Guru Ideal : Bagai Mencari Jarum di Tumpukan Jerami?

3 menit baca
Guru Ideal : Bagai Mencari Jarum di Tumpukan Jerami?
Guru Ideal : Bagai Mencari Jarum di Tumpukan Jerami?

(319)

Belajar berbeda dengan mengajar. Maka, sehebat apapun seorang pelajar, belum tentu mampu menjadi pengajar yang baik. Murid yang berprestasi, bukan jaminan akan menjadi guru yang ideal.

Guru tidak hanya bertugas di ruang kelas yang sempit. Guru tak sebatas membacakan materi pelajaran lalu mengajukan pertanyaan untuk dijawab murid-muridnya.

Guru ideal adalah figur yang membersamai muridnya, di dalam dan di luar kelas, agar bisa menggali dan mengembangkan potensinya. Ia harus memahami teknik mengajar yang menyenangkan, juga interaktif.

Komunikasi tidak satu arah dari guru saja. Murid dibantu untuk mampu berkomunikasi dengan baik, beradab, dan sopan. Nah, itulah tugas guru yang ideal.

Guru ideal tentu berusaha memahami tiap individu muridnya. Tidak dipukul rata. Tidak dihitung panjang.

Setiap murid pasti berbeda-beda; latar belakang keluarganya, ekonomi, kecerdasan, minat dan bakat, kemampuan bersosial, fisik, cara berkomunikasi, dan masih banyak hal lain yang tentu tidak bisa disamakan.

Nah, guru ideal adalah guru yang mau dan mampu membantu muridnya dalam menghadapi masalah dan kesulitannya dalam belajar.

Al Imam Muslim (537) meriwayatkan kisah sahabat Muawiyah bin Al Hakam As Sulami.

Muawiyah berasal dari kabilah Bani Sulaim. Sebuah kabilah induk yang menempati kawasan antara Mekkah dan Madinah.

Muawiyah ibnul Hakam masuk Islam belakangan lalu memutuskan untuk pindah dan tinggal di kota Madinah. Beliau tercatat sebagai Ahlus Shuffah yang tinggal di teras Masjid Nabawi.

Karena baru masuk Islam, Muawiyah masih belum banyak mempelajari syariat Islam. Ada satu kejadian yang menunjukkan hal itu.

Di sebuah salat di Masjid Nabawi, orang di samping Muawiyah bersin. Ia pun mendoakan, “Yarhamukallah“. Artinya; semoga Allah merahmatimu.

Hal itu membuat orang-orang melihat ke arah Muawiyah. “Waduh, celaka Ibuku. Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian memandang saya seperti itu?”, tanya Muawiyah.

Orang-orang malah memukul-mukul paha mereka dengan tangan, seperti mengisyaratkan agar Muawiyah diam.

Setelah selesai salat, Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa di dalam salat, tidak boleh berbicara. Salat itu isinya tasbih, takbir, dan bacaan Al Qur’an.

Kata Muawiyah:

فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ

” Ayah Ibuku menjadi tebusan. Saya tidak pernah menyaksikan seorang guru, baik sebelum maupun sesudah kejadian itu, yang lebih indah cara mengajarnya dibandingkan Rasulullah”

فَوَاللَّهِ، مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي

Demi Allah! Rasulullah tidak membentak saya, tidak memukul saya, dan tidak mencela saya

Subhanallah! Salawat dan salam tercurahkan selalu untuk kekasih dan baginda agung Rasulullah ﷺ.

Hakikat guru ideal itu bukan yang pilih-pilih murid pintar dan rajin. Guru ideal adalah figur yang memotivasi murid dari yang bodoh menjadi pintar, dari malas menjadi rajin, dari tidak beradab menjadi santun, dari yang susah diatur menjadi murid yang tertib.

Guru ideal adalah figur yang penyabar. Bukan sedikit-sedikit membentak, bukan sebentar-sebentar mencela dan merendahkan muridnya.

Guru ideal harusnya berdada lapang. Tidak main pukul, apalagi sampai menyakiti fisik muridnya. Tidak mempermalukan muridnya di depan umum, apalagi sampai membunuh karakternya.

An Nawawi berkata, “Hadis ini mengajak kita untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam bersikap lemah lembut kepada orang jahil, mengajarkan ilmu dengan metode menyenangkan dan penuh kasih sayang, serta membantunya agar mudah memahami yang benar

Sederhananya, guru ideal adalah guru yang tidak berhenti untuk belajar tentang bagaimana cara mengajar yang baik.

Maka, jika ada muridnya bodoh, nakal, susah diatur, atau kesulitan dalam memahami pelajaran, ia akan berani dan jujur untuk introspeksi diri, ” Sudahkah saya menjadi figur guru yang ideal?”

Masjid Nabawi, lokasi sahabat Muawiyah ibnul Hakam menjadi saksi. 05 Ramadhan 1446/05 Maret 2025

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (220) وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ ” Kehidupan dunia itu, tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “ Ayat...
  • (Seri Ibnul Qayyim – 10) ” Syahwat-syahwat duniawi jika menempati hati, mirip syahwat makanan di lambung. Ketika mati, hamba...
  • (266) Harta hanyalah titipan. Sifatnya sementara. Sewaktu-waktu, harta bisa berpindah kepemilikan, habis, hilang, atau ditinggal mati. Apa yang kita...
  • (138) Jangan Mengulangi Kesalahan Yang Sama Anak-anak kita mesti sering diberi pemahaman tentang realita kehidupan yang pasti akan dihadapi....
  • Pintu halal ada di mana-mana dan selalu terbuka. Kenapa bingung? Jangan lupa berdoa! Nabi Muhammad mengajak kita berdoa kepada...
  • Jika mentertawakan orang, kelak ia pun akan ditertawakan karena hal yang sama. Bila mempermalukan saudaranya, ada saatnya ia akan...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca