![]() |
| Bersabarlah dan Berinteraksilah! (3) |
(378)
Berinteraksi identik dengan komunikasi. Jika baik cara berkomunikasi, akan baik-baik saja kehidupan. Hampir semua masalah, disebabkan cara komunikasi yang buruk.
Komunikasi yang baik mencakup pilihan kata, intonasi suara, gestur tubuh, model berbahasa, hingga waktu dan tempat yang tepat.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS Al Isra’: 53)
Al Qurthubi menafsirkan, ” Wahai Rasul yang mulia, sampaikanlah kepada kaum mukminin di saat berbicara dengan orang lain, agar mereka memilih kata yang terbaik dan bahasa yang paling lembut dan sopan. Sebab, kata yang baik akan menguatkan cinta di antara kaum mukminin dan menghilangkan kebencian di antara mereka, bahkan terhadap musuh mereka “
Problematika di komunitas Ahlus Sunnah cukup beragam, sebagaimana disebutkan dalam tulisan sebelum ini. Lantas, apa kendalanya? Ego. Sudut pandang sempit. Subyektif.
Masing-masing berprinsip, ” Dia yang salah. Saya benar”, “Dia yang duluan”, “Saya lebih tua. Harusnya dia yang minta maaf”, Dia lebih tua harusnya memberi contoh”, ” Saya yang dirugikan”, atau, “Kok saya? Kenapa bukan dia yang memulai?”, ” Sudah keterlaluan”, atau alasan-alasan senada.
Jika begitu prinsipnya, akankah problem dapat diselesaikan dengan baik?
Padahal Rasulullah bersabda;
” Seorang muslim tidak halal mendiamkan saudaranya lebih 3 hari. Mereka berdua berpapasan, namun yang ini mengindar, yang sana menghindar. Sebaik-baik mereka adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam ” HR Bukhari 6237 Muslim 2560
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan keburukan. Tolaklah (keburukan itu) dengan cara yang paling baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS Fussilat: 34)
As Sa’di menafsirkan, ” Jika ada orang bersikap buruk kepadamu, apalagi dia mempunyai hak besar atasmu, seperti kerabat dan sahabat, atau yang semisal, entah ucapannya buruk atau perbuatannya yang buruk, maka balaslah dengan bersikap baik kepadanya. Jika dia memutus hubungan, maka engkaulah yang menyambung. Jika dia menzalimi, maka maafkanlah dia. Jika dia berbicara tentangmu dengan jelek, di belakangmu atau di hadapanmu, maka jangan balas dengan hal yang serupa, namun maafkanlah dia dan sikapilah dengan bahasa yang lembut”
As Sa’di melanjutkan, “Jika dia mendiamkanmu, tidak mau berbicara denganmu, maka tetaplah berbicara dengan santun kepadanya, ucapkan salam untuknya. Jika engkau membalas sikap buruknya dengan sikap baik, niscaya sangat bermanfaat (yaitu ia akan menjadi teman setia)”
Membahas hal ini, jangan sampai tunjuk sana tunjuk sini, akhirnya lupa diri sendiri. Tidak perlu menuntut pihak lain, namun mulailah dari diri sendiri. Jika yang lain belum memulai, jangan jadikan alasan untuk ikut-ikutan tidak memulai. Ingat, sebaik-baik orang adalah yang menginisiatif kebaikan.
Secara teknis pun mudah. Banyak cara dan pilihan. Misalnya; saling berucap salam dan berbagi makanan.
Ada yang bertanya kepada Rasulullah tentang amalan terbaik, Beliau menjawab;
” Engkau berbagi makanan dan berucap salam, baik kepada yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal” HR Al Bukhari 12 Muslim 39
Andai saja 2 sunnah Nabi ini benar-benar hidup di komunitas-komunitas Ahlus Sunnah. Namun….
22 Syawwal 1447 H/10 April 2026
anakmudadansalaf.id
