim.

Ketika naik level, kitab-kitab Nahwu di atasnya pun menyinggungnya. Ibnu Hisyam dalam syarah Qathrun Nada, contohnya. Beliau menukil bait syair di atas sebagai syahid (bukti), bahwa salah satu tanda isim adalah dhamir (kata ganti/pronomina) yang kembali padanya.

Dalam bahasa Indonesia, bait tersebut kira-kira begini jadinya :

Bagaimanapun perangai pada diri seseorang

Niscaya diketahui, walau ia kira dapat tersembunyi dari orang

Maksudnya?

Syaikh al Utsaimin menjelaskan, “ Perangai apapun bentuknya pada diri seseorang, yang ia miliki, walau ia menyangka orang-orang tidak mengetahuinya, niscaya suatu saat orang-orang akan mengetahuinya”

Jika dicermati, banyak makna kehidupan telah dikenalkan di pesantren sejak kelas dasar. Melalui pelajaran-pelajaran tingkat awal, seorang pemula diajarkan bagaimanakah seharusnya menjalani kehidupan.

Di pelajaran Nahwu, misalnya. Banyak contoh-contoh yang diberikan, bila diperdalam, akan banyak membantu untuk menghadapi realitas kehidupan. Bait syair di atas adalah salah satunya.

Dalam kehidupan pesantren, tidak jarang ditemukan seorang oknum santri yang usil. Ia membuat gaduh. Ia mengadu domba. Ia suka melecehkan teman-temannya. Ia ingin menang sendiri. Ia sok mengatur. Ia yang merencanakan pelanggaran, ia otaknya, ia berada di belakang layar, namun orang lain yang disuruhnya melakukan. Orang lain yang diaturnya untuk berbuat pelanggaran.

Tetapi, di hadapan ustadznya, ia bermanis mulut. Pandai bermain kata. Di depan ustadznya, ia berpura-pura rajin dan serba menurut. Ia perlihatkan sebagai santri yang baik. Bahkan, kepintaran dan kecerdasannya membuat ustadznya merasa senang.

Namun, apakah hal itu akan terus menerus demikian?

وَمَهْمَا تَكُنْ عِنْدَ امْرِئٍ مِنْ خَلِيقَةٍ … وَإِنْ خَالَهَا تَخْفَى عَلَى النَّاسِ تُعْلَمِ

Bagaimanapun perangai pada diri seseorang

Niscaya diketahui, walau ia kira dapat tersembunyi dari orang

Sederhana saja bahwa ; akan tiba saatnya ketika fakta terungkap. Kebenaran tak mungkin digelapkan. Siapa yang salah akan terlihat. Allah Ta’ala selalu bersama orang-orang yang benar.

oooo____oooo

Bait syair di atas adalah karya Zuhair bin Abi Sulma. Satu dari tiga pujangga yang disepakati sebagai yang terbaik di masa jahiliah, selain Imru’ul Qais dan Tharfah bin al ‘Abd. Selain mereka bertiga, ada empat pujangga lain yang syair-syair karya mereka, -menurut riwayat yang mashyur- , ditulis dengan tinta emas dan dipajang di dinding Ka’bah.

Karya ketujuh pujangga itu dinamakan al mu’allaqat as sab’uu. Selain tiga nama yang telah disebutkan, pujangga lainnya adalah Labid bin Rabi’ah, Amr bin Kultsum, ‘Antarah bin Syaddad, dan al Harits bin Hillizah.

Seringkali Zuhair bin Abi Sulma diposisikan sebagai urutan yang ketiga dari mereka bertujuh. Ayahnya seorang pujangga, paman dari jalur ibu seorang pujangga, saudarinya pujangga, dan kedua putra serta seorang putrinya pun pujangga.

Syair-syair karya Zuhair dikenal dengan warna kebaikan. Mengajarkan kejujuran dan kezuhudan. Bait-baitnya bahkan menunjukkan kepercayaannya akan hari kiamat. Karya-karya Zuhair disebut juga al hauliyyat (per tahun), yaitu berkarya selama 4 bulan, diteliti dan diedit selama 4 bulan, lalu diujikan kepada sesama pujangga selama 4 bulan. Setelah genap satu tahun, barulah karyanya dirilis.

Salah satu karya Zuhair yang kemudian dipajang di dinding Ka’bah terdiri dari 62 bait. Adapun syair yang sedang kita bicarakan adalah bait ke-58. Membaca bait-bait karya Zuhair memang menarik dan menyenangkan. Bahkan dalam Tarikh Madinah karya Ibn Syabah, diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab meminta Ibnu Abbas untuk membacakan syair-syair karya Zuhair semalam suntuk.

catatan:

Atas murni kesalahan dari penulis, perlu kami sampaikan bahwa nama yang benar adalah : Zuhair bin Abi Sulma. Bukan Zuhair bin Abi Salma. (Sudah diedit)

Kepada saudara kami fillah yang telah memberi masukan, semoga Allah lipatgandakan pahala Anda.

Baarakallahu fiik

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (87) Mari belajar dari sahabat Abu Hurairah, bagaimana memuliakan dan menghormati seorang Ibu. Adz Dzahabi (Siyar A’lam 2/592-593) meriwayatkan...
  • (125) Dia punya seorang teman. Dia ingin seperti temannya. Suka bederma. Senang berbagi. Apalagi buat agama. Dia hanya bisa...
  • (191) Ini tentang rasa yang tumbuh mekar, berbunga, lalu berbuah cinta. Antara sepasang insan yang dipertemukan, setelah sebelumnya tak...
  • (299) Ketika Jarum Menjadi Linggis Jarum menjadi linggis hanyalah istilah yang menggambarkan bagaimana masalah kecil bisa berubah menjadi besar....
  • (78) Berteman itu, Jangan begitu! Mendengar nama Umar bin Abdul Aziz, tentu terbayang figur khalifah yang adil, bijaksana, dan...
  • (383) Di National Museum Of Egyptian Civilization, ada puluhan mumi raja-raja Mesir Kuno. Namun, kaum ulama menegaskan; tidak ada...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca