![]() |
| Andai Aku Tidak Jadi Raja |
(352)
Sudah lumayan lama saya mendengar ungkapan, “Andaikan aku tidak jadi raja, tentu aku sudah menjadi seorang guru “.
Malam itu saya menyusuri trotoar jalan ke arah kampus lama Ummul Qura di Aziziyah Mekkah.
Di sepanjang dinding pagar SMA Abdul Aziz untuk putra, yang saya lewati, ada gambar dan nukilan ucapan para raja Arab Saudi. Mulai dari Raja Abdul Aziz, Saud, Faisal, Khalid, Fahd, Abdullah, hingga raja yang sekarang; Raja Salman.
Semua tulisan dari masing-masing raja terkait pentingnya aspek pendidikan. Di dinding SMA itulah, saya membaca ucapan Raja Faisal :
“ Andaikan aku tidak jadi raja, tentu aku sudah menjadi seorang guru”
Raja Faisal naik tahta menggantikan saudaranya, Raja Saud, pada tanggal 22 November 1964. 15 tahun berikutnya, Raja Faisal wafat karena dibunuh keponakannya sendiri pada tanggal 25 Maret 1975.
Sebelum naik tahta, Raja Faisal telah ditetapkan sebagai Putra mahkota sejak 09 November 1953. Beberapa jabatan telah diemban sebelumnya, seperti Menteri Urusan Luar Negeri dan Perdana Menteri.
Raja Faisal dikenal sebagai tokoh muslim yang menentang keras zionisme. Beliau sering menyatakan dukungan terhadap Palestina secara lantang di berbagai forum internasional. Bahkan, Beliau terlibat dalam perang melawan Israel di Perang Arab Israel Pertama dan Perang Enam Hari.
Raja Faisal sangat memperhatikan pengurusan 2 kota suci Mekkah Madinah. Selama menjadi raja, Beliau aktif menguatkan aspek ekonomi, sektor pertanian, membangun banyak irigasi dan bendungan, jalan-jalan raya, fasilitas kesehatan, dan meningkatkan kemampuan militer.
Sebagai raja, bahkan sejak sebelumnya, Raja Faisal dikenal berintegritas, rendah hati, kemurahan hati, kebijaksanaan, tidak suka koleksi barang mewah, suka menulis, membaca, bersyair, dan selalu berpakaian sederhana walaupun di forum resmi.
Pendidikan memang selalu menjadi prioritas Raja Faisal. Hal ini tidak perlu diherankan, sebab ibu Beliau adalah keturunan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab; seorang ulama besar yang terkenal dan terkemuka .
Raja Faisal menyelenggarakan program buku-buku gratis, sekolah bebas biaya, memerintahkan pendirian Universitas Islam Muhammad bin Saud di Riyadh, Universitas Abdul Aziz di Jeddah, dan Universitas Raja Faisal di Al Ahsa. Bahkan, sekolah putri resmi pertama di Arab Saudi, diawasi istrinya dan dinamakan Darul Hanan di tahun 1960 ketika masih menjadi putra Mahkota.
“ Andaikan aku tidak jadi raja, tentu aku sudah menjadi seorang guru”.
Pernyataan ini bukanlah pernyataan biasa. Sebab, yang menyatakan adalah seorang raja yang memiliki kuasa dan pengaruh besar.
Ketika tidak sedikit orang berandai-andai menjadi raja, karena katanya mau apa saja bisa. Hanya dengan satu dua kata atau tunjuk sini atau sana, semuanya ada. Bayangannya raja punya banyak uang dan harta berlimpah. Dilayani bawahan dan orang suruhan. Dikelilingi dan dielu-elukan. Hidup di dalam istana. Banyak yang berkhayal dirinya menjadi raja.
Sangat berbeda dengan Faisal bin Abdul Aziz, raja Arab Saudi ke- 3. Beliau sudah punya istana, harta, kuasa, dan semua yang dikhayalkan banyak orang. Beliau justru berandai-andai untuk tidak menjadi raja. Beliau ingin menjadi guru. Karena, guru adalah martabat yang mulia. Lebih-lebih lagi guru agama, guru Al Qur’an, guru bahasa Arab, guru fiqih, guru hadis, guru akhlak dan adab.
Sayang, yang sudah Allah berikan nikmat menjadi guru di pesantren, atau berpotensi menjadi guru di pesantren, malah melewatkan dan meninggalkan kesempatan emas. Kesempatan menjadi seorang guru agama!
4 Jumadal Ula 1447 H/26 Oktober 2025
