![]() |
| Kecerdasan dan Pelajaran Hidup dari Semut Menurut Ibnul Qayyim |
Jika biji-bijian itu basah terkena air, semut akan mengeluarkannya dan menjemurnya di bawah panas matahari agar tidak cepat rusak. Setelah kering, biji-bijian itu dimasukkan kembali ke dalam sarang. Oleh sebab itu, kata Ibnul Qayyim, “Anda bisa melihat -kadang-kadang-, potongan biji-bijian berada di depan sarang semut. Tidak lama kemudian, Anda tidak melihatnya lagi walau sepotong”.
Semut juga cerdas untuk memilih lokasi bersarang. Permukaan tanah yang datar menjadi pilihan utamanya. Kenapa? Saat hujan, sarang mereka tidak terbawa air. “Anda tidak akan menemukan sarang semut berada di lembah; dataran rendah; namun berada di sisi atas dan bagian yang tinggi supaya tidak terkena aliran air”, Ibnul Qayyim menjelaskan alasannya.
Kata Ibnul Qayyim, “Cukuplah sebagai bukti kecerdasan semut, kisah yang disebutkan Allah azza wa jalla dalam Al Quran”.
Ketika menyaksikan Nabi Sulaiman beserta bala tentaranya datang berderap, seekor semut mengingatkan koloni-koloni semut ;
يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Betapa pintar dan bijaknya semut tersebut yang menjadi pimpinan bangsanya!
“He, bangsa semut! Segeralah masuk dan berlindung ke dalam sarang kalian! Jangan sampai Nabi Sulaiman dan bala tentaranya menginjak-injak kalian tanpa mereka sadari”
Ada 10 jenis kalimat yang disampaikannya dalam sekali berbicara. Nida’ (Panggilan), Tanbih (Permohonan Perhatian), Tasmiyah (Penyebutan Nama), Amar (Perintah), Nash (Berita Pasti), Tahdzir (Peringatan), Takhsis (Penjelasan Secara Khusus), Tafhim (Kemampuan Memahamkan Lawan Bicara), Ta’mim (Penjelasan Secara Umum), dan I’tidzar (Memberi Uzur Kepada Yang Lain).
Alangkah indah dan fasihnya semut itu! Sayang, bahasa Arab belum begitu kita pahami. Sedih, bahasa Arab hanya sebatas cerita saja. Nasehat semut itu walaupun ringkas, namun berbobot karena mengandung 10 unsur kalimat. Pantas saja, Nabi Sulaiman takjub hingga beliau tersenyum tertawa ketika mendengarnya.
Nabi Sulaiman yang mengerti dan memahami bahasa binatang, seketika itu juga memohon kepada Allah agar diberi kelapangan dan kemudahan untuk bersyukur. Karena karunia yang Allah berikan untuk beliau dirasakan sangatlah besar.
“Janganlah merasa heran dengan kecerdasan semut!”, kata Ibnul Qayyim.
Semut termasuk makhluk yang selalu bertasbih; membunyikan kebesaran, puji-pujian dan kesucian Allah Ta’ala.
Nabi Muhammad bersabda dalam hadits Abu Hurairah riwayat Ibnu Hibban dan disahihkan al Albani (Ta’liqat Hisan no.5618) ; “ Seorang nabi pernah berteduh di bawah sebuah pohon. Seekor semut menggigitnya. Lalu nabi tersebut memerintahkan agar sarang dan seluruh semut yang ada di dalamnya dibakar habis. Kemudian Allah menegurnya, “Kenapa tidak seekor semut yang menggigitmu saja?”.
Dalam riwayat itu ditambahkan keterangan ;
فَإِنَّهُنَّ يُسَبِّحْنَ
;Sungguh! Semut-semut itu selalu bertasbih”
Tentang semut, Ibnul Qayyim menyimpulkan, “ Sungguh! Anda bisa menyaksikan sekian banyak ibrah (pelajaran hidup) dan tanda-tanda kebesaran Allah”.
Namun, saya cukupkan tiga pelajaran hidup dalam artikel ini ;
Pertama ; Tidak ada untungnya untuk sombong. Buat apa takabur? Kita masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan semut-semut yang diceritakan Ibnul Qayyim di atas. Mereka bertasbih selalu kepada Allah, mereka damai dalam kebersamaan dan persatuan, dan mereka saling tolong menolong satu sama lain.
Kedua ; Tekun dan giat adalah pelajaran hidup yang bisa kita petik dari keterangan Ibnul Qayyim tentang semut. Mereka tidak berdiam di dalam sarang! Mereka berusaha, mereka keluar sarang, mereka mencari, mereka bekerja, mereka berhemat, mereka berupaya untuk menjaga logistik, mereka merawat makanan, dan mereka berencana untuk masa depan.
Ketiga ; Kebersamaan itu sangat mahal! Jika ada yang coba merusaknya, wajar jika dijauhi, diberi sanksi, didiamkan, dibiarkan, atau dihukum sesuai dengan sikap-sikap negatifnya. Maka, jangan buru-buru menyalahkan orang lain jika engkau dijauhi atau didiamkan.
