![]() |
| 5 Jam di Batam |
(226)
Menghadapkan ke seberang, ada Pengerang. Johor hanya dipisahkan Selat Singapura. Di Tanjung Bemban, Batam, Pesantren Darul Haqq bermula kisahnya.
Lebih kurang 2 tahun telah berjalan, Pesantren Darul Haqq di Batu Besar adalah anugerah.
Bermula dari ketidaknyamanan di lokasi sebelumnya, dicarilah tanah yang lebih mendukung aktivitas belajar.
Alhamdulillah, sebuah lahan di atas bukit yang viewnya mengarah Selat Singapura ditawarkan dengan harga yang relatif murah. Cocok!
Awalnya harus membuat dan membuka jalan sendiri. Tanah merah berbatu dibuat secara gotong royong untuk akses ke lokasi baru.
Udaranya sejuk, jauh dari keramaian kota Batam, burung-burung masih ramai bersahutan, termasuk Elang Botak yang sempat berputar-putar siang tadi.
” Senang kalian belajar di sini?”, tanya saya kepada santri-santri di sana. Senang, jawab mereka.
Alasannya, di situ suasana dan lingkungannya lebih menyenangkan dibanding lokasi belajar yang lama.
Maka, di sepetak musholla dengan konstruksi baja ringan beratapkan galvalum dan berdinding kalsiboard itulah, anak-anak Salafiyin menimba ilmu agama di Pulau Batam.
Walaupun fasilitas yang tersedia saat ini masih sederhana, anak-anak tetap bergembira.
Rumah mereka yang masih di lingkungan kota, membuat mereka setiap pagi berkumpul di titik tertentu, lalu bersama-sama menggunakan mobil menuju lokasi Pesantren Darul Haqq yang baru.
Semoga saja, fasilitas pendidikan terus bertambah, sehingga anak-anak itu bisa lebih nyaman dan maksimal belajarnya.
Ibarat kata, di Batam 5 jam, sebatas transit. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk berkunjung di pesantren Darul Haqq, berbincang-bincang dengan ikhwan, dan bercengkerama dengan santri-santri.
Termasuk satu ikhwan yang terlihat berbeda.
Abdullah, kini namanya. Laki-laki 35 tahun itu dulunya beragama Kristen. Ayah ibunya dari Kuba yang bermigrasi ke Florida Amerika. Saat saya tanyakan namanya dulu, ” Immanuel Hernandez “, jawabnya.
Bahasa Indonesianya sudah baik sehingga bisa dipahami, bahkan cenderung sesuai EYD. Alhamdulillah Abdullah Hernandez telah menikah dan menetap di Batam.
Hernandez mengalami pergolakan batin. Ganjalan di hatinya membuat hidupnya tidak tentram. Ia sudah mendengar tentang Islam, namun petualangannya ke berbagai negeri masih belum menjawab.
Hingga di suatu saat, Hernandez berkunjung ke Dubai. Sambil terharu, ia mengenang pertama kali mendengar adzan dikumandangkan. Walau ia tak paham, lantunan adzan telah membasuh kerinduan jalan yang ia cari.
Apalagi, katanya, menyaksikan orang Islam mengerjakan salat sampai di halaman luar dan jalan, semakin meneguhkan pencariannya pada Islam.
Berbagai referensi dicari, website-website ditelusuri, untuk mengenal Islam lebih dalam. Termasuk konsep uluhiyah dan makna syahadat.
” Alhamdulillah, sejak pertama kali mengenal Islam, sudah manhaj Salaf yang saya temukan”, ujarnya.
Keluarganya di Florida menentang. Bapaknya mengatakan ia sudah gila. Namun, cahaya Islam sudah bersinar di hatinya. Walhamdulillah
Nabi Muhammad ﷺ menerangkan bahwa ada 3 jenis orang yang diberi pahala 2 kali lipat. Di antaranya:
رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
” Seorang pemeluk ahli kitab. Ia beriman kepada nabinya lalu beriman dengan Muhammad ” HR Bukhari no.97 dan Muslim no.154 dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari.
Demikianlah hidayah! Milik Allah Ta’ala. Bukan punya kita. Hidayah itu diberikan untuk yang dipilih- Nya. Sebab itu, syukurilah dan rawatlah hidayah ini agar tak hilang.
13 September 2023
