Kisah Qadhi Abu Bakar dan Kalung Mutiara

3 menit baca
Kisah Qadhi Abu Bakar dan Kalung Mutiara
Kisah Qadhi Abu Bakar dan Kalung Mutiara

Selanjutnya, bukan hanya Al Quran yang diajarkan. Tulis menulis pun diajarkan. Setelah beberapa lama mengajar di sana, Qadhi Abu Bakar diberi tawaran untuk menikah. “Ada anak gadis yatim di sini. Dia cukup kaya raya”, kata mereka. Mulanya beliau menolak, namun karena disuruh-suruh, akhirnya, tawaran tersebut diiyakan.

Malam pengantin, Qadhi Abu Bakar melihat istrinya mengenakan kalung mutiara seperti mutiara-mutiara yang pernah ditemukannya. Beliau lantas bercerita tentang kisahnya bersama mutiara-mutiara tersebut.

Mendengar kisah itu, orang-orang langsung bertakbir dan bertahlil dengan keras hingga terdengar di sudut-sudut kampung.

“Kakek yang Anda kisahkan tadi adalah ayah dari gadis yang Anda nikahi hari ini”, kata mereka. “Kakek itu dulu selalu berdoa ; “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu supaya bisa saya nikahkan dengan putriku”.

Setelah menikah, Qadhi Abu Bakar menetap di sana beberapa waktu sampai Allah karuniakan dua anak laki-laki. Istrinya lalu meninggal yang disusul kedua anak laki-lakinya.

“Mutiara-mutiara itu lalu saya jual senilai 100.000 dinar. Harta yang saya miliki dan kalian lihat sekarang ini, adalah sisa-sisa dari hasil penjualan tersebut”, jelas Qadhi Abu Bakar.

Kesimpulan :

Ibnu Rajab (Dzail Tabaqat 1/443) menerangkan :

“Cerita di atas (Qadhi Abu Bakar) dibawakan oleh al Hafiz Yusuf bin Khalil dalam Mu’jam-nya. Sementara Ibnu Najjar dalam Tarikh-nya mengatakan ; Cerita ini sangat menakjubkan”.

“Namun, saya menilai Qadhi Abu Bakar bercerita tentang orang lain”, lanjut Ibnu Rajab.

Mengenai cerita kalung mutiara versi I yang disebutkan Abu Muzaffar dari Ibnu Aqil, Ibnu Rajab menilai, “Abu Muzaffar tidak bisa dijadikan patokan dalam nukilan-nukilannya. Beliau juga tidak menyebutkan sanad bersambung sampai kepada Ibnu Aqil. Beliau pun tidak menyebutkan sumber referensi yang terpercaya. Ibnu Aqil sendiri tidak ada data yang menunjukan beliau pernah ke negeri Syam’

Lalu bagaimana?

“Menisbatkan kisah di atas kepada Qadhi Abu Bakar al Anshari tentu lebih tepat. Wallahu a’lam”, tutup Ibnu Rajab.

Tiga catatan dari artikel ini :

1. Cinta selalu saja mewartakan tentang keajaiban-keajaiban. Ada cerita indah yang walau tersembunyi, pada akhirnya bersinar cerah. Jodoh adalah rahasia Allah. Jarak, waktu, usia, harta, atau nasab bukanlah ukuran baku. Cinta selalu menghadirkan cerita.

2. Doa orangtua memang dahsyat! Sayang, masih banyak orangtua yang tidak menyadari. Kalaupun sadar, hanya sedikit yang mengetuk pintu doa untuk kebaikan agama dan akhirat anaknya. Rata-rata, orangtua mendoakan kesuksesan duniawi anaknya saja. Bagaimana ia bisa berpangkat, ia kaya raya, ia berjodoh dengan berkriteria materi. Sayang, doa orangtua yang mustajab tidak dimanfaatkan baik-baik.

3. Wanita yang baik hanyalah untuk laki-laki yang baik. Sebaliknya pun demikian. Jika engkau berharap hidup bersanding dengan seorang istri yang spesial, yang istimewa, dan salehah tentunya, maka berjuanglah untuk menjadi seorang laki-laki yang spesial, yang istimewa, dan saleh seharusnya.

Baarakallahu fiikum

Lendah, Malam Tasyriq Pertama 1442 H

Selasa 20 Juli 2021

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca