Dari Siapa Anak Berdusta?

2 menit baca
Dari Siapa Anak Berdusta?
Dari Siapa Anak Berdusta?

(300)

Berbohong seolah tak dapat lepas dari sosok anak. Masih kecil sudah bisa bicara dusta. Ada saja cara memilintir atau mengakali cerita.

Secara kasuistik, anak selalu diposisikan yang salah. Anak dicap pembohong. Label nakal mulai disematkan. Bahkan, status anak jahat distempelkan.

Anak kecil yang berbohong, seakan-akan disamakan persis dengan orang dewasa atau yang sudah tua jika berbohong. Konsekuensi perilaku berbohong tidak dibedakan antara anak kecil dan yang sudah tua.

Padahal, berbohong yang dilakukan anak kecil, apakah memang benar-benar berbohong? Atau ada kemungkinan lain?

Contohnya, daya khayal anak-anak. Mereka seringkali berfantasi ketika bermain. Secara imajiner, seorang anak mulai mampu menyusun rangkaian cerita sederhana.

Seorang anak perempuan bertingkah seolah-olah ibu yang merawat anak. Lengkap dengan alur cerita sederhana.

Seorang anak laki-laki bergaya dengan kostumnya seakan-akan tentara. Lengkap juga dengan alur ceritanya.

Maka, orang tua harus bisa membedakan, kapan anak bercerita lalu dihukumi berbohong dengan kapan anak bercerita namun sedang berfantasi.

Selanjutnya, anak yang berbohong jika dikatakan berbohong, meniru siapa? Belajar dari siapa? Atau anak sudah bisa berbohong dengan sendirinya?

Saat Rasulullah ﷺ bertamu di rumahnya, Abdullah bin Amir bin Rabi’ah yang masih kecil dipanggil ibunya, ” Ha, sini. Saya mau kasih kamu sesuatu “.

Rasulullah ﷺ bertanya, ” Memangnya apa yang ingin engkau berikan kepadanya? “

” Saya ingin memberinya kurma”, jawab ibunya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أما إنك لو لم تعطيه شيئا كتبت عليك كذبة

Ketahuilah, sungguh jika engkau tidak memberinya sesuatu, maka tercatat satu kebohongan atasmu ” HR Abu Dawud 4991

Inilah yang seringkali tidak disadari orang tua. Anak diberi janji, anak dikasih harapan, namun kenyataannya tidak.

Anak menangis supaya berhenti dijanjikan akan diberi ini diberi itu. Anak supaya mau belajar dijanjikan ini dijanjikan itu. Padahal, sejak awal orang tua tidak berkeinginan untuk memberi.

Di situlah anak meniru, dan di situlah anak mulai mengenal bohong.

Karena pendidikan anak sangat penting, Rasulullah ﷺ tidak melewatkan kesempatan untuk mengingatkan ibu Abdullah bin Amir bahwa hati-hati jangan sampai berbohong.

Sebab, seorang anak hanya meniru, hanya mengikuti saja. Maka, tanamkanlah kejujuran kepada anak. Bukan sebatas dengan kata-kata, namun yang terpenting adalah dengan sikap nyata.

Kemudian, jangan sampai ajaran kejujuran diruntuhkan dengan sikap berbohong. Jangan berbohong kepada anak!

Selasa, 26 November 2024

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (209) Tidak mudah untuk memahami anak-anak berlatarbelakang broken home. Pendekatan yang dilakukan harus ekstra sabar dan bermodal nafas panjang....
  • (216) Catatan Selembar Tentang Si Kembar Ada yang unik di Pesantren Darul Hadits An Najiyah Setu Bekasi. 5 pasang...
  • (217) Bijak Pengadil Untuk Anak Usil Dunia anak memang luas. Selalu saja ada tema baru. Tak ada habisnya. Perhatian...
  • (288) Seorang ayah, setelah anaknya berusia remaja, mengatakan, ” Penyesalan besar dalam hidup saya adalah sering meninggalkan anak. Akibatnya,...
  • Paling tidak artikel kecil ini adalah bukti keprihatinan dan masih adanya kesadaran bahwa tanggungjawab pendidikan anak adalah kewajiban bersama....
  • (244) Tidak sesingkat itu! Seorang anak tertangkap memegang sesuatu yang bukan miliknya lalu divonis mencuri, diberi hukuman, lalu selesai?...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca