Ketika Jarum Menjadi Linggis

3 menit baca
Ketika Jarum Menjadi Linggis
Ketika Jarum Menjadi Linggis

(299)

Ketika Jarum Menjadi Linggis

Jarum menjadi linggis hanyalah istilah yang menggambarkan bagaimana masalah kecil bisa berubah menjadi besar.

Spesifiknya adalah berita biasa saja atau kejadian lumrah, yang bisa menguap dengan sendirinya, langsung dilupakan, justru berkembang liar dengan “bumbu-bumbu” yang tidak membuat sedap.

Jarum menjadi linggis seringkali terkait gosip dan isu mengenai ranah privasi orang lain.

Urusan internal orang dan masalah “dapur” tetangga selalu menjadi bahan baku nya. Bahkan, tentang seseorang yang ia tidak kenal pun tidak lepas menjadi bahan.

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sungguh! Allah membenci 3 perkara untuk kalian; katanya dan katanya, menggunakan harta sia-sia, dan terlalu banyak bertanya ” HR Muslim 593.

Katanya dan katanya yang disebut hadis dengan al qiil wal qaal, menurut Al Utsaimin (Syarah Riyadhus Salihin) adalah sibuk membicarakan orang dan menyampaikan kesana kemari.

Hari-hari adalah membahas si A si B. Waktu demi waktu dilalui selalu dengan obrolan si X si Z.

Walaupun ia sekadar membaca berita di berbagai media atau mengikuti informasi terkini, hukumnya tetap sama. Dilarang! Karena, hanya membuang-buang waktu.

Membicarakan orang berdampak negatif dalam kehidupan. Dari sekian banyak negatifnya, andaikan satu saja dialami, itu sudah cukup mengambil keputusan: stop! Jangan lagi sibuk membicarakan orang!

Andaikan kerugiannya adalah memori dan pikiran malah terseret untuk ikut memikirkan, turut merasakan, itu sudah kerugian besar.

Apalagi bila terseret untuk ikut berbicara dan berpendapat, akan lebih rugi lagi. Kenapa? Apa manfaat untuknya? Bahkan, seringnya jarum menjadi linggis.

Sudah banyak yang menyesal karena ikut-ikutan berbicara. Sebab, beritanya salah, terpotong, tidak utuh, keliru keterangan waktu, atau salah orang dan tempat.

Parahnya, sumber berita sudah melakukan klasifikasi, yang di ujung masih cerita kesana kemari.

An Nawawi (Al Adzkar, 355) menyebutkan riwayat tentang Al Quss bin Sa’idah dan Aktsam bin Shaifi yang pernah berbincang.

” Berapa banyak cela yang ada pada manusia? “

” Terlalu banyak kalau ingin dihitung. Saya saja bisa menemukan delapan ribu cela. Namun, saya menemukan satu cara, andaikan engkau lakukan semua cela itu tertutup “

” Apa itu? “

” Menjaga lisan! “

Benar! Menjaga lisan sangat menenangkan. Tidak ikut-ikutan bicara justru membuat nyaman. Diam adalah mulia. Semakin irit kata, semakin tinggi harga.

Tantangan terberat adalah hawa nafsu. Nafsu meledak-ledak agar ia ikut bicara, turut berpendapat. Hawa nya mempengaruhi agar mau mengambil bagian. Jangan diam!

Tantangan yang tak kalah berat adalah omongan orang. Ada saja yang berkomentar, ” Kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak bicara? Kamu pantas dan kamu berhak bicara “.

Namun, ia timbang-timbang lagi kalau ingin berbicara. Apakah ia mengetahui masalah secara utuh? Apa niatnya berbicara? Apakah jika berbicara akan menyelesaikan masalah?

Ia juga takut dan tak ingin membuat masalah yang kecil sekecil jarum, malah membesar sebesar linggis. Barangsiapa beriman kepada Allah Ta’ala dan hari Akhir, hendaknya berbicara yang baik atau memilih diam saja.

G- 38B

Sabtu 23 November 2024

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca