![]() |
| Ketika Maaf Membasuh Trauma |
(277)
Ketika Maaf Membasuh Trauma
Tidak ada manusia yang luput dari salah. Walau tinggi ilmunya, meski tua usianya, tetap saja bisa salah. Jangan merasa tidak pernah berbuat salah!
Berbuat salah ada 2 konsekuensinya; bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada yang disalahi.
Bertaubat kepada Allah supaya kesalahannya diampuni, sementara meminta maaf kepada yang disalahi akan membasuh trauma di hati.
Nabi Muhammad ﷺ ma’shum. Artinya beliau terjaga dari kesalahan. Hal itu adalah kekhususan untuk Beliau ﷺ.
Walau demikian, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk kita agar siap meminta maaf dan terbuka lapang dada jika ada yang menuntut keadilan.
Abu Dawud (5224) yang disahihkan Al Albani, meriwayatkan tentang Usaid bin Hudhair yang sedang berbicara dan bercanda dengan sejumlah sahabat.
Nabi Muhammad ﷺ ikut bercanda bersama sahabat-sahabatnya, bahkan menekan pinggang Usaid menggunakan tongkat.
Usaid berkata, ” Beri kesempatan aku untuk membalas “
Nabi Muhammad dengan senang hati menjawab :
اصطبر
” Silahkan dibalas “
Usaid beralasan, ” Anda menggunakan baju, padahal saya tidak “.
Nabi Muhammad ﷺ mengangkat bajunya, lalu pinggang Beliau dipeluk dan dicium oleh Usaid. Berharap berkah.
” Sungguh, sebenarnya ini yang saya maukan “, kata Usaid.
Kejadian serupa pernah dialami oleh Sawad bin Ghaziyyah. Saat itu Nabi Muhammad ﷺ sedang merapikan barisan pasukan dalam perang Badar.
Sawad yang posisinya keluar dari barisan lebih ke depan, perutnya ditekan menggunakan anak panah oleh Rasulullah ﷺ, sambil bersabda:
استو يا سواد
” Luruskan, wahai Sawad! “
Sawad mengatakan, ” Wahai Rasulullah, Anda sudah menyakiti saya. Padahal Allah mengutus Anda membawa kebenaran dan keadilan. Beri kesempatan saya untuk membalas “
Rasulullah ﷺ pun mempersilahkan Sawad untuk membalas. Bukannya membalas, Sawad justru memeluk dan mencium perut Rasulullah ﷺ.
Hadis dihasankan Al Albani dalam As Sahihah nomor 2835
Subhanallah! Akhlak mulia yang luar biasa.
Nah, dalam pola asuh dan sistem mendidik, bisa saja orang tua melakukan kesalahan terhadap anak.
Niatnya tentu bagus, maunya untuk kebaikan anak, dan orang tua pasti punya alasan. Namun, cobalah memahami anak yang belum bisa berpikir seperti orang dewasa.
Jika ada kesalahan, apa beratnya untuk meminta maaf. Bila tidak segera meminta maaf, di hati anak muncul luka. Di benaknya ada trauma. Bahkan, anak bisa salah menilai orang tua.
Pentingnya Meminta Maaf kepada Anak untuk Menyembuhkan Luka Hati
Misalnya, orang tua berjanji untuk membelikan alat tulis. Harinya bahkan disebutkan. Ternyata, di hari dan waktu yang dijanjikan, orang tua lupa.
Segeralah minta maaf dan terangkan bahwa Anda sayang dan perhatian. Hanya saja lupa. Dan sesegera mungkin mengajak anak untuk membeli alat tulis yang dimaksud. Jangan ditunda!
Bila tidak demikian, anak akan menilai orang tua nya sebagai pembohong, tidak perhatian, tidak ada waktu untuk anak, dan ia merasa kurang dipedulikan.
Dan itu luka! Sudah berapa banyak luka pada anak kita?
Anak sedang memegang pisau tajam. Karena kaget, orang tua dengan suara keras mengatakan, ” Eh, jangan! Lepaskan pisau itu! “
Namanya anak, bisa salah menyimpulkan. Menurutnya, orang tua nya pemarah, tidak mau mengerti maunya anak, suka melarang, dan tidak sayang.
Dan itu luka! Berapa sering luka pada anak kita?
Bila ada kejadian seperti di atas, segeralah minta maaf kepada anak dan sampaikan dengan baik alasannya.
” Abi minta maaf, Mas. Tadi Abi bersuara keras karena tanda sayang. Abi tidak ingin Mas terluka kena pisau “, minimalnya demikian.
Sehingga, anak akan menyimpulkan: ” Oh, Abiku sayang. Abiku perhatian. Abiku tidak marah. Abiku tidak membenciku”
Iya, sesederhana itu.
Maka, jangan heran jika seorang anak di usia remaja melakukan penentangan dan “memberontak”. Anak memaki dan mengata-ngatai orang tua. Anak membenci bahkan berharap orang tuanya mati.
Kenapa hal itu terjadi? Banyak faktor. Salah satunya karena luka yang bertumpuk di hati, trauma yang berlapis-lapis di jiwanya.
Apabila masih ada waktu, bukan aib dan tidak akan mengurangi kehormatan, jika orang tua tulus meminta maaf kepada anak.
Sekali dua kali, satu atau dua bulan, bahkan bertahun-tahun, belum tentu cukup untuk membasuh luka pada anak. Sebab, ia pun mengalami luka cukup lama.
Namun yakinlah, sehitam apapun hati, seberkarat apapun isinya, akan bersih juga bila selalu dibasuh.
Basuhlah dengan meminta maaf! ” Maafkanlah orang tuamu ini, Anakku”.
Jum’at 19 Juli 2024
