Meniti Rendah Hati

3 menit baca
Meniti Rendah Hati
Meniti Rendah Hati

(174)

Meniti Rendah Hati

Ada nasihat bagus dari Al Muzani.

Al Muzani di sini, bukan murid Imam Syafi’i yang bernama Ismail bin Yahya. Al Muzani yang dimaksud adalah Bakr bin Abdillah, yang jauh lebih tua karena wafat tahun 108 H. Sementara, Al Muzani murid Asy Syafi’i lahir tahun 175 H. Sama-sama Al Muzani, namun beda orang.

Al Muzani menerangkan tips, petunjuk ringkas, agar bisa meniti sikap rendah hati. Tips itu disebutkan Ibnul Jauzi dalam kitab Shifatus Shofwah 2/146.

Pertama : Berpikirlah bahwa orang yang lebih tua, jauh lebih baik darimu. Alasannya? Karena, orang itu lebih dahulu beriman dan beramal saleh.

Kedua : Kepada yang lebih muda, pun nilailah dia lebih baik dari dirimu. Kenapa? Sebab, engkau yang lebih tua, tentu lebih dahulu mengenal dosa dan maksiat.

Ketiga : Jika teman-temanmu menghormati dan memuliakan dirimu, yakinlah bahwa hal itu terjadi karena mereka memang orang-orang yang baik.

Keempat : Apabila engkau merasakan sikap kurang baik dari orang lain, dijauhi, dan dihindari, maka sadarlah bahwa hal itu karena dosa yang engkau perbuat.

Inti dari empat tips di atas, Al Muzani hendak mengingatkan kita bahwa setiap orang hendaknya memiliki sikap rendah hati. Jangan sombong dan menganggap diri lebih tinggi. Jangan memandang orang lain levelnya ada di bawahmu.

Rendah hati, atau bisa dikata tawaduk, menurut Yusuf bin Asbath ialah, ” Tidaklah engkau berjumpa orang lain, kecuali engkau menilai dia memiliki kelebihan dibandingkan dirimu” (Siyar A’lam, 9/170)

Al Hasan Al Bashri ( At Tawaduk, hal.152 ) berkata senada, ” Ketika engkau keluar rumah, tidaklah bertemu dengan seorang muslim, melainkan engkau menilai dia lebih baik darimu “

Selain pesan Al Muzani di atas, ada riwayat Ka’ab Al Ahbar tentang hikmah Luqman Al Hakim yang disebutkan Al Ashbahani dalam kitab Hilyatul Auliya’.

Hikmah dimaksud juga menerangkan tentang sisi tawaduk hamba.

” Jadilah orang yang diam namun cerdas. Jangan suka berbicara padahal jahil. Sungguh, liur yang mengalir hingga dadamu, sementara engkau menahan lisan dari berbicara yang tidak memberi manfaat, itu lebih indah dan lebih baik, daripada engkau duduk menghadap banyak orang lalu berbicara tentang hal yang tidak mendatangkan manfaat untukmu “

Itulah sikap tawaduk! Selalu menahan diri sehingga tidak tampil dan tidak ikut-ikutan muncul.

Berbeda dengan sombong yang menunjukkan sikap lupa diri hingga seakan tak mampu mengekang keinginan. Seolah tak mau kalah bicara. Tak ingin ketinggalan. Tak rela bila hanya diam saja.

Coba renungkanlah nasihat Ibnu Hazm berikut ini!

” Betapa elok nya bersikap diam, saat menghadapi problem-problem sensitif. Sudah sering kita saksikan, banyak orang hancur karena ikut berbicara. Namun, berdasarkan berita yang kita ketahui, tidak pernah kita melihat ada orang yang hancur karena memilih diam ” ( Ar Rasail 1/402)

Ringkasnya, ucapan Ibunda Aisyah sangatlah mengena :

إِنَّكُمْ لَتَغْفُلُونَ عَنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ التَّوَاضُع

Sungguh! Selama ini, kalian lalai untuk mengerjakan ibadah paling afdhal, yaitu tawaduk ” ( At Tawaduk, Ibnu Abi Dunya hal.107 )

Kulonprogo, 12 Jumadal Akhir 1444 H/05 Januari 2023

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (141) Dari ruang nahkoda, informasi disampaikan bahwa KM Tidar yang kami naiki hanya bersandar 1 jam di pelabuhan Namlea,...
  • (163) Orang itu menangis. Air matanya ibarat kaca bening yang mencair. Mengaliri gurat-gurat kedua pipinya. Basah. Sudah banyak kali...
  • RENUNGAN Al Imam Abu Hazim berpesan, ” Ada dua hal, jika engkau jalankan, kebaikan dunia akhirat niscaya engkau peroleh”...
  • (63) Ringkas saja, bahwa karakter seorang pemimpin yang baik memang tidak sesederhana yang dimaukan. Sebab, seni memimpin sangatlah kompleks,...
  • ” He, engkau yang berharap pintu-pintu rezeki terbuka tanpa kunci takwa! Kok bisa, jalan penuh dosa engkau buat lapang,...
  • (44) Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Miftah Daris Sa’adah”, mengutip sepotong bait syair karya al Mutanabbi. Siapakah al Mutanabbi? Dalam...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca