![]() |
| Di Paling Barat Pulau Jawa |
(227)
Tidak terlalu kaget saat menempuh perjalanan ke Waringin Kurung, Banten. Sebab, banyak pesantren Salaf terletak di area bukit atau gunung.
Pesantren Al Mujaddid Imam Syafi’i yang terletak di Kampung Pedali itu berada di lereng curam perbukitan. Di garis batas Serang dan Cilegon.
Pesantren Salaf di lokasi paling barat Pulau Jawa!
Rasulullah ﷺ bersabda (HR Bukhari 3300 dari Abu Sa’id) :
يوشك أن يكون خير مال المسلم غنم يتبع بها شعاف الجبال ومواقع القطر، يفر بدينه من الفتن
“Sudah dekat saatnya, ketika harta terbaik seorang muslim adalah kambing yang digembalakan di lereng-lereng gunung dan sumber-sumber air. Ia ingin menyelamatkan agama dari macam-macam ujian dengan menjauh (dari keramaian)”
Dimulai dari sebuah musholla kecil ukuran 7 x 4 m yang sederhana.
Berikutnya, karena santri yang terus bertambah, dilebarkanlah ke arah samping musholla.
Kreativ! Dinding musholla terlihat artistik, memanfaatkan material plafon PVC reject. Warna-warni dan beragam motif. “Gratis! Diberi oleh toko bangunan langganan”, terang pengurus.
Saat ini kegiatan belajar mengajar diikuti lebih kurang 60 santri santriwati, asrama dan yang pulang pergi.
Di sana, mereka tekun dan fokus mendalami ilmu agama. Di lokasi istimewa.
Ikhwan-ikhwan Salafy di sana, 80% karyawan pabrik. Iya, Cilegon adalah kota industri. Otomatis banyak dari mereka berstatus sebagai pendatang.
Efek ke pesantren pun nampak terasa. Paling tidak ada 5 titik yang diberi tabung merah APAR (alat pemadam api ringan).
Lokasi pesantren di pelosok, di tengah perbukitan curam, bangunan yang sederhana, fasilitas yang apa adanya, bukanlah alasan untuk tidak bahagia.
Mereka bahagia! Anak-anak itu memiliki sesuatu yang dicari dan diimpikan banyak orang. Ya, mereka benar-benar bahagia!
Khalifah ke-5 dari Bani Umayyah namanya Abdul Malik bin Marwan. Sejak kecil dikenal saleh, rajin ibadah, dan suka membaca Al Qur’an.
Di usia 40 tahun, Abdul Malik menggantikan ayahnya sebagai khalifah, Marwan bin Hakam, yang meninggal dunia.
Selama 20 tahun lebih, Abdul Malik bin Marwan menorehkan banyak prestasi. Empat anak laki-laki nya menjadi khalifah. Seorang putrinya menjadi istri Umar bin Abdul Aziz, khalifah ke-8.
Maka, Abdul Malik bin Marwan adalah profil yang memiliki segala macam unsur duniawi. Harta, keluarga, tahta, kekuasaan, pasukan, anak istri, popularitas, istana, fisik jasmani, dan lain-lainnya.
Apakah beliau bahagia?
Al Hafiz Ibnu Katsir dalam Al Bidayah (12/377) menyebutkan beberapa kejadian sesaat sebelum Abdul Malik wafat.
Abdul Malik meminta gerbang istananya dibuka. Beliau ingin melihat dunia luar. Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang tukang jahit keliling yang sedang memotong pakaian.
” Andai saja aku menjadi tukang jahit keliling. Andai saja aku menjadi tukang jahit keliling “, katanya.
Abdul Malik menyesali dirinya yang menjadi khalifah. Sambil memukul kepalanya sendiri, Abdul Malik mengatakan, ” Saya ingin menjadi orang biasa yang bekerja untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan tiap hari. Sehingga aku bisa lebih fokus untuk taat kepada Allah “
Abdul Malik juga bersyair sedih :
Sumpah, sungguh aku telah diberi umur panjang memegang kekuasaan sekian lama
Dunia tunduk kepadaku, dengan mengarahing pedang dimana-mana
…..
Duhai, andaikan aku tidak menjadi khalifah satu malam saja
Dan aku tidak mencari kesenangan hidup yang katanya membuat bahagia
Andai bisa aku ingin menjadi seorang dengan dua pasang pakaian sederhana
Di atas bighal, hidup sampai berkunjung ke sempit kuburannya
Saudaraku, jangan bersedih! Jangan merasa susah! Asalkan ada iman di hidupmu, ada cinta ilmu di langkahmu, dan ada teman-teman saleh di dekatmu, engkaulah raja yang sesungguhnya.
Bukan orang yang mengaku raja, sementara ia justru tersiksa. Bukan pula yang mengaku-aku sebagai raja, namun tak pernah damai hidupnya.
Sebab, raja yang sesungguhnya adalah ia yang hidup merdeka, bukan yang dibatasi bagaikan dalam penjara.
Cilegon, 17 September 2023
