Pelajaran dari Kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun: Hati-hati dengan Sifat Sombong

3 menit baca
Pelajaran dari Kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun: Hati-hati dengan Sifat Sombong
Pelajaran dari Kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun: Hati-hati dengan Sifat Sombong

Ayat-ayat di atas mengajak kita untuk berpikir. Mendorong kita agar bercermin dengan yang sudah-sudah. Juga menyentak kita supaya mau sadar. Bahwa umat-umat terdahulu yang luar biasa itu, akhirnya pun hancur binasa. Tak punya daya. Apalagi kita?

Tahukah engkau, Dek? Siapakah kaum ‘Ad?

Kaum yang tinggal menetap di Lembah Iram. Rumah mereka adalah bangunan-bangunan yang tinggi menjulang. Istana-istana megah mereka buat. Benteng-benteng kokoh mereka dirikan. Negeri mereka subur. Ada mata air yang terus mengalir. Kebun-kebun yang menghasilkan berlimpah. Hewan ternak yang banyak. Secara fisik, kaum ‘Ad adalah orang-orang berperawakan dan bertubuh kuat.

Akhirnya? Kaum ‘Ad dihancurkan oleh Allah.

Tahukah engkau, Dek? Siapakah kaum Tsamud?

Ukiran dan pahatan karya kaum Tsamud masih ada yang tersisa di gunung-gunung batu semenanjung Arab bagian tengah. Sebanyak 26 kali, kaum Tsamud disebutkan dalam al Quran. Secara masa, kaum Tsamud hidup setelah kehancuran kaum ‘Ad.

Kaum Tsamud memang terkenal memahat gunung dan mengukir bukit untuk dijadikan rumah. Sumber mata air dan perkebunan juga terbilang maju.

Kaum Tsamud pun hancur dalam sekejap.

Mengenai Fir’aun, kita sudah sering mendengar. Raja lalim dan zalim. Manusia yang tidak tahu diri karena memposisikan dirinya sebagai rabb ; penguasa sekalian alam. Saat itu kekuasaanya sulit ditentukan batasnya. Sangat luas. Tentara-tentaranya banyak dan kuat. Tak ada yang berani menentang. Namun, akhirnya Fir’aun pun ditenggelamkan di tengah laut. Tinggal cerita. Walau jasadnya tetap tersisa untuk menjadi pengingat buat kita semua.

Dek, semua cerita di atas bukan sekadar untuk dibaca, bukan? Tidak hanya diperdengarkan saat membaca surat al Fajr, bukan?

Semua cerita al Quran di atas untuk kita jadikan ibrah. Pelajaran hidup!

Manusia tidak boleh sombong. Manusia tidak pantas takabbur. Manusia jangan sampai lupa diri.

Setiap nikmat yang Allah beri, mesti disyukuri. Setiap karunia yang Allah limpahkan, harus menambah ketawadhuan. Setiap kali Allah curahkan kesenangan, buatlah dirimu semakin melihat ke bawah. Menunduk bukan membusungkan dada.

Kenapa kaum ‘Ad dihancurkan? Mengapa kaum Tsamud dibinasakan? Kenapa Fir’aun ditenggelamkan?

Sombong. Itulah sebabnya.

Tahukah engkau, Dek? Apa arti sombong itu?

Nabi Muhammad menjelaskan dalam sebuah hadits :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”

Hati-hati, Dek! Hati-hati dari sifat sombong.

Pada saat engkau sudah merasa di atas, merasa yang lain ada di bawahmu, maka hati-hatilah! Ketika engkau merasa lebih berilmu, merasa lebih berpengalaman, merasa lebih kaya, merasa lebih bisa, merasa lebih sukses, merasa lebih maju, merasa lebih hebat, sementara yang lain tidak, yang lain tidak bisa menyamaimu, yang lain susah mengejarmu, maka hati-hatilah !

Sebab, ketika kondisi seperti itu, pembawaan manusia itu cepat lupa diri. Mudah terbius oleh keberhasilan dan kesuksesan. Gampang mabuk dengan pencapaian-pencapaian. Waktu itu, ia sulit menerima masukan. Berat mengakui kesalahan. Kebenaran ia tolak. Orang lain direndahkan. Sombong!

Jika demikian, tinggal menunggu kehancuran itu kapan? Wal ‘iyaadzu billah.

Di Lendah 27 Des 2020

Sebagai bahan kajian streaming Radio Islam Samarinda

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca