![]() |
| I’tikaf : Sesekali Tak Ingin Ramai |
(373)
Lembah Al Aqiq. Lembah sepi di pinggiran kota Madinah. Jauh dari keramaian. Lembah Al Aqiq lembah subur yang sejak zaman dahulu dikenal dengan sumber air jernih dan rimbunnya pepohonan.
Hari itu sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash sedang mengawasi unta-unta yang Beliau gembalakan. Setelah wafatnya khalifah Utsman bin Affan, Beliau sengaja menyepi tinggal di sana.
Kepada keluarganya, Sa’ad berpesan untuk tidak menginformasikan apa pun tentang apa yang sedang terjadi di luar sana kecuali setelah kaum muslimin sepakat di bawah seorang pemimpin. Sebab, hari-hari itu banyak perselisihan dan pertikaian mengenai kekuasaan.
Melihat salah satu putranya dari kejauhan, Umar, tiba-tiba datang, Sa’ad berkata, ” Aku memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan pengendara kuda ini “.
Setelah turun, Umar berkata, ” Apakah Anda sibuk mengurusi unta dan kambing, lalu Anda membiarkan orang-orang saling berebut kedudukan di antara mereka?”.
Sa’ad memukul dada putranya sambil berkata, ” Diam! Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;
” Sungguh, Allah mencintai hamba yang bertakwa, selalu merasa cukup, dan berusaha menyembunyikan diri ” HR Muslim 2965
Sa’ad bin Abi Waqqash; sahabat Nabi yang telah dipastikan masuk surga, di usia remaja telah memeluk Islam dan tergolong pertama-tama masuk Islam, orang pertama yang melepas anak panah di jalan Allah, penakluk Irak, doanya mustajab, dan satu dari enam sahabat yang ditunjuk khalifah Umar untuk menentukan siapa khalifah penggantinya.
Sahabat Sa’ad dengan sabda Rasulullah ﷺ sebagai pegangan kuat, mengajarkan untuk kita bahwa terkadang ada waktu-waktu di mana seorang hamba harus memilih waktu dan menentukan lokasi untuk lebih bisa fokus beribadah kepada Allah Ta’ala.
10 hari terakhir Ramadhan sudah di depan mata. Kesempatan terbaik untuk i’tikaf. Bisa i’tikaf siang malam dari malam 21 hingga malam Idul Fitri, atau i’tikaf di malam hari saja.
I’tikaf artinya memutus beban keduniaan dan membatasi interaksi dengan manusia, agar bisa lebih fokus beribadah.
Ibnul Qayyim (Zaadul Ma’ad) menulis hikmah puasa dan i’tikaf, bahwa agar hati tetap bersih dan istiqamah menapaki jalan menuju Allah Ta’ala, maka seorang hamba harus totalitas menyerahkan diri kepada Allah.
Sementara, kata Ibnul Qayyim, ” Makan minum berlebihan, berbaur dengan manusia berlebihan, berbicara berlebihan, dan tidur berlebihan, akan membuat hati bertambah galau, memecah konsentrasi, dan menghalangi perjalanannya menuju Allah Ta’ala”.
Benar! Dunia dan semua pernak-perniknya membuat kotor hati, jiwa penuh noda, dan pikiran penat. Dunia benar-benar melalaikan. Memang terlihat indah, padahal ibarat fatamorgana yang menipu saja.
Menurut Ibnul Qayyim, tujuan dan ruh dari beri’tikaf adalah, ” Bertautnya hati, fokus, dan berkhalwat hanya kepada Allah. Juga memutus kesibukan dari makhluk agar konsentrasi hanya kepada Allah semata “
Iya. Hati perlu diistirahatkan, jiwa mesti diberi rehat, badan dikasih kesempatan melepas lelah, dan pikiran ada interval dari kesibukan. Caranya? Putus diri dari beban dunia dan fokus ibadah kepada Allah.
Tujuan terbesar i’tikaf, kata Ibnul Qayyim, ” Supaya ia memperoleh kedamaian bersama Allah, bukannya merasa nyaman dengan makhluk. Ia mempersiapkan diri dengan hal itu guna menghadapi hari kesendirian di dalam kubur, ketika tidak ada yang menemaninya, dan tidak ada yang membuatnya bahagia selain Allah “.
Jika belum mampu memilih jalan hidup sebagaimana sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash memilih, paling tidak hamba menentukan waktu-waktu tertentu untuk mengkhususkan dirinya dengan Allah Ta’ala.
Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ Fatawa, 10/426), ” Harus ada waktu bagi hamba menyendiri untuk berdoa, dzikir, salat, bertafakkur, introspeksi diri, membenahi hati, serta hal-hal bersifat privasi yang tidak mungkin dilakukan bersama orang lain. Hal-hal ini perlu dilakukan dengan menyendiri “
I’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini semoga menjadi salah satu pilihannya.
anakmudadansalaf.id
