![]() |
| Menggugah Hidayah |
(120)
Menggugah Hidayah
Hidayah tidak dapat diperjualbelikan. Tidak bisa dicopy-paste. Juga bukan untuk dipinjam-pinjamkan. Oleh sebab itu, hidayah sangatlah mahal.
Manusia tidak mampu memberikan hidayah. Bukan miliknya. Bukan haknya. Jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri saja, bukan dia yang menentukan.
Allah Ta’ala adalah pemilik hidayah satu-satunya. Tiada yang lain. Maka dari itu, kepada Allah semata seorang hamba bermohon hidayah.
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk hanya kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” ( Al Qashas : 56 )
Sekeras apapun usaha dilakukan, semaksimal bagaimana upaya dikerjakan, walaupun harta sepenuh bumi dibelanjakan, bila hidayah adalah pintu, siapa pula yang mampu membuka kecuali Allah?
Hidayah yang dimaksud di sini adalah petunjuk dan jalan terang. Berpindah dari kekafiran kepada Islam. Beralih dari keburukan ke kebaikan. Berubah dari yang dulunya negatif jadi positif. Dan seterusnya.
Seorang pendidik, tentu ingin muridnya sukses dan berhasil. Baik dan berprestasi. Penurut dan tidak membangkang. Namun, kenyataan terkadang tak seindah angan-angan.
Ada murid yang selalu bikin masalah. Sering terlibat pelanggaran. Kasusnya terus diikuti kasus terbaru. Troublemaker!
Parahnya, ia lah yang menggerakkan. Mempengaruhi yang lain. Diikuti oleh teman-temannya. Dipanuti. Namun, dipanuti dalam pelanggaran.
Sebagai pendidik, kewajiban menasehati sudah dilaksanakan. Lebih dari sekadar maksimal. Lemah lembut dan dari hati ke hati. Tidak ada maksud kecuali untuk kebaikannya. Banyak waktu dan perhatian diberikan. Padahal bukan anak kandungnya!
Murid itu tetap begitu!
Sudahlah, hidayah itu milik Allah semata. Bukan punya kita.
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” ( Al Qashas : 56 )
00000____00000
Abu Thalib adalah paman kandung Nabi Muhammad ﷺ.
Sejak kecil Abu Thalib yang merawat dan membesarkan Nabi Muhammad ﷺ. Sampai dikata, Abu Thalib lebih sayang kepada Muhammad dibandingkan anak-anaknya sendiri.
Sejak diutus Allah menjadi penyampai wahyu, Nabi Muhammad ﷺ selalu dibela dan dilindungi Abu Thalib.
Bukan hanya itu, dalam banyak kesempatan, Abu Thalib mengakui kebenaran Islam dan kerasulan keponakannya.
Abu Thalib turut mengalami dan merasakan bersama, susah deritanya kaum muslimin. Selama Abu Thalib hidup, tidak ada yang berani terang-terangan menyakiti Nabi Muhammad ﷺ.
Sudah terbayang lah, betapa dalam cintanya Nabi Muhammad ﷺ kepada pamannya ; Abu Thalib.
Sesaat sebelum wafat, Nabi Muhammad ﷺ menemui dan meminta Abu Thalib untuk mengucapkan kalimat Tauhid; Laa ilaa illaah.
كَلِمَةٌ أُحَاجُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
“Satu kalimat saja. Aku pasti membela paman di hadapan Allah “, bujuk Nabi Muhammad ﷺ ( HR Bukhari Muslim )
Namun, ada 2 tokoh Quraisy di lokasi yang sama berusaha menghalang-halangi, yaitu Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah.
Nabi Muhammad ﷺ tidak henti merayu dan membujuk Abu Thalib untuk masuk Islam. Walau di akhir cerita, Abu Thalib meninggal dengan masih memeluk keyakinan nenek moyangnya.
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” ( Al Qashas : 56 )
