![]() |
| Cita-cita Suci Penghafal Kitab Suci |
(304)
Tepat satu pekan hari ini. Peristiwa Ahad 15 Desember 2024 di jalan raya Nganjuk, Bagor, tetap saja menyisakan kesedihan.
Kakak yang hendak mengantarkan adiknya kembali ke Pesantren, keduanya meninggal dunia. Motor yang mereka naiki dihantam bis dari arah berlawanan. Bis ugal-ugalan itu melewati marka jalan. Ngeblong.
إنا لله وإنا إليه راجعون
Kakak (Ar Rayyan, 19 tahun) telah hafiz menyelesaikan hafalan 30 juz Al Qur’an. Adiknya (Abdurrahim), anak bungsu berusia 15 tahun, telah menghafal 26 juz. 5 tahun sebelumnya, ayah mereka telah wafat.
Kaum penghafal kitab suci bukanlah orang-orang biasa. Mencintai Al Qur’an adalah sifat orang beriman. Cinta Al Qur’an bukan cinta sembarang cinta.
Apalagi di usia remaja, cinta Al Qur’an sangatlah istimewa.
Maka, mendengar wafatnya kakak beradik di atas, walaupun bukan keluarga, bahkan tidak ada interaksi sebelumnya, rasa sedih tetap ada.
Bolehkah bersedih? Boleh. Siapa yang melarang? Sepanjang sedih itu sedih yang sewajarnya.
Rasulullah ﷺ bersedih ketika 70 sahabat penghafal kitab suci Al Qur’an gugur dibunuh. Peristiwa itu disebut Peristiwa Sumur Ma’unah, di tahun ke-4 hijriah bulan Shafar.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan ucapan sahabat Anas bin Malik, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah bersedih karena wafatnya seseorang, seperti sedihnya beliau saat para sahabat gugur di Sumur Ma’unah. Bahkan selama 30 hari, Beliau mendoakan kejelekan untuk para pembunuh“
Meski bersedih, banyak hikmah dan pembelajaran hidup yang dapat diambil dari meninggalnya para penghafal kitab suci.
Bukankah cita-cita mereka meninggal dunia dalam keadaan istiqamah? Dalam keadaan berjuang menghafal dan mempelajari kitab suci.
Itulah jalan kehidupan dan jalan kematian yang mereka pilih.
Lagipula, jika masih berumur panjang, tidak ada jaminan semangat dan istiqamah itu tetap terjaga. Di zaman ini, banyak sekali godaan syubhat dan rayuan syahwat. Belum tentu bisa selamat.
Tidak sedikit remaja yang telah hafiz Al Qur’an, akhirnya meninggalkan Al Qur’an. Banyak remaja yang sebelumnya semangat menghafal Al Qur’an, justru berbalik hati dengan menjauhi Al Qur’an.
Justru yang masih hidup menghirup nafas segar lah, yang harus berjuang agar tetap istiqamah berjuang bersama Al Qur’an.
Dari Peristiwa Sumur Ma’unah, seorang dari kelompok penyerang masuk Islam.
Ibnul Atsir dalam Usudul Ghabah, menyebut biografi Jabbar bin Salma yang membunuh sahabat Amir bin Fuhairah di Sumur Ma’unah.
Jabbar bercerita, ” Sebab yang mendorongku masuk Islam adalah saat aku menusuk satu orang dari mereka dengan tombak, aku mendengarnya berkata: Demi Allah, sungguh beruntung diriku!”
” Dalam hati aku bertanya-tanya, ” Beruntung bagaimana? Bukankah aku sudah membunuhnya “, lanjut Jabbar.
Jabbar mencari tahu, apa sebabnya sahabat itu mengatakan, ” Demi Allah, sungguh beruntung diriku!”.
Orang-orang menjelaskan; ia beruntung karena gugur sebagai syahid.
Jabbar bin Salma berucap, ” Benar-benar beruntung dia, demi Allah!”
Maka, wafatnya para penghafal kitab suci bisa jadi sebab Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang, termasuk hidayah untuk mencintai Al Qur’an, termasuk hidayah untuk bercita-cita wafat sebagai ahlul Qur’an.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, untuk teman-teman seperjuangannya, berdoalah dan memohonlah kepada Allah agar mereka diridhai. Supaya mereka meraih husnul khatimah.
Mudah-mudahan mereka tergolong di dalam hadis Rasulullah ﷺ :
يبعث كل عبد على ما مات عليه
“Tiap orang, akan dibangkitkan sesuai kondisinya saat meninggal dunia” HR Muslim no.2878 dari sahabat Jabir.
Semoga orang tua mereka termasuk orang tua yang beruntung menggunakan mahkota cahaya di hari kiamat. Wafatnya mereka saat perjalanan thalabul ilmi adalah tabungan di akhirat.
Yakinlah bahwa Allah menetapkan yang terindah!
Juwata, Ahad, 22 Desember 2024
