![]() |
| Keadilan Hakiki |
(315)
Tidak jauh dari Masjid Nabawi, dulu ada lapangan yang dipergunakan untuk inspeksi pasukan yang akan berangkat ke Badar.
Saat ini, lapangan tersebut masuk area stasiun lama Madinah yang dibangun abad 19. Sempat digunakan 9 tahun, lalu ditutup karena perang dunia II. Masih ada sisa-sisa gerbongnya.
Lokasi itu dikenal dengan kompleks perumahan Sa’ad bin Abi Waqqash.
Di tempat itulah, Rasulullah ﷺ memeriksa siapa-siapa saja yang akan berangkat ke Badar.
Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir menyebutkan sebuah peristiwa di lokasi itu, yaitu peristiwa sahabat Sawad bin Ghaziyyah Al Anshari.
Riwayat yang dihasankan Al Albani, menceritakan tentang Rasulullah ﷺ yang sedang membariskan para sahabat dan merapikan.
Rupanya, Sawad terlihat tidak rapi dan tidak lurus. Badannya condong ke depan. Rasulullah ﷺ datang dan meluruskan. Dengan menggunakan anak panah, Rasulullah ﷺ menekan pinggang Sawad dan bersabda, “Luruskan, he Sawad!”
Sawad kemudian menyatakan dirinya merasa tersakiti sehingga meminta izin untuk qishas (membalas). Rasulullah ﷺ mengizinkan.
Ketika, Rasulullah ﷺ mengangkat baju dan mempersilahkan Sawad membalas, bukannya membalas menusuk, Sawad justru memeluk erat Rasulullah ﷺ.
Ketika ditanyakan kenapa, Sawad menjawab, ” Wahai Rasulullah, Anda telah melihat apa yang terjadi. Saya ingin, kulitku bersentuhan dengan kulit Anda menjadi hal terakhir dengan Anda “.
Rasulullah ﷺ lalu mendoakan kebaikan untuk Sawad.
Apa yang diucapkan Sawad ketika menyampaikan ingin membalas?
يا رسول الله! أوجعتني، وقد بعثك الله بالحق والعدل فأقدني
“Wahai Rasulullah, Anda telah menyakiti saya. Sungguh, Allah mengutus Anda dengan kebenaran dan keadilan, maka izinkan saya untuk membalas “.
Ya, atas nilai kebenaran dan keadilan! Inilah Islam.
Ada percakapan seorang kawan dengan rekan kerjanya yang kurang percaya dengan hari kiamat. Rekan kerjanya memang bukan seorang muslim.
” Kamu percaya dengan konsep keadilan?”, tanya kawan saya.
Rekan kerjanya mengiyakan.
” Misalnya seorang penjahat tidak tertangkap di dunia, sehingga tidak dihukum, lalu dia mati. Konsep keadilannya di mana? Betapa enaknya orang yang berbuat jahat karena sampai mati tidak dihukum “, terang kawan saya.
” Maka, percayalah bahwa hari kiamat benar-benar ada. Di sana keadilan pasti ditegakkan. Yang benar akan dibela dan diberi hak-haknya. Yang salah tentu diadili dan dihukum sesuai kejahatannya”
Kata kawan saya, ” Mudah-mudahan rekan kerja saya itu masuk Islam “.
Aamiiiin, yaa Rabb.
Demikianlah Islam! Ajaran yang menyerukan asas keadilan seadil-adilnya.
Barangsiapa berbuat kebaikan, ia akan diberi pahala berlipat-lipat. Sementara yang berlaku jahat, tidak ada yang bisa ia salahkan kecuali dirinya sendiri karena akan diberi hukuman yang setimpal.
Islam adalah agama yang adil.
Siapapun yang salah, tetap dikenakan sanksi. Mau rakyat, mau pejabat. Dia bangsawan ataukah orang keumuman. Miskin kaya sama saja.
Rasulullah bersabda:
وايم الله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها
“Demi Allah! Andaikan Fathimah, anak perempuan Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya “ HR Bukhari 3475 Muslim 1668
Allah Ta’ala berfirman:
ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” QS Al Maidah: 8
Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat ini adalah, ” Jangan sekali-kali karena alasan membenci suatu kaum, kamu tidak bersikap adil kepada mereka. Bersikaplah adil kepada siapapun. Kawan ataukah lawan “
Maka, asas keadilan yang diajarkan Islam akan membantu untuk hidup tenang dan damai. Jauh dari sakit hati dan dendam. Sebab, ia yakin Allah pasti memberikan keadilan.
Sekaligus menyadarkan agar menjauhi sikap jahat, apapun bentuknya. Karena, tidak ada kejahatan yang bisa disembunyikan dari Allah. Kalau tidak di dunia, kelak di akhirat akan ditegakkan keadilan.
Kota Nabi, 17 Februari 2025
