![]() |
| Hukum Janji Nikah dan Renungan Cinta dalam Bingkai Syariat |
Geeerrrrr…ada tawa secara koor yang tak dapat ditahan ketika saya membacakan pertanyaan itu.
Sebenarnya gundah gulana yang dirasakan oleh mereka yang ingin dan sedang serius mengaji, sementara mereka masih berjiwa muda adalah bersumber dari ikhtilat. Seakan percuma saja nasehat untuk menundukkan mata di sampaikan, ajaran untuk menjaga hati dari syahwat diungkapkan atau trik-trik lain untuk terhindar dari godaan syahwat. Sebab, sumber segala-galanya masih juga ada. Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar. Kalau tak mau basah, kenapa bermain air?
Nah…anak muda yang saya sebutkan di atas atau yang anak muda lainnya yang bernasib sama, tentu tepat untuk meresapi renungan di atas.
Bagaimana bisa melupakan kenangan lama, sementara facebook milik “nya” terus menerus ” diintip-intip”??? Bagaimana mungkin dapat menghapus bayang-bayang “nya”, sementara diri “nya” selalu dilamunkan? Tentu akan sulit dilupakan jika selalu dikenang!!!
Ada saja alasan yang terus ditampilkan oleh setan untuk mengungkung manusia agar sulit melupakan masa lalunya. Bahkan tidak jarang, alasan tersebut terkesan ilmiah dan benar. Sebagai contoh adalah satu pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya pada salah satu Kajian di Kalimantan.
“Apakah boleh, Ustadz. Seseorang mendoakan kebaikan untuk mantan kekasihnya?”
Terasa indah kan, alasannya? Ketika itu saya kemudian menjelaskan tentang keharusan untuk saling mendoakan di antara kaum muslimin. Akan tetapi, apakah tidak ada orang lain yang lebih berhak untuk didoakan? Orangtua, saudara atau kerabat dekat, misalnya. Apakah ada alasan baginya mendoakan mantan kekasih, sementara masih ada orang yang lebih berhak untuk didoakan? Selain itu, hal semacam ini tentu hanya akan membekaskan penyakit-penyakit hati.
_00000_____
Ibnul Qayyim di dalam Raudhatul Muhibbin menukilkan beberapa kisah cinta yang kiranya perlu untuk disampaikan di sini. Dari dua kisah yang akan saya sebutkan dalam tulisan ini, ada satu hal yang harus ditarik sebagai sebuah kesimpulan ; Hawa nafsu harus dikekang di dalam bingkai syari’at! Jangan terseret arus syahwat!
Seorang pemuda ahli ibadah pernah tertarik kepada seorang wanita jelita. Tumbuhlah rasa cinta di antara mereka berdua. Cinta si pemuda ternyata disambut oleh wanita tersebut. Bahkan hubungan di antara mereka berdua dapat dirasakan oleh hampir seluruh warga Mekkah.
Di sebuah lokasi sepi, si wanita kembali mengucapkan cinta. Sang pemuda pun mengungkapkan hal yang sama.
“Aku ingin engkau menciumku”, kata si wanita tersebut.
Sang pemuda menjawab, ” Aku pun demikian”.
“Lalu kenapa engkau tidak melakukannya?”, tanya si wanita.
Sang pemuda menjelaskan, ” Celaka! Sungguh aku pernah mendengar sebuah firman Allah yang berbunyi,
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Orang-orang yang saling mencintai (selama di dunia) pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. 43:67)
“Demi Allah, aku tidak berharap hubungan kita di dunia ini berubah menjadi permusuhan di hari akhir kelak”, pemuda itu mengucapkan kata-kata ini sambil bangkit berdiri lalu pergi. Kedua matanya tak mampu menahan air mata.
………
Kota Kufah juga menyimpan banyak cerita tentang cinta. Seorang pemuda tampan pernah tinggal menetap di sana, di sebuah kampung suku Nakha’. Secara kebetulan, pemuda itu melihat seorang gadis jelita yang membuatnya jatuh cinta. Jiwanya merasakan gelisah oleh cinta.
Lalu pemuda itu datang menemui ayah si gadis untuk menyatakan pinangan. Ternyata, gadis tersebut telah dilamar oleh sepupunya sendiri. Betapa berat rasa di hati! Pemuda itu benar-benar kecewa.
Si gadis yang mengetahui rasa cintanya lalu memerintahkan seseorang untuk menyampaikan pesan kepada sang pemuda.
