Eksplorasi dan Eksploitasi Hitam Kaum Perempuan (II)

3 menit baca
Eksplorasi dan Eksploitasi Hitam Kaum Perempuan (II)
Eksplorasi dan Eksploitasi Hitam Kaum Perempuan (II)

“Awalnya berkenalan di media sosial “, ” Mula-mula terkoneksi chatting melalui aplikasi obrolan”, atau kalimat semisal, seringkali dijadikan pembuka konferensi pers pihak kepolisian saat mengungkap kasus pembunuhan, kekerasan, pelecehan seksual, atau perampokan.

Korbannya? Mayoritas perempuan!

Sebagai satu sudut analisis; kenapa begitu mudahnya seorang perempuan menjadi korban?

Pelaku kejahatan memang melakukan trik-trik pendekatan untuk menggaet korban. Selalu dengan iming-iming dan kamuflase “perhatian”.

Kaum perempuan yang mengalami kegersangan kasih sayang orang tua adalah sasaran empuk yang ditarget.

Diberi coklat, dikirim bunga, dikasih hadiah, ditraktir makan, diajak jalan-jalan, atau diantarkan main adalah modus klasik namun terus dipakai.

Kata-kata manis, puitis, romantis dan seolah-olah melimpahkan perhatian, seringkali dijadikan jaring untuk menipu.

Sungguh pilu! Kaum perempuan dieksploitasi untuk memenuhi hawa nafsu. Dieksplotasi untuk mengeruk keuntungan cuan.

Saya tidak sedang membahas secara detail apa saja bentuk eksploitasi itu.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kaum perempuan begitu mudahnya dijadikan korban dengan trik-trik menipu ; yaitu menjanjikan perhatian dan rasa aman.

Maka, sebagai orang tua, haruslah benar-benar mencurahkan perhatian dan melimpahkan kasih sayang untuk anak perempuannya.

Ukuran cukup bukan dinilai secara sepihak oleh orang tua. Kadarnya menyesuaikan anak. Sebab, tiap-tiap anak berbeda kadar perhatian yang diinginkan.

Rasulullah ﷺ adalah teladan bagi orang tua!

Ruqayyah, putri beliau, jatuh sakit. Padahal waktu itu, beliau tengah memotivasi para sahabat berangkat untuk sebuah misi, yang kemudian berlanjut dengan perang Badar.

Sebagai ayah, Rasulullah ﷺ meminta Utsman bin Affan, menantu beliau untuk tetap tinggal merawat dan mendampingi Ruqayyah. ( Sahih Bukhari no.3130 )

Ibunda Aisyah melukiskan untuk kita tentang Fathimah, putri bungsu Rasulullah ﷺ.

كَانَتْ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ قَامَ إِلَيْهَا فَأَخَذَ بِيَدِهَا وَقَبَّلَهَا وَأَجْلَسَهَا فِي مَجْلِسِهِ وَكَانَ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهَا قَامَتْ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ وَأَجْلَسَتْهُ فِي مَجْلِسِهَا

Apabila Fathimah datang, Nabi Muhammad ﷺ bangkit berdiri menyambutnya, beliau raih tangan Fathimah dan menciumnya, serta memintanya duduk di tempat duduk beliau”

Sebaliknya, ” Apabila Rasulullah ﷺ datang, Fathimah bangkit berdiri menyambut, beliau raih tangan ayahnya dan menciumnya, serta meminta beliau duduk di tempat duduknya ” HR Abu Dawud no. 5217.

Demikianlah Rasulullah ﷺ mencontohkan. Benar-benar perhatian dan sungguh-sungguh menyayangi putri-putri beliau.

Beliau bersabda:

مَنْ كُنَّ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ يُؤْوِيهِنَّ، وَيَرْحَمُهُنَّ، وَيَكْفُلُهُنَّ، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ

Barangsiapa memiliki 3 anak perempuan, lalu ia memberikan kenyamanan, menyayangi, dan menafkahi mereka, surga sudah pasti untuknya ” HR Ahmad no.14.247

Dalam riwayat di atas, para sahabat menawar agar hal itu juga berlaku untuk yang memiliki 2 anak perempuan. Dan Nabi Muhammad ﷺ mengiyakan. Bahkan, menurut sebagian sahabat, andaikan ditawar untuk yang mempunyai hanya 1 anak perempuan pun, Nabi Muhammad ﷺ tentu akan mengiyakan.

Coba perhatikan syarat masuk surga bagi yang memiliki anak perempuan, yaitu membuatnya nyaman, melimpahkan kasih sayang, dan menafkahi.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak mengerti hal ini. Barulah terkaget bahkan shock, setelah anak perempuannya menjadi korban laki-laki yang merayunya.

Karena laki-laki itu, menurutnya, lebih perhatian daripada ayahnya, lebih lemah lembut dari ayahnya, lebih bisa mendengarkan cerita dan keluh-kesahnya dibandingkan ayahnya, dan lebih bisa menghargai perasaannya dibandingkan ayahnya.

Agar tidak “kehilangan” anak perempuan, marilah melakukan refleksi diri; apakah selama ini, anak-anak perempuan kita telah memperoleh kasih sayang seperti yang mereka inginkan?

06 Rajab 1444 H/28 Januari 2023

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • Sudah beberapa referensi bacaan saya cari, literatur-literatur utama saya lacak, namun belum ketemu juga hingga kini. Jika ada pembaca...
  • (87) Mari belajar dari sahabat Abu Hurairah, bagaimana memuliakan dan menghormati seorang Ibu. Adz Dzahabi (Siyar A’lam 2/592-593) meriwayatkan...
  • (300) Berbohong seolah tak dapat lepas dari sosok anak. Masih kecil sudah bisa bicara dusta. Ada saja cara memilintir...
  • Tanggung jawab dalam hal apa? Semuanya. Seluruh hal. Bukankah istrimu adalah tanggung-jawabmu? Bukan hanya di dunia, bahkan di akhirat...
  • (347) Tiap anak memiliki sifat dan perilakunya masing-masing. Kombinasi sifat semakin memperkaya dunianya. Orang tua harus belajar tentang pendidikan...
  • Setiap anak pasti istimewa. Buktinya? Ia diharapkan kehadirannya. Tanpanya, dunia terasa hampa. Saat berpisah, ada tangis rindu. Ketika bersama,...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca