Lulusan Pesantren Adalah Calon Manajer Hebat, Bukan Pekerja. ( 1 )

2 menit baca
Lulusan Pesantren Adalah Calon Manajer Hebat, Bukan Pekerja. ( 1 )
Lulusan Pesantren Adalah Calon Manajer Hebat, Bukan Pekerja. ( 1 )

(192)

Ada saja yang mencibir jika seorang anak dimasukkan pesantren. Dicirikanlah secara negatif, bahwa pesantren adalah penampungan anak nakal, kurang berprestasi, dan fakir miskin.

Parahnya, sebagian orang tua terbawa, sampai mengalami kekhawatiran yang akut dan merasa pesimis tentang masa depan anaknya.

Sedihnya, sekian persen anak pesantren mengalami insecure, yaitu semacam ragu, cemas, dan tidak percaya diri sehingga membuatnya merasa tidak aman.

Apa buktinya?

Banyak santri mengalami minder. Ia rendah diri dan berusaha menyembunyikan identitas kesantrian-nya. Ia bandingkan dirinya dengan anak seusia dengannya, lalu berkesimpulan negatif, yaitu dirinya tertinggal, dirinya kurang berharga, dan dirinya tidak mampu berkarya.

Sehingga, tidak sedikit ciri-ciri santri yang ditanggalkan. Cara berpakaiannya, model rambutnya, gaya bicara dan bahasanya, dan bentuk pergaulannya. Tidak PD. Merasa malu.

Sejarah Islam amatlah gemilang memberitakan anak-anak muda luar biasa. Islam tidak pernah kekurangan, apalagi kehabisan teladan.

Usamah bin Zaid adalah panglima muda yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah. Masih 18 tahun sudah memimpin 3000 prajurit yang di dalamnya banyak sahabat senior semacam Umar bin Khatab, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan lain-lain.

Ada juga Sa’id ibnul Ash yang belum genap 30 tahun telah dipercaya menjadi gubernur Kufah. Sebelum itu, sejak muda, beberapa jabatan penting beliau emban dengan baik. Beliau adalah sahabat pertama yang mengorganisasi pasukan untuk menaklukkan Tiberistan.

Jangan lupa Zaid bin Tsabit yang masih muda diminta Rasulullah menjadi sekretaris pribadi. Selain mencatat ayat-ayat yang turun, Zaid juga bertugas mengurus surat-surat keluar dan masuk untuk Rasulullah. Untuk keperluan tugas, dalam hitungan hari, Zaid menguasai bahasa Ibrani dan bahasa asing lainnya.

Itu hanyalah setetes dari arus sejarah anak muda dalam Islam. Sebagai bukti bahwa pendidikan Islam telah membentuk dan melahirkan tokoh-tokoh hebat di usia yang masih belia.

Maka; kenapa pesimis dengan pendidikan Islam? Kenapa kurang percaya diri? Kenapa risau dengan masa depan anak-anak kita?

Wahai Santri, cemas apa yang menggelayut di wajahmu? Gelisah apa yang menjadi mendung di hatimu? Jangan takut esok kerja apa! Jangan resah tentang bekerja! Karena, engkau tidak dididik menjadi pekerja. Engkau dibentuk sebagai manajer hebat!

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan

King Abdullah Expansion, 21 Ramadhan 1444 H/12 April 2023

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca