![]() |
| Mengisi Ruang Figur Anak-Anak dengan Tokoh Islam |
Pihak madrasah atau pesantren menyediakan ruang baca atau kamar pustaka. Orangtua menceritakan ulang kepada anaknya. Dan seterusnya.
Dalam benak saya, ada sebuah ruang representatif. Fasilitas menterjemahkan disediakan. Komputer dan seluruh perangkatnya dipenuhi. Kaum santri diberi arahan dan ditugaskan per orang untuk menterjemahkan sekian halaman. Hasilnya diedit kemudian siap dikonsumsi oleh anak-anak kita untuk mengisi ruang figurnya.
Ceritakan ulang panglima Khalid bin Walid di perang Mu’tah yang sangat tidak logis menurut akal manusia. Bagaimana beliau mengatur dan memimpin 3.000-an personil menghadapi ratusan ribu musuh.
Ceritakan juga siapakah Abdullah bin Mas’ud! Sahabat yang pertama kali membaca Al Qur’an terang-terangan di kota Mekkah setelah nabi Muhammad di saat Islam masih terasing.
Ceritakan pula Muhammad bin Maslamah yang beberapa kali melakukan tugas rahasia dan misi khusus, termasuk membunuh tokoh musuh provokator bernama Ka’ab bin Al Asyraf.
Ketika tugas ini dilakukan bersama-sama, insya Allah, dalam hitungan satu atau dua tahun, sudah ada ratusan tokoh Islam yang siap mengisi ruang figur anak-anak kita. Apalagi jika berkelanjutan. Tidak hanya satu atau dua tahun. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Sebelum itu semua, marilah menjadi figur yang baik untuk anak-anak kita. Mulailah dari diri sendiri. Awali dari lingkup keluarga.
Orangtua harus menjadi figur yang baik buat anak-anaknya. Contohkan shalat berjamaah yang baik. Contohkan akhlak dan budi pekerti yang mulia. Contohkan semangat thalabul ilmi. Contohkan hidup bermasyarakat yang benar. Smoga ikhtiar ini diridhai.
Jika anak kita berperilaku kurang baik, jangan terburu-buru menyalahkan siapa. Namun, mari jujur menilai diri sendiri, apakah kita sudah menjadi figur yang baik buat mereka?
Baarakallahu fiikum (dalam harapan besar)
08/ September/ 2019
(reposting tulisan 2 tahun lalu. Sekaligus mencoba mencari akar masalah ; fenomena anak muda yang terbawa figur artis korea)
