![]() |
| Ngerumpi Kaum Istri, Ngerumpi Para Suami |
(302)
Kebiasaan ngerumpi tak hanya dijumpai pada kaum istri. Para suami pun sering ngerumpi. Hanya berbeda dalam beberapa hal tentang yang dirumpikan.
Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa materi ngerumpinya kaum istri sangat luas dan lebih variatif. Mulai urusan dapur, sumur, hingga kasur.
Tujuan ngerumpi sangat tidak jelas. Umumnya adalah membicarakan kelebihan dan kekurangan orang lain.
Karena ngerumpi, waktu pun terbuang percuma. Tidak produktif. Bahkan, seringkali berakhir dengan salah paham, jengkel, dan sakit hati. Tidak jarang menimbulkan fitnah.
Kebiasaan ngerumpi yang terlanjur mengakar, malah diangkat sebagai tayangan infotainment di media-media. Isu, gosip, cerita, dan kabar-kabar burung justru dikemas untuk mencari untung dengan alasan menghibur.
Islam melarang ngerumpi dengan pengertian di atas.
Al Bukhari (Adabul Mufrad 119) meriwayatkan hadis Abu Hurairah tentang seorang perempuan yang rajin salat malam, sering puasa, suka berbuat baik, dan sedekah.
Akan tetapi, perempuan itu juga mempunyai kebiasaan jelek, yaitu menyakiti tetangga-tetangganya dengan kata-kata.
Rasulullah ﷺ yang ditanya, bersabda :
لَا خَيْرَ فِيهَا ، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
Perempuan itu tidak ada baiknya sedikit pun. Dia termasuk penduduk neraka
Apa artinya kebaikan yang dilakukan? Jika di saat yang bersamaan, ia rubuhkan bangunan kebaikan dengan lisan.
Walau banyak kebaikan dikerjakan, namun mulut yang tidak dikendalikan, membuat kebaikan-kebaikan itu hangus terbakar tidak tersisakan.
Akibat suka ngerumpi terputuslah tali persaudaraan, berubahlah dari kawan menjadi lawan, cinta menjadi murka, dan persatuan hancur berkeping-keping berserakan.
Akibat ngerumpi, hidup bertetangga tak nyaman sedikit pun, tatanan masyarakat rusak, bahkan suasana lingkungan ngaji terdampak.
Mengerikan!!
Abu Dawud (4878) meriwayatkan hadis Anas bin Malik tentang perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau menyaksikan orang-orang dengan kuku-kuku tembaga yang tajam, mencakar-cakar wajah dan dadanya sendiri.
Nabi Muhammad ﷺ menanyakan hal itu kepada malaikat Jibril.
هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ
Mereka yang suka makan daging manusia (ghibah) dan menjatuhkan kehormatan orang lain, jawab Jibril.
Naudzu billah min dzalik.
Cukuplah hadis di atas sebagai nasihat!
Jangan suka membicarakan orang lain. Jangan diam ketika mendengar yang lain membicarakan seseorang. Alihkan pembicaraan ke hal yang lain!
Jika Anda yang dibicarakan, tidak perlu direspon. Jangan ditanggapi! Anggap saja tidak ada. Bersabar dan berlapang dada lah.
Diam lebih baik. Jangan ikut-ikutan menanggapi di grup-grup WA jika tidak bisa memastikan ada manfaatnya. Jangan sedikit-sedikit bikin status yang menyindir personal. Diam lebih baik.
Iya, dengan diam bersabar, banyak problem terselesaikan. Walhamdulillah
Pagi hujan di Lendah, 10 Desember 2024
