Penaklukan Mesir : Panggung Keindahan Islam

3 menit baca
Penaklukan Mesir : Panggung Keindahan Islam
Penaklukan Mesir : Panggung Keindahan Islam

(379)

Penaklukan Mesir: Panggung Keindahan Islam

Mesir terletak di bagian timur laut benua Afrika. Secara luasan, Mesir telah mengalami gelombang perubahan dan arus pergeseran. Mesir zaman dahulu membentang ke barat hingga ke Libya, ke selatan arah Sudan, hingga ke Yordania, di sebelah timurnya.

Bertahun-tahun sebelum wafatnya, Rasulullah ﷺ telah memberitakan;

إِنَّكم ستفتحونَ مصر ، وهِيَ أرضٌ يُسَمَّى فيها القيراطُ ، فإذا فتحتُموها ، فاستَوْصُوا بأَهْلِها خيرًا ، فإِنَّ لهم ذمَّةً و رَحِمًا

” Sungguh, kalian akan menaklukan Mesir. Sebuah negeri yang terbiasa menggunakan kata ; Al Qiirath. Jika kalian telah menaklukannya, maka bersikaplah yang baik kepada penduduknya. Karena, sesungguhnya mereka memiliki hak perlindungan dan hubungan rahim ” HR Muslim 2543 dari sahabat Abu Dzar Al Ghifari.

Dalam riwayat Muslim yang lain, ” Hak periparan”.

Hubungan rahim, karena Hajar istri nabi Ibrahim berasal dari Mesir. Sementara Nabi Muhammad ﷺ adalah keturunan Beliau.

Adapun periparan, karena salah satu istri Beliau yaitu Mariyah Al Qibthiyah juga dari Mesir.

Beberapa literatur seperti Tarikh At Thabari dan Al Bidayah wan Nihayah, menyebut Mesir ditaklukan kaum muslimin pada tahun 20 H.

Di bawah pimpinan sahabat ‘Amr bin Al ‘Ash, pasukan Islam yang sebelumnya telah menaklukan negeri-negeri Syam, termasuk Baitul Maqdis, bergerak menyusuri jalur pantai hingga tiba di Mesir.

Kecuali kota Iskandariyah yang dikuasai melalui proses pertempuran, sejumlah ulama sejarah menyatakan bahwa Mesir ditaklukan dengan cara damai. Apa sebabnya? Keindahan Islam.

Mesir yang subur, Mesir yang menghasilkan produk-produk pangan dan buah-buahan, Mesir yang kaya, telah silih berganti menjadi jajahan banyak pihak. Di masa awal Islam, Mesir menjadi bagian dari kerajaan Byzantium (Romawi Timur) dengan Konstantinopel sebagai ibukotanya.

Mesir di masa itu tertindas, penduduknya diperbudak, dipaksa membayar pajak dan upeti yang mencekik, dan tidak diperlakukan secara manusiawi. Walaupun secara agama sama-sama memeluk nasrani, penduduk Mesir dianggap pemberontak dan pengkhianat oleh Konstantinopel karena perbedaan prinsip keyakinan.

Berita kaum muslimin yang berakhlak baik, memperlakukan wilayah yang dikuasai dengan manusiawi, dan keadilan yang ditegakkan, sampai juga ke penduduk Mesir. Utamanya, memperlakukan kaum nasrani dengan baik saat Baitul Maqdis ditaklukan.

Ketika kaum muslimin menuju Mesir, maka para penduduknya pun berharap agar kaum muslimin yang menjadi pemenang, sehingga menggantikan pengaruh Romawi Timur.

Detil peperangan Mesir, kaum muslimin sejatinya menghadapi pasukan Romawi. Penduduk Mesir justru membantu kaum muslimin secara diam-diam.

Sesuai pesan Nabi ﷺ, ‘Amr bin Al ‘Ash membuat banyak kebijakan untuk penduduk Mesir yang menjadi angin segar dan kelegaan untuk penduduk Mesir.

Antara lain, ” Berikut ini jaminan dari ‘Amr bin Al ‘Ash untuk penduduk Mesir; yaitu jaminan keamanan atas jiwa mereka, agama, harta, gereja, dan salib mereka. Di daratan maupun di lautan “.

Penduduk Mesir yang mayoritasnya nasrani tidak dipaksa untuk memeluk Islam. Mereka diberi pilihan antara masuk Islam lalu berlaku hak dan kewajiban muslim, atau tetap nasrani dengan setiap tahun membayar jizyah yang nilainya sangat lebih ringan dibandingkan pajak di masa Romawi.

Menyaksikan sikap baik, kejujuran, keadilan, persamaan derajat antara kaya miskin – pejabat rakyat, dan keindahan praktik ibadah umat Islam, maka banyak penduduk Mesir yang dengan rela hati memeluk agama Islam.

Menurut Syaikh Rabi’ (Marhaban, 86), dakwah Islam tersebar luas dan merata di zaman Rasulullah ﷺ dan di masa para sahabat, karena metode yang dipilih adalah metode berakhlak baik.

Beliau menegaskan, ” Akhlak-akhlak luhur semacam inilah yang dilihat oleh orang-orang sehingga berbagai bangsa menerima dakwah dengan sepenuh hati, dengan pendengaran, dan dengan penglihatan mereka, mereka menerima petunjuk dan cahaya yang dibawa oleh para sahabat Rasulullah ﷺ”

28 Syawwal 1447 H

anakmudadansalaf.id

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca