![]() |
| Godaan Di Jalan Thalabul Ilmi |
(350)
Godaan Di Jalan Thalabul Ilmi
Al Qadhi Iyadh (476 H – 544 H) adalah ulama terkemuka mazhab Maliki. Di usia yang masih muda, beliau dipercaya selama 16 tahun sebagai Qadhi wilayah Ceuta ( saat ini berstatus otonom Spanyol di ujung pantai utara Afrika). Setelah itu beliau dimutasi sebagai Qadhi wilayah Granada selama 8 tahun, sebelum kembali lagi menjadi Qadhi Ceuta sampai wafatnya.
Di antara karya besar beliau adalah kitab Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik li Ma’rifati A’laami Madzhabi Malik.
Sebuah karya yang menerangkan keutamaan ilmu para ulama kota Madinah, mendukung ulama-ulama mazhab Malik, biografi Imam Malik, murid-murid Imam Malik, dan biografi para ulama mazhab Maliki.
Di antara yang beliau jelaskan adalah biografi Yahya bin Yahya Al Laitsi. Di jilid 3 halaman 379 sampai 394.
Yahya bin Yahya berasal dari jazirah Andalusia (sekarang meliputi Spanyol, Portugal, dan sebagian Prancis). Sejak kecil telah melalui hari-hari dengan thalabul ilmi. Di usia 28 tahun, Yahya menempuh rihlah thalabul ilmi ke jazirah Arab.
Yahya bin Yahya berguru kepada Imam Malik di kota Madinah, bahkan termasuk murid terdekat dan kepercayaannya. Yahya adalah salah satu perawi kitab Al Muwattha’ karya Imam Malik.
Ada satu cerita disebutkan Al Qadhi Iyadh dalam kitab Tartibul Madarik. Tentang kota Madinah, semangat thalabul ilmi, dan sebuah kejadian yang jarang-jarang terjadi.
Ini bukan tentang boleh atau tidak boleh. Bukan mengenai haram halal. Ini bicara tekad dan keseriusan. Ini lambang keteguhan niat.
Suatu hari di majlis Imam Malik. Para penuntut ilmu hadir. Tiba-tiba ada suara orang berteriak heran, ” Ada gajah! “.
Majlis pun bubar. Para penuntut ilmu bergegas keluar untuk menyaksikan gajah. Hanya satu murid yang tetap tinggal di majlis. Yaitu Yahya bin Yahya.
” Kenapa engkau tidak ikut keluar untuk menyaksikan gajah? Di Andalusia tidak ada gajah “, tanya Imam Malik.
Yahya menjawab, ” Sungguh, saya datang jauh-jauh dari negeriku tujuannya untuk bertemu Anda dan menimba adab dan ilmu Anda. Saya tidak datang untuk melihat gajah “.
Imam Malik terkagum-kagum. Beliau pun menyebut Yahya dengan ‘Aqilu Ahli Andalus (cendekiawan penduduk Andalusia).
Pesan penting dari cerita di atas adalah koreksi niat, ” Untuk apa datang ke Madinah? Untuk apa datang ke Mekkah? Untuk apa datang ke Yaman? Dan untuk apa rihlah thalabul ilmi? “.
Ada banyak hal baru yang ditemui di tempat belajar. Di Saudi, misalnya. View-view instagramable, kuliner-kuliner terkenal, destinasi wisata yang mendunia, dan seabrek hal yang tentu mengundang penasaran untuk dieksplore.
Termasuk gairah persepakbolaan di Saudi yang sedang melanda. Banyak pemain bola kelas dunia yang bergabung dengan klub-klub bola lokal. Juga pertandingan internasional yang sering digelar.
Faktanya, tidak sedikit yang lebih memilih meliburkan diri dari majlis ilmu dengan alasan ingin melihat ini, mengetahui itu, mencoba sana, dan menyaksikan momentum tertentu.
Sekali lagi, ini bukan hanya tentang boleh atau tidak boleh. Bukan mengenai haram halal. Ini bicara tekad dan keseriusan. Ini lambang keteguhan niat.
Untuk sukses di jalur thalabul ilmi, tekad harus seperti tekad Yahya bin Yahya Al Laitsi yang disampaikan kepada Imam Malik, ” Sungguh, saya datang jauh-jauh dari negeriku tujuannya untuk bertemu Anda dan menimba adab dan ilmu Anda. Saya tidak datang untuk melihat gajah “.
21 Rabiul Akhir 1447 H/13 Oktober 2025
