Surat Buat Kawan di Jepang

3 menit baca
Surat Buat Kawan di Jepang
Surat Buat Kawan di Jepang

(50)

Beberapa waktu setelah belasan tahun tak bertemu, seorang kawan berkirim pesan untuk saya. Rupanya saat ini kawan itu berada di Jepang untuk sebuah tugas. Namun, bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Perihal pertanyaan kawan itu yang hendak saya tulis. Kawan saya bertanya, “Apakah memang benar bahwa dengan besarnya penghasilan, ujian di kehidupan menjadi lebih berat”

Kawan, baarakallahu fiik.

Ada satu kisah menarik tentang Umar bin Abdul Aziz, khalifah ke-8 dalam kekuasaan Bani Umayyah. Pemimpin muda yang meninggal dunia di usia 37 tahun. Hanya memerintah selama kurang lebih dua setengah tahun, sebelum wafat karena sempat diracun, masyarakat yang dipimpinnya makmur dan sejahtera.

Kepada Fatimah, istrinya, Umar bin Abdul Aziz menanyakan apakah ada uang tersisa untuk membeli anggur. Umar sedang ingin makan anggur. Tapi, Umar hanya mau menggunakan uang pribadinya. Bukan uang lainnya. Namun, saat itu tidak uang tersisa sama sekali.

“Anda adalah Amirul Mukminin. Anda tidak punya satu dirham pun atau satu nimyah (pecahan dirham) untuk membeli anggur?”, tanya istrinya keheranan.

Umar bin Abdul Aziz menjawab, “ Hal ini tentu lebih ringan dibandingkan belenggu-belenggu besi kelak dalam neraka Jahannam” (Al Hilyah 2/199)

Kawan, Umar bin Abdul Aziz adalah teladan dan satu contoh buat kita. Sebagai khalifah, kurang apa beliau? Kekuasaan di tangannya, singgasana di dudukinya, harta benda berlimpah, kekuatan militer tidak tertandingi, keluarga besarnya tak terbendung, dan apa lagi yang hendak diceritakan tentangnya?

Namun, dunia tak membuatnya silau. Kekayaan tak mengubah sifatnya yang sederhana. Jabatan tidak berpengaruh karena beliau tetap yang dulu ; pribadi yang rendah hati. Istri dan anak-anaknya tetap saleh dan salehah. Beliau dicintai oleh siapa saja. Tak hanya umat Islam yang menangis saat wafatnya, bahkan musuh sekalipun merasa kehilangan.

Ibnu Asakir (Tarikh Damaskus no. 7013) menyebutkan cerita kaisar Romawi yang menangis ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat. Padahal mereka berdua berhadap-hadapan sebagai musuh.

Cerita Ibnu Asakir berlanjut dengan keterangan kaisar Romawi kenapa menangis, “ Saya tidak begitu kagum dengan seorang pendeta yang mengunci pintu, menolak godaan dunia, lalu bersembahyang menjadi pendeta”.

“ Saya justru terkagum-kagum (dengan Umar bin Abdul Aziz) , seseorang yang dunia berada di bawah telapak kakinya, malah ia tolak dan memilih untuk beribadah”

Kawan, hafizakallah.

Problemnya bukan pada dunia itu sendiri.

Ibnu Rajab (Jamiul Ulum 392-393) menjelaskan panjang lebar tentang hal ini. Ayat al Quran dan hadits Rasulullah yang menerangkan tercelanya dunia bukan terletak pada waktu, tempat dan benda. Bukan siang malamnya. Bukan bumi dan isinya. Bukan gunung, laut, sungai, hasil tambang, pohon, dan hewan ternaknya. Sebab, semua hal itu adalah karunia dari Allah.

Titik masalahnya adalah tingkah polah dan perilaku manusianya.

Mereka yang salah jalan dalam mengelolanya. Mereka yang tanpa aturan dalam mencarinya. Tak peduli halal dan haram. Mereka yang awur-awuran untuk menghabiskannya. Tak berpikir manfaat atau madaratnya.

Titik masalahnya adalah manusia yang menjadikan dunia sebagai tolak ukur dan patokan kebahagiaan. Dikejarnya sampai melupakan tugas seharusnya untuk beribadah kepada Allah. Ambisinya membuat ia lupa bahwa harta benda dan materi yang ada padanya seharusnya menjadi sarana untuk mencari ridha dari Allah.

Kawan, banyak orang saleh yang kaya raya. Banyak kaum salaf yang kaya raya. Banyak sahabat Nabi yang kaya raya. Namun, hal itu tidak menjadikan kehidupan mereka susah dan menderita. Tak ada sedih yang mengganggu karena memikirkan harta. Justru, harta dan kekayaan mereka dimanfaatkan untuk beribadah hingga senanglah dan bahagialah hati mereka.

Asalkan, besarnya penghasilan itu hanya ada di tanganmu, bukan di hatimu, maka berbahagialah dirimu! Ketika di tanganmu tergenggam, semangat ibadahmu tak terganggu. Ketika lepas dari tanganmu, hatimu tak merasa galau.

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (242) Bekerja hanyalah alasan yang dibuat-buat. Itu sebatas mencari pembenaran. Sebab, jika benar-benar ingin bekerja, bekerja yang benar, tentu...
  • (81) Hakim bin Hizam belajar kepada Mu’adz bin Jabal. Beliau berdua sama-sama sahabat Nabi. Namun, Hakim lebih tua dan...
  • (241) Inilah Jalan Santri Kita! Kitab berjudul Syaraf Ashabil Hadis secara gamblang menerangkan keutamaan dan status mulia kaum santri....
  • Sulaiman dan Abdullah adalah saudara kembar. Dilahirkan di hari yang sama. Beliau berdua putra dari Buraidah bin al Hushaib,...
  • (33) Semula hanya membaca. Lewat begitu saja. Kurang atau bahkan tak mampu memahami makna. Surat Yusuf dalam Al Quran...
  • (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ustadz. Perkenalkan ana Fulan, ikhwan kota X. Ana dapat nomor ustadz dari salah satu ikhwah yang...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca