![]() |
| Babe-Babe di Pesantren |
(279)
Kata Babe sangat familiar di lingkungan Betawi. Lebih luas lagi untuk area Jabodetabek sekarang ini. Bahkan, sudah jamak digunakan di seluruh daerah di Indonesia.
Babe diartikan ayah. Juga dipakai untuk panggilan akrab terhadap orang tua, termasuk pemuka dan pemimpin.
Apa jadinya jika babe-babe ada di pesantren?
Ah, rupanya tim kreatif berbagai pesantren menjadikan babe untuk singkatan badan usahanya.
Babe Jamal ( Barang Bekas Jadi Amal ) ada di beberapa titik seperti Magelang, Batang, dan Purbalingga. Babe Jaber ( Barang Bekas Jadi Berkah ) ada di Rakit Banjarnegara, Babe Hasan ( Barang Bekas Hasilnya Untuk Pembangunan ) di Wates Kulonprogo, dan Babe Alaska ( Barang Bekas Al Faruq As Salafi Kalibagor) di Banyumas.
Masih ada babe-babe lainnya, seperti: Babe Jala di Rembang, Babe Perkasa di Krete, dan Babe Maba di Kalikajar. Tiga terakhir ada di kabupaten Purbalingga.
Barang bekas jika diolah dan didaur-ulang memiliki nilai jual yang tinggi. Perputaran uang di sektor barang bekas sangat fantastis. Nilainya sampai miliaran rupiah per bulan untuk satu orang pengepul besar.
Sebagai gambaran, dunia barang bekas mengenal beberapa tingkatan. Mulai dari pengayak/pemulung, pengepul, koordinator pengepul, pemasok suplier, suplier, hingga pabrik daur ulang.
Barang bekas ada banyak jenis. Utamanya logam, kertas, dan plastik. Tiap jenis ada klasifikasinya. Cara pemilahan dan packing yang berbeda, akan menghasilkan nilai uang yang berbeda juga.
Hari Rabu 24 Juli 2024. Di gedung TA Putra Ponpes Al Manshurah Purbalingga, untuk yang pertama kali, diadakan temu diskusi dan sharing antar koordinator Tim Barang Bekas yang berasal dari berbagai pesantren.
Tercatat ada 147 peserta, selain tuan rumah, yang turut hadir. 147 peserta tersebut berasal dari lebih 14 kota dan kabupaten di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ditambah lagi peserta dari Bekasi, Tangerang, dan Bogor.
Suasana keakraban dan kebersamaan sangat terasa. Saling support dan saling mendukung tersampaikan. Ada banyak pengalaman yang dibagikan. Ada cerita-cerita unik yang dikisahkan. Tentu tips, teknik, dan solusi pengelolaan barang bekas yang menjadi menu utama.
Ponpes Al Manshurah dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai paling maju dan profesional dalam pengelolaan barang bekas. Bahkan, telah ditetapkan sebagai badan usaha resmi milik pesantren. Rata-rata per bulan, tim barang bekas menyumbang pemasukan 10 juta rupiah untuk Ponpes Al Manshurah Purbalingga.
Temu diskusi hari itu memiliki beberapa tujuan sekaligus rekomendasi, bahwa dakwah dan tarbiah harus ditopang kekuatan finansial yang kuat. Tugas ini adalah tugas bersama. Untuk siapa saja, tidak hanya yang kaya.
Selain itu, temu diskusi di Purbalingga juga untuk berbagi semangat bagi semua daerah yang mengelola barang bekas, bahwa kita tidak sendiri. Ada banyak saudara yang berjuang di sektor ini.
Rasulullah ﷺ bersabda :
اتَّقُوا النَّارَ ولو بشقَّةِ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ شِقَّةَ تَمْرَةٍ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
” Lindungilah dirimu dari neraka, walau dengan secuil kurma. Siapa yang tidak memiliki secuil kurma, maka bisa dengan kalimat yang baik ” HR Bukhari 3595 Muslim 1016 dari sahabat Adi bin Hatim.
Artinya, beribadah harus dilakukan sebisanya dan semampunya. Jangan patah hati dengan yang sedikit, jangan pesimis karena dinilai kecil. Sebab, semuanya bisa bernilai besar di sisi Allah Ta’ala.
Dari barang bekas, kita merajut harapan untuk masa depan. Dari barang bekas, kita berjuang. Jangan berhenti! Baarakallahu fiikum
29 Juli 2024
