![]() |
| Daurah Nasional Surabaya |
(362)
Walhamdulillah, ketika Daurah Nasional Surabaya terselenggara pekan lalu, Ahad 21 Desember 2025, muncul angka-angka jumlah peserta. Wajar dan sah-sah saja. Sebab, di zaman Salaf pun, jumlah yang hadir di majlis ilmu dihitung dan diperkirakan.
Adz Dzahabi (Siyar A’lam Nubala ,11/316) menyebut bahwa di majlis Imam Ahmad bin Hanbal diperkirakan 5.000 orang atau lebih yang hadir. Sekitar 500-an yang mencatat hadis, sementara yang lain mempelajari adab dan akhlak Beliau.
Adz Dzahabi menyampaikan (Siyar, 13/356) tentang Ibrahim bin Ishaq Al Bahgdadi, ” Ada 30.000 tempat tinta yang terkumpul di majlisnya “, dan (Siyar, 14/62) tentang Jakfar bin Muhammad Al Firyabi, ” Di majlisnya, ada sekitar 10.000 orang penuntut ilmu hadis yang mencatat”.
Sejarah Daurah Nasional punya banyak cerita dan merekam sekian peristiwa. Ada satu nama yang sulit terlupa, yaitu Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh Zhafiri. Kenapa? Paling tidak sudah 11 kali, pada 11 tahun, Beliau berkenan hadir menyampaikan kajian di Daurah Nasional. 11 tahun tentu bukan waktu singkat. 11 tahun terbilang intensif.
Syaikh Khalid berasal dari Kuwait. Beliau menyelesaikan pendidikan S1, S2, dan S3 di Universitas Islam Madinah.
Syaikh Khalid terbilang dekat dengan Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali. Ada beberapa bukti tentang hal ini.
Pertama : Syaikh Khalid dipercaya Syaikh Rabi’ untuk mengelola website dan semua akun media milik Syaikh Rabi’. Syaikh Rabi’ menulis, ” Sungguh, saya umumkan kepada semua bahwa website saya /http://www.rabee.net dan akun resmi di twitter https://twitter.com/rabee_almadkhli, demikan juga akun-akun resmi lainnya, di bawah pengelolaan murid saya Khalid bin Dhahwi Azh Zhafiri. Media apapun lainnya yang tidak di bawah pengelolaanya, maka tidak ada hubungannya sama sekali dengan saya, dan tidak ada kaitannya dengan saya ”
Kedua : Syaikh Khalid adalah orang pertama yang diberi ijazah sanad riwayat-riwayat Syaikh Rabi’.
Syaikh Khalid bercerita dalam Biografi Syaikh Rabi’ (Al Fushul, 291-292), bahwa setelah diketahui Syaikh Rabi’ memiliki banyak ijazah sanad, maka permintaan kepada Beliau agar diberi ijazah sanad berdatangan. Namun, Syaikh Rabi’ belum berkenan. Syaikh Khalid termasuk yang memohon. Hingga suatu hari Syaikh Rabi’ memberikan ijazah sanad dengan pesan tidak menceritakan kepada siapapun.
Kata Syaikh Khalid, ” Saya pun benar-benar bahagia. Saya sepakat dengan syarat tersebut. Saya memuji Allah atas nikmat dan karunia besar ini, karena saya menjadi orang pertama yang diberi ijazah oleh Beliau. Sebatas yang saya ketahui. Hal itu terjadi pada tanggal 7 Syawwal 1419 H. 10 tahun sebelum kitab Tsabat (sanad-sanad riwayat Syaikh Rabi’) tersebar dan banyak murid meminta ijazah kepada Beliau ”
Ketiga : Syaikh Khalid adalah murid yang dipercaya Syaikh Rabi’ untuk menulis surat wasiat. Hal itu terjadi 27 tahun sebelum Syaikh Rabi’ wafat, tepatnya di waktu sore Kamis tanggal 25 Dzulhijjah 1420 H di Mekkah, saat Syaikh Rabi’ sakit keras. Maka, ketika Syaikh Rabi’ wafat hari Rabu 14 Muharram 1447 H, Syaikh Khalid pun menyebarkan surat wasiat Beliau di berbagai media.
Walhamdulillah, kedekatan Syaikh Khalid dengan Salafiyin Indonesia terhitung rekat. Sudah banyak kota Beliau datangi, banyak Pondok beliau kunjungi, bahkan banyak bantuan Beliau berikan atau salurkan. Tentunya banyak ilmu telah Beliau sampaikan. Banyak kitab pernah diajarkan Syaikh Khalid dalam Daurah Asatidzah, antara lain ; Tathhirul I’tiqad, Sullamul Wushul, Kasyfus Syubhat, dan Al Qaulus Sadid.
Syaikh Khalid tentunya telah mengenal Indonesia dengan baik, budaya dan karakter orang-orangnya, serba-serbi berbagai dakwah, bahkan mengenal sebagian secara personal. Walaupun Beliau jauh di Kuwait, namun kita tetap bisa mengambil ilmu dari Beliau melalui beberapa platform. Apalagi, komunikasi dengan Beliau tetap terjaga. Walhamdulillah
anakmudadansalaf.id
