![]() |
| Berpikir Dingin, Berhati Sejuk |
(63)
Ringkas saja, bahwa karakter seorang pemimpin yang baik memang tidak sesederhana yang dimaukan. Sebab, seni memimpin sangatlah kompleks, yaitu mengandung beberapa unsur yang pelik, rumit, sulit dan saling berhubungan.
Minimal, seorang pemimpin menyadari -dan harus sadar- , bahwa ia tidak pernah akan bisa membuat semua orang puas. Akan ada pro kontra dan selalu muncul dua pihak; setuju dan tidak setuju. Pandangan atau keputusan yang diambil seorang pimpinan, belum tentu dapat diterjemahkan dan dilaksanakan secara benar oleh anggota.
Supaya berhasil, sukses, dan bisa menikmati, seorang pemimpin mesti memiliki banyak instrumen. Paling penting adalah memiliki kedekatan dengan Allah Ta’ala. Ia sadar bahwa dirinya sangat lemah, sehingga memerlukan kekuatan dari Allah. Ia sadar bahwa dirinya banyak kekurangan, oleh karenanya ia memohon pertolongan kepada Allah. Ia selalu bersandar dan bertumpu kepada Allah, dzat yang maha perkasa.
Selain itu, seorang pemimpin harus memiliki ketegasan, pengalaman, kerjasama yang baik dengan semua unsur, evaluasi dan memonitor, selalu berlatih dan meningkatkan skill, diskusi dan musyawarah, serta rendah hati.
Bahasan kita kali ini adalah instrumen lapang dada, namanya.
Realitas di lapangan, seorang pemimpin selalu dihadapkan dengan hal-hal pahit, tidak menyenangkan, bahkan menjengkelkan.
Tidak jarang, di lapangan, ada hal-hal yang memancing emosi, mengundang amarah, dan membuat gusar.
Di sini, dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin harus berpikir dingin dan berhati sejuk. Tanpa itu, gagal memimpin adalah resikonya.
Contoh pertama :
Seorang pelayan istana yang bertugas mengipasi khalifah bergelar al Mu’tadhid, secara tidak sengaja mengayunkan kipasnya mengenai penutup kepala khalifah sampai terjatuh. Al Mu’tadhid tetap tenang dan tidak memperlihatkan sikap tersinggung. Al Mu’tadhid malah memanggil kepala pelayan.
“Pelayan ini rupanya sudah mengantuk. Tolong, jumlah pelayan yang bertugas ditambah saja. Jangan engkau marahi dia karena perbuatannya tadi!”, pesan Al Mu’tadhid.
Kepada yang hadir saat itu, khalifah menyampaikan, “Hukuman itu diberlakukan bagi yang sengaja melanggar. Bukan untuk yang lupa atau tidak sengaja” (al Muntazham 4/324)
Contoh kedua :
Ada seseorang melakukan kesalahan yang membuat khalifah Umar bin Abdul Aziz marah. Orang itu ditangkap dan dibawa menghadap. Setelah pakaiannya dilepas dan tukang cambuk telah bersiap, sementara hadirin sudah yakin orang itu akan dicambuk, Umar bin Abdul Aziz malah memerintahkan, “Lepaskan orang itu! Kalau bukan karena sedang emosi, tentu saya akan mengukumnya” (az Zuhud, Imam Ahmad, 504)
Setelah itu Umar bin Abdul Aziz membaca firman Allah yang menjelaskan tentang sifat orang beriman ;
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang (beriman adalah orang-orang) yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran:134)”
Contoh ketiga :
Seseorang mencacimaki cicit Rasulullah bernama Ali bin Husain. Beberapa pengawal dan pengiring beliau marah dan hendak membalas. Namun, Ali bin Husain malah melarang mereka.
Orang itu lalu ditemui dan diajak bicara oleh Ali. “Kesalahan saya yang belum engkau ketahui masih banyak”, kata beliau.
Ali melanjutkan, “Apakah Anda punya kesulitan supaya bisa kami bantu?”. Sikap tenang dan pikiran dingin seperti itu justru membuat orang tersebut merasa malu.
Ali bin Husain lantas menghadiahkan baju dan 1.000 dirham untuk orang tersebut.
Sejak saat itu, setiap kali bertemu Ali, orang tersebut mengatakan, “Saya bersaksi bahwa Anda memang benar keturunan Rasulullah” (Shifatus Shofwah 2/451)
Dalam ketiga contoh di atas, tiga tokoh besar dalam sejarah, memberikan pembelajaran untuk kita, betapa berpikir dingin dan berhati sejuk, sangat diperlukan dalam memimpin.
Hal-hal kecil, remeh temeh, atau tidak begitu penting, seyogyanya diabaikan saja. Tidak terlalu dimasukkan dalam hati. Anggap saja angin sepoi-sepoi yang menyapu lembut.
