Membawa Kisah Dari Sumbawa

3 menit baca
Membawa Kisah Dari Sumbawa
Membawa Kisah Dari Sumbawa

(312)

Dari Ponpes Imam Syafi’i di desa Pungka Sumbawa menuju pelabuhan Poto Tano, kami harus menempuh perjalanan 95 km.

Jalur yang memanjang di sisi utara pulau Sumbawa itu berbatasan langsung dengan laut Flores. Di sebelah kanan, terhampar lautan biru. Di sebelah kiri, ladang-ladang jagung terbentang dengan latar belakang gunung Olet Sangenges.

Ponpes Imam Asy Syafi’i yang diasuh oleh Ustadz Abdurrahman Lombok sudah dirintis sejak tahun 2005, yang kemudian tahun 2007 secara operasional dijalankan.

Lokasinya sejuk dan menyenangkan. Dekat dengan jalan By Pass Selatan, jaraknya tidak terlalu jauh dengan kota Sumbawa. Ponpes yang recomended untuk belajar agama Islam.

Berdiri di atas lahan seluas hampir dari 3 hektar, Ponpes menempati kurang lebih 1 hektar. Lainnya digunakan sebagai pemukiman.

Ada 98 kepala keluarga dengan jumlah jiwa hampir menyentuh angka 500 yang memakmurkan kegiatan beragama di Ponpes Imam Asy Syafi’i. Itu belum terhitung ratusan santri santriwati yang menginap dan berasal dari luar daerah.

Saat berkesempatan interaksi secara langsung dengan santri-santri, saya meminta mereka untuk menulis 3 hal yang mereka suka di pesantren. Selain 3 hal yang tidak disuka.

Rata-rata, para santri menyebut aktivitas bertanam di ladang sebagai 1 dari 3 hal yang menyenangkan.

Iya, selain ilmu-ilmu agama, ponpes Imam Asy Syafi’i memang menanamkan nilai-nilai kemandirian kepada santri-santri nya. Mereka juga dididik untuk memiliki karakter yang tangguh dan pekerja keras. Sebuah metode yang saya suka.

Jangan heran jika santri-santri Ponpes Imam Asy Syafi’i Sumbawa terbiasa dalam bercocok tanam. Selain itu, beternak sapi juga menjadi salah satu kegiatan di sana. Saat ini 40-an ekor sapi digembalakan secara terbuka di lahan milik pesantren seluas 8 hektar.

Walau hanya 2 hari berada di Ponpes Imam Asy Syafi’i Sumbawa, nuansa kekeluargaan dan suasana kehangatan begitu terasa. Meski banyak yang baru pertama kali berjumpa, rasa-rasanya sudah seperti sahabat lama.

Kajian 2 hari itu dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa, DGH Faisal S.Ag. Beliau mendukung penuh kajian yang diselenggarakan dengan tema problematika remaja dan solusinya.

Beliau sangat prihatin dengan kondisi remaja di zaman sekarang. ” Perkawinannya terciderai”, ungkap Kakakemenag sebagai contoh. Sebabnya, 70% dispensasi menikah di bawah umur disebabkan hamil di luar nikah.

Sementara Kapolres Sumbawa yang diwakili Kapolsek Sumbawa Iptu Eko Riyono menyatakan, ” Pendidikan anak adalah tanggung jawab pemerintah, orang tua, dan pendidik “.

Selaku pemerintah, Beliau menyampaikan program kepolisian Sumbawa bersama seluruh kepala sekolah dan kepala dinas terkait, bahwa patroli rutin terus dilakukan di jam-jam sekolah untuk merazia pelajar yang berada di luar area sekolah.

Polisi patroli yang mendapati pelajar di luar sekolah di jam sekolah akan didokumentasi agar pihak sekolah langsung melakukan pembinaan. Jika tidak direspon, kepala sekolah akan dilaporkan polisi kepada kepala dinas.

” Alhamdulillah, program ini berhasil menekan kasus-kasus kenakalan pelajar di jam-jam belajar “, Beliau menerangkan.

Ustadz Ayip Syafruddin di akhir sesi Pembukaan, juga menyebutkan beberapa bentuk kenakalan remaja dan secara ringkas menerangkan pola pencegahan dan pola penanganannya.

Alhamdulillah, pengalaman selama di Ponpes Imam Asy Syafi’i Sumbawa sangatlah berkesan. Sebagaimana berkesannya saat di Puncak Pulau Kenawa, di Selat Alas antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, menikmati gunung Rinjani sesaat sebelum matahari terbenam.

Selasa, 28 Januari 2025

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca