Tarakan – Tanjung – Berau : Harapan di Ujung Galau

3 menit baca
Tarakan – Tanjung – Berau : Harapan di Ujung Galau
Tarakan – Tanjung – Berau : Harapan di Ujung Galau

(306)

Kali ini, rute perjalanan disusun berbeda. Turun di Tarakan, menyeberang ke Tanjung, lalu pulang melalui Berau.

Alhamdulillah 3 wilayah telah membangun komunikasi untuk kegiatan dakwah, yaitu Tarakan dan Tanjung (Kalimantan Utara), dan Berau di Kalimantan Timur.

Satu langkah yang patut diapresiasi. Bukti bahwa berdakwah adalah ibadah lintas batas wilayah. Berdakwah adalah ibadah universal.

Ini kunjungan pertama ke Berau. Sebuah kabupaten di ujung utara propinsi Kalimantan Timur. Ibukotanya bernama Tanjung Redeb.

Kota Berau dikepung oleh sungai-sungai panjang dan lebar. Sungai Segah adalah sungai terbesar yang membelah kota Berau dan bermuara di Laut Sulawesi. Sungai Segah bertemu dengan sungai Kelay dan sungai Bedungun di Tanjung Redeb.

Batas kota sisi tengah sejajar dengan tepian sungai Segah. Dari tepiannya, kita menyaksikan lalu lintas kapal-kapal tongkang pengangkut batubara dan sawit. Kapal barang dan penumpang juga lalu lalang.

Berau dikenal sebagai daerah tambang batubara yang sudah puluhan tahun dikelola berbagai perusahaan. Suasana tambang sangat terasa.

Di Berau, dakwah Salaf tumbuh berkembang. Puluhan keluarga dipertemukan oleh semangat thalabul ilmi. Mayoritasnya para karyawan perusahaan tambang.

Ada 2 unit rumah yang disewa untuk kegiatan belajar mengajar putra-putri mereka. Di bawah naungan sebuah yayasan, Rumah Belajar Ibnu Abbas berdiri sebagai suluh yang menerangi.

Padatnya aktivitas bekerja di tambang, tidak menghalangi untuk meluangkan waktu guna mengelola kegiatan dakwah dan pendidikan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

” Satu hektar hanya 4 juta rupiah “, ujar Abu Zuhron.

Sambil mengendalikan kemudi mobil dari Tanjung menuju Berau, Abu Zuhron menerangkan banyak hal tentang Tanjung Selor dan Berau.

Abu Zuhron bercerita mengenai potensi sumber daya alam, cuaca, dan budaya masyarakat setempat.

Baik dari melalui jendela pesawat maupun saat di darat melintasi, kita disuguhkan betapa banyak manusia-manusia yang rakus. Hutan-hutan digunduli, daratan dibiarkan berlubang menganga bekas tambang ilegal.

Rakus!

Namun, akhirnya vonis rakus harus ditujukan pada diri sendiri. Kenapa?

Saat Abu Zuhron menerangkan bahwa harga tanah di kawasan masih murah, yaitu 4 juta untuk 1 hektar dengan biaya pengurusan surat 500 ribu, ditambah bayangan manis jika dikelola menjadi kebun sawit, ” Ah, akan banyak kebun sawit yang saya punya. Berhektar-hektar tanah akan saya kelola. Ada rumah besar dengan kolam dan kebun “, saya langsung membayangkan.

Ternyata saya pun masih rakus! Serakah!

Benar sabda Rasulullah ﷺ :

لَوْ أنَّ لِابْنِ آدَمَ وادِيًا مِن ذَهَبٍ أحَبَّ أنْ يَكونَ له وادِيانِ، ولَنْ يَمْلَأَ فاهُ إلَّا التُّرابُ، ويَتُوبُ اللَّهُ علَى مَن تابَ

” Andai anak Adam sudah mempunyai emas satu lembah, tentu ia tetap berkeinginan mempunyai dua lembah emas. Mulutnya tidak akan bisa penuh kecuali dengan tanah. Allah menerima taubat hamba yang bersungguh-sungguh taubat ” HR Bukhari 6439 Muslim 1048 dari sahabat Anas bin Malik.

Manusia sangat rakus lagi serakah!

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan” (QS Al Adiyat; 8)

Menurut As Sa’dii, ” Kecintaannya itulah yang menyebabkan ia tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Ia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada keridhaan Rabbnya. Semua itu karena ia pandangannya terbatas pada dunia, sementara akhirat ia lalaikan “.

Ketika mendengar harga tanah yang begitu murah bila dibandingkan di sekitar rumah, nafsu serakah langsung muncul.

Lupa kalau itu jaraknya jauh. Lupa kalau hidup hanya sementara. Lupa jika sudah memiliki tanah dan rumah. Lupa jika tanah yang ada saja tidak sempat dirawat. Manusia mudah lupa diri.

Karena sifat rakus dan serakah selalu mengiringi, maka tidak ada jalan untuk selamat kecuali cepat-cepat beristighfar, ” Astagfirullahal azhiiim wa atubuu ilaihi”.

Sebab, Allah Ta’ala menerima taubat hamba yang sungguh-sungguh bertaubat.

ويَتُوبُ اللَّهُ علَى مَن تابَ

Kulonprogo, 26 Desember 2024

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca