![]() |
| Putus Asa Remaja di Lumbung Cita-cita |
(305)
Putus Asa Remaja di Lumbung Cita-cita
Putus asa artinya putus atau hilang harapan.
Remaja adalah fase transisi antara masa kanak-kanak menuju dewasa. Berapa usianya? Banyak pendapat.
Pesantren adalah lumbung cita-cita. Sebuah tempat untuk membentuk pribadi berkarakter dengan harapan-harapan indah.
Praktiknya; ada sekian remaja (tidak semuanya) yang karena satu dan lain sebab, mengalami putus asa. Baginya, jalan ke depan telah buntu. Harapan tentang masa depan menjadi suram.
Padahal, menurutnya, pesantren yang telah tertanam sejak kecil di hatinya adalah tempat mengasah diri dan menggembleng jiwa agar bisa bahagia.
Sebut saja Fulan! Perwakilan dari remaja-remaja putus asa. Dikarenakan satu dan lain alasan melakukan pelanggaran aturan. Secara hukum agama terlarang.
Seharusnya Fulan memang ditegur, dinasihati, bahkan bila perlu diberi sanksi. Namun, mohon bersikaplah bijak! Jangan berlebihan! Sesuai kadar dan porsinya.
Apa contoh sikap berlebihan? Dipermalukan di depan umum. Diceritakan kesana kemari, bahkan disebarluaskan. Dicap dan dilabeli nakal. Seolah-olah tidak ada pintu taubat. Seakan-akan tidak ada maaf.
Ibrahim An Nakha’i (Syuabul Iman, 6353) berkata, ” Sungguh, aku mengetahui ada sesuatu yang aku benci, namun tidak ada yang menghalangiku berbicara kecuali karena takut aku mengalami hal yang sama “
Seorang ahli hikmah berpesan, ” Jangan engkau mencela saudaramu karena kesalahan yang ia lakukan. Takutnya, Allah memberinya penyesalan sementara dirimu justru terjatuh dalam kesalahan yang sama dengan yang ia lakukan” ( At Tamtsil, hal. 433)
Saya sangat terkesan dengan petuah bijak seorang guru, ” Andaikan kita hidup di zaman ini sebagai remaja, belum tentu kita bisa lebih baik dari remaja-remaja putus asa itu. Andaikan mereka sezaman dengan kita dahulu, bisa jadi mereka akan lebih baik “.
Benar, Ustadz! Saya sepakat dengan Ustadz.
Sekadar membandingkan antara effort atau perjuangan yang dilakukan di zaman remaja kita dengan perjuangan remaja zaman sekarang, tidaklah adil! Sebab, harus dibandingkan juga hambatan dan godaan di zaman sekarang dengan zaman dahulu.
Contoh sederhana; kemudahan teknologi dan media. Tak terbayang, andaikan HP beserta aplikasi dan konten-kontennya sudah ada di zaman dahulu, apakah kita mampu bertahan? Apakah kita bisa bersabar? Allah Ta’ala lah semata yang kita harapkan memberi hidayah.
Justru, saya pribadi sangat minder ketika berkunjung ke berbagai pesantren. Saya benar-benar minder dengan santri-santri remaja yang meraih pencapaian akademik dan hifzul Qur’an luar biasa. Padahal, godaan syubhat dan rayuan syahwat sangatlah menakutkan. ” Seumuran mereka, saya dahulu bukan apa-apa “, di dalam hati. Hanya kepada Allah Ta’ala kita berharap taufik.
Obrolan ringan sudah banyak saya tempuh. Remaja-remaja putus asa itu bukannya membenci pesantren. Bukan! Namun, mereka mengaku terbebani target dari orang tua yang melampaui batas maksimal kemampuannya.
Juga dikarenakan tuntutan untuk berkemampuan yang sama dengan santri-santri lain yang lebih berprestasi. Padahal berbeda.
Remaja-remaja putus asa itu menghadapi persoalan kompleks. Mereka berharap ada yang hadir membersamai, mendengar uneg-uneg, dan memberi solusi.
Kalaupun salah, jangan direndahkan! Jangan dihina-hina. Namun, bantulah menemukan jalan keluar.
Kata Ibnul Qayyim, ” Sungguh, sikapmu yang merendahkan saudaramu karena dosa yang ia perbuat, justru dosanya lebih besar daripada dosa yang saudaramu perbuat “ ( Madarijus Salikin, 1/177)
Semoga Allah Ta’ala melimpahkan hidayah dan jalan cerah untuk kita semua, hingga ke Al Jannah. Aamiiiin, yaa Rabb.
Berau, 26 Desember 2024
