Rindu Melebihi Rindunya Ke Ka’bah

3 menit baca
Rindu Melebihi Rindunya Ke Ka’bah
Rindu Melebihi Rindunya Ke Ka’bah

(369)

Haru membawanya tanpa dia rasa. Titik-titik air mata membasahi pipinya.

Bertahun lamanya penantian. Tak lelah doa-doa ia panjatkan. Walau sedikit demi sedikit, ia percaya menabung adalah bukti kesungguhan. Ia yakin sekeping apapun usaha, tidak akan sia-sia. Tidak akan!

Entah disebut apa perasaan berkecamuk di hatinya, karena ia kehabisan kata untuk mengungkapkannya. Selangkah lagi ia akan tiba di Tanah Suci.

Duh, hamba. Adakah rumah yang lebih engkau rindukan dibanding Rumah Allah? Adakah rumah yang setiap waktu engkau hadapkan hati dan arahkan wajahmu ke sana selain Rumah Allah? Kaum beriman tidak mungkin berpaling dari Rumah Allah.

Baitullah artinya Rumah Allah. Baitullah adalah Ka’bah. Allah adalah pemiliknya; Rabbul Bait dan Rabbu Hadzal Bait.

Allah Ta’ala berfirman;

فَلْيَـعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِ 

“Maka hendaklah mereka beribadah kepada Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah)” (QS. Quraisy: 3)

Allah lah satu-satunya Dzat yang melimpahkan rezeki; makanan agar hamba tidak lapar, minuman agar tidak haus, pakaian agar tidak telanjang, dan tempat tinggal agar tidak kedinginan tidak kepanasan.

Allah lah, tidak ada yang lain, Dzat yang mencurahkan; rasa aman supaya hilang ketakutan, kesehatan supaya tidak sakit, dan waras supaya baik-baik saja mentalnya.

Hamba yang beribadah kepada Rabbu Hadzal Bait, akan memperoleh karunia-karunia tersebut.

Allah Ta’ala berfirman pada kelanjutan ayat;

الَّذِيْۤ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ

“Dzat Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.” (QS. Quraisy: 4)

Jika ada segunung rindu ke Ka’bah, ada sedalam samudra rindu ke Al Bait, maka rindu hamba kepada Rabbul Bait melebihi itu semua.

Jika sedihnya tak terbilang karena belum sampai ke Ka’bah, jika nestapa tak terukur karena belum tiba di Al Bait, tentunya betapa sedih dan nestapa seorang hamba yang kelak tidak berjumpa Rabbul Bait dengan ridha Nya.

Al Hafiz Ibnu Rajab (Lathaiful Ma’arif, 332) menyebutkan kisah.

Ada orang saleh turut menyaksikan rombongan haji yang akan berangkat ke Tanah Suci. Sambil berdiri, orang saleh itu menangis. Ia berkata, ” Duhai, betapa lemahnya aku! “. Kemudian ia berucap syair ;

فَقُلْتُ دَعُوْنِيْ وَاتّبَاعِيْ رِكَابَكُمْ … أَكُنْ طَوْعَ أَيْدِيْكُمْ كًمَا يَفْعَلُ العَبْدُ

” Aku pun mengatakan; biarkanlah aku mengikuti rombongan kalian.

Aku siap menjalankan perintah kalian, sebagaimana layaknya budak melakukan”

Orang saleh tersebut menghela nafas lalu berkata, ” Sudah begini malangnya orang yang tidak bisa sampai ke Al Bait. Maka, seperti apa malangnya orang yang tidak bisa sampai ke Rabbul Bait? “

Dia melanjutkan, ” Sudah seharusnya galau jika hanya bisa melihat orang-orang bisa sampai, sementara ia terputus jalan. Sudah semestinya bersedih jika ia menyaksikan orang-orang menempuh perjalanan menuju surga, sementara ia hanya duduk-duduk saja “

Duh, hamba. Jika tulus merindu ke Ka’bah, maka jangan lupakan merindu mu kepada Pemilik Ka’bah. Jika berduka karena belum bisa ke Ka’bah, maka jangan lewatkan momen-momen bersujud simpuh kepada Pemilik Ka’bah.

Duh, hamba. Jika bersedih karena menyaksikan orang-orang tengah berjuang menuju Al Bait, maka tidakkah engkau bersedih jika tidak berjuang menuju surga Nya? Jika bersedih karena belum mampu berthawaf mengelilingi Ka’bah, ah betapa sedihnya kelak jika tidak bisa berjalan-jalan dan berkeliling di surga Nya?

وَقَا لُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ صَدَقَنَا وَعْدَهٗ وَاَ وْرَثَنَا الْاَ رْضَ نَتَبَوَّاُ مِنَ الْجَـنَّةِ حَيْثُ نَشَآءُ ۚ فَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَ

“Dan penduduk surga berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az-Zumar: 74)

anakmudadansalaf.id

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (312) Dari Ponpes Imam Syafi’i di desa Pungka Sumbawa menuju pelabuhan Poto Tano, kami harus menempuh perjalanan 95 km....
  • (198) Akrabnya Mekkah Dengan Orang Lemah Aplikasi nyata ajaran mulia Islam terhadap kaum lemah, terasa benar di Masjidil Haram....
  • (Seri Ibnul Qayyim – 01) Barangsiapa telah mengetahui jalan yang akan mengantarkannya kepada Allah, lalu justru ia tinggalkan. Malah...
  • (273) Rata-rata masa tunggu berangkat haji reguler untuk orang Indonesia adalah 30 tahun. Artinya, tahun ini mendaftar dan memperoleh...
  • “Di manakah dirimu? Padahal jalan kebenaran hanya satu”, kata Ibnul Qayyim. Beliau menerangkan bahwa di jalan tersebut, ” Adam...
  • (356) Kakak adik tak akur. Bapak anak saling menghindar. Menantu mertua tanpa kata tanpa sapa. Suami istri membenci bagai...

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca