![]() |
| Persiapan untuk Perjalanan Akhirat: Bekal Ketakwaan |
Keterangan Ibnu Abbas di atas disebutkan Al Bukhari di dalam As Shahih (4/127).
Nah, ayat ini merupakan dasar hukum Islam agar kita berusaha maksimal dalam melakukan persiapan-persiapan untuk keberangkatan umroh ke Tanah Suci.
Sejak saat itu, penduduk Yaman selalu membawa bekal cukup untuk keperluan berhaji. Roti dan bekal kering dicukupi. Pakaian pun dipersiapkan sebagai ganti.
Sahabat Ibnu Umar jika bepergian rombongan, menetapkan satu syarat kepada seluruh anggota, yaitu masing-masing membawa bekal air minum yang cukup.
Ibnu Umar juga mengatakan, ”Kedermawanan seseorang itu bisa juga diukur dengan seberapa baiknya bekal perjalanan yang ia persiapkan”.
Kenapa? Sebab, ia tidak hanya berpikir untuk diri sendiri. Ia pun turut memikirkan kepentingan anggota rombongan lainnya.
Ooooo
Saudaraku…
Ke Mekkah itu tidak jauh. Ke Mekkah bisa dihitung jarak kilometernya, bisa ditentukan durasi perjalanannya, bisa direncanakan agenda detailnya, bisa diperkirakan apa yang akan ditemui, bisa dibayangkan bagaimana dan apa-apanya.
Itupun ke Mekkah dengan harapan dapat pulang dengan selamat kembali di tengah-tengah keluarga.
Saudaraku…
Itu pun kita persiapkan sebaik-baiknya, bukan? Bahkan yang sudah pernah atau berkali-kali ke Tanah Suci pun tetap melakukan persiapan-persiapan.
Lalu, bukankah persiapan-persiapan harus dilakukan lebih baik dan lebih ekstra jika perjalanan yang akan ditempuh itu berkali-kali lipat jauh dan lamanya?
Apalagi perjalanan tersebut penuh dengan kengerian dan kedahsyatan. Lebih-lebih lagi perjalanan itu entah kapan berakhirnya, tidak ada satu pun dari kita yang bisa memastikannya.
Jaraknya tidak bisa dihitung karena jauh. Lamanya tidak dapat diperkirakan. Perjalanan apakah itu?
Perjalanan akhirat!
Ada alam Barzakh. Ketika setiap orang menunggu dalam kuburnya untuk dibangkitkan hidup kembali.
Ada padang Mahsyar saat seluruh manusia dikumpulkan satu. Ada perhitungan amal perbuatan. Ada timbangan untuk menentukan hasil perbuatan. Ada jembatan yang dibentangkan di atas Jahannam dan harus dilewati. Ada pula proses qishas, yakni ketika tiap-tiap kita harus menyelesaikan urusan dengan hak-hak orang lain.
Itu adalah perjalanan yang suangaat panjang. Apa yang sudah dipersiapkan?
Allah berfirman ;
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Dan carilah bekalmu ! Sesungguhnya, sebaik-baik bekal adalah ketakwaan”
Ibnu Katsir -pakar tafsir terkemuka- menyatakan, ”Setelah Allah memerintahkan untuk melakukan persiapan-persiapan guna keperluan perjalanan di dunia, Allah juga menyuruh untuk melakukan persiapan-persiapan guna perjalanan di akhirat, yaitu dengan bertakwa”
Oleh karenanya, Saudaraku… Marilah kita membangkitkan ingatan pada setiap kali melakukan persiapan-persiapan ke Mekkah, bahwa persiapan-persiapan menuju akhirat pun harus dilakukan.
Jika kita ingin mengetahui suhu dan cuaca di Mekkah, agar tepat memilih jenis pakaian yang dipakai, maka kita pun harus tahu bahwa manusia akan dibangkitkan dalam keadaan tidak berpakaian, tanpa alas kaki dan tiada berkhitan.
Jika kita mengetahui bahwa over bagasi akan menyulitkan diri sendiri, maka alangkah berbahagianya seorang hamba yang amat mudah melewati proses hisab sebab ia meninggalkan dunia tanpa memiliki apa-apa. Sebab, seluruhnya ia pergunakan di jalan yang diridhai Allah.
Jika kita mengetahui panas teriknya matahari di Timur Tengah sehingga banyak cara kita tempuh seperti mempersiapkan kacamata hitam, cream kulit atau peneduh kepala, maka betapa senangnya mereka yang tergolong sebagai orang-orang yang memperoleh naungan dari Allah saat matahari didekatkan.
Jika kita hendak meminta maaf kepada orang-orang terdekat sebelum berangkat, maka mintalah maaf dan mohonlah dihalalkan kepada orang-orang yang pernah kita dzalimi sebelum hal itu harus diselesaikan di akhirat.
Jika kita mengetahui bahwa uang sangatlah diperlukan selama di Tanah Suci, entah rupiah, riyal maupun dalam bentuk ATM, maka pada hari kiamat itu semua tidak lagi berguna.
Hanya seorang hamba memiliki hati yang salim, dialah yang selamat.
Pada akhirnya, persiapan-persiapan ke Mekkah mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri ke akhirat. Semoga umroh kita pun termasuk dari persiapan ke akhirat itu sendiri.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Dan carilah bekalmu ! Sesungguhnya, sebaik-baik bekal adalah ketakwaan”
Mekkah, 17 Ramadhan 1443 H/19 April 2022
