Alasan Kerja, Berhenti Thalabul Ilmi. Benarkah?

3 menit baca
Alasan Kerja, Berhenti Thalabul Ilmi. Benarkah?
Alasan Kerja, Berhenti Thalabul Ilmi. Benarkah?

(242)

Bekerja hanyalah alasan yang dibuat-buat. Itu sebatas mencari pembenaran. Sebab, jika benar-benar ingin bekerja, bekerja yang benar, tentu ia tidak akan berhenti thalabul ilmi.

Banyak remaja berpikir bahwa bekerja menjadi arah pelarian yang paling tepat. Dikira, beralih dari thalabul ilmi untuk bekerja, selesai masalah.

Sayang, ia belum sadar bahwa orang-orang yang bekerja selalu dihadapkan dengan masalah. Dan thalabul ilmi adalah solusinya.

Maka, kenapa ia terjun di sumber masalah, sementara solusi terbaik ditinggalkannya?

Hanya ada 2 pilihan dalam dunia kerja. Mengatur atau diatur. Disuruh atau menyuruh. Melaksanakan atau yang memerintah. Ringkasnya; menjadi pemilik usaha atau hanya pekerja.

Apapun pilihannya, jika tidak memiliki karakter kerja pastilah gagal. Rugi. Sia-sia dan capek belaka.

Semua orang yang sukses di dunia kerja, apapun posisi dan statusnya, jika ditanya tentang tips dan kunci sukses, pasti jawabannya tidak akan lepas dari; bekerja keras, jujur, fokus, tidak mudah menyerah, dan selalu belajar dari kegagalan.

Kunci sukses yang disebutkan di atas adalah jawaban dari pengusaha nasional, manajer terkenal, penemu teknologi baru, pimpinan perusahaan, owner aplikasi onlineshop, pendekar, jenderal, olahragawan, dan siapapun yang sukses di bidangnya.

Kunci sukses tersebut, semuanya tanpa terkecuali, adalah materi dan kurikulum berbasis yang diajarkan di pesantren. Didapatkan saat thalabul ilmi.

Bahkan, ada tambahan kunci sukses yang justru menjadi penentu, yaitu bekerja dikonversi sebagai ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Bukan semata-mata aktivitas duniawi.

Mengenai etos kerja dan spirit tak kenal lelah, Nabi Muhammad ﷺ memberi semangat:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Sungguh, pasti lebih baik kalian mencari kayu bakar lalu menjualnya dengan dipikul di punggung, daripada meminta-minta belas kasih orang. Mau dikasih ataukah tidak, sama saja

HR Bukhari 2374 Muslim 1042 dari sahabat Abu Hurairah.

Mau bekerja, silahkan! Bahkan, ada saat ketika bekerja adalah suatu kewajiban yang akan berdosa jika ditinggalkan.

Namun, engkau bentuk dirimu agar berkarakter sebagai pekerja keras, rajin bukan pemalas, menciptakan lapangan kerja bukan mengemis-ngemis kerja.

Di mana tempat terbaik membentuk karakter itu? Di pesantren!

Seperti apa dirimu di pesantren, sudah akan begitu dirimu di dunia kerja. Kalau engkau gagal di pesantren, tentu akan gagal di dunia kerja. Kalaupun sukses, tentu engkau menyesal, kenapa tidak sungguh-sungguh saat di pesantren.

Di pesantren dibentuk untuk rajin dan semangat. Abdullah bin Mas’ud mengatakan, Sungguh, aku sangat benci seseorang yang nganggur. Mau urusan dunia, ataupun urusan akhiratnya

Umar bin Khattab berpendapat tentang seseorang yang tidak memiliki aktivitas bekerja, Tidak ada harganya di mataku

Ibnul Qayyim mengingatkan, Kaum pemalas adalah orang yang paling susah, sedih, dan pusing. Tidak ada bahagia dan gembiranya sama sekali. Berbeda dengan orang yang rajin dan semangat dalam berkegiatan, apapun kegiatannya. Orang yang semangat, mereka sangat mengetahui tentang hasil akhir yang indah dan manisnya rasa ketika berhasil Raudhatul Muhibbin hal. 250

Belajarlah baik-baik di pesantren. Kuatkan pondasi karaktermu! Jadilah pribadi yang rajin, pantang menyerah, disiplin waktu, jujur dan amanah. Jadilah pribadi yang tawakal kepada Allah, gemar beribadah, selalu berdoa, senang bersedekah dan banyak beristighfar.

Tentang rejeki, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jangan takut!

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya QS Hud: 6

Iya, semua sudah dijamin rejekinya oleh Allah Ta’ala. Tidak akan ada yang meleset sekecil apapun. Jika engkau ingin rejeki berlimpah dan berkah, jangan jauh-jauh dari Allah. Mendekatlah kepada Allah dengan thalabul ilmi!

15 Januari 2024

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (50) Beberapa waktu setelah belasan tahun tak bertemu, seorang kawan berkirim pesan untuk saya. Rupanya saat ini kawan itu...
  • (325) Untukmu yang akan kembali ke Pondok. Ini hanya sekeping cerita tentang kami, yaitu saya dan yang selangkah, senafas,...
  • Beliau adalah satu dari sekian banyak ulama Islam yang berasal dari daratan Andalusia. Kita sering mendengar nama kota-kota di...
  • (273) Rata-rata masa tunggu berangkat haji reguler untuk orang Indonesia adalah 30 tahun. Artinya, tahun ini mendaftar dan memperoleh...
  • Cerita ini dinukil oleh Al Hafidz Ibnu Katsir (Al Bidayah 12/368). Cerita tentang ulama Nahwu tersohor di zamannya. Sudah...
  • (350) Godaan Di Jalan Thalabul Ilmi Al Qadhi Iyadh (476 H – 544 H) adalah ulama terkemuka mazhab Maliki....

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca