![]() |
| Pondok : Masa Depan Kami (V / Penutup) |
(329)
Pondok adalah ladang untuk menabur benih-benih kebaikan. Di Pondok, terbuka kesempatan menyemai amalan saleh. Dan di Pondok lah, kita menebar bibit-bibit kebajikan. Hal ini tidak hanya berlaku untuk santri. Siapapun hendaknya terpanggil.
Konsekuensi di dunia adalah bagaimana bertahan hidup. Dengan bekerja, kita makan minum dan memenuhi kebutuhan lainnya. Namun, jangan lupakan akhiratmu! Di Pondok lah kita membentangkan jembatan menuju surga.
Apa yang bisa dilakukan? Di Pondok masih banyak kekurangan yang mesti dibenahi.
Jika ada yang bertanya, apa kekurangan di Pondok? Bila Anda menyebut 1 kekurangan di Pondok, maka saya bisa menyebut setumpuk kekurangan. Nah, di situlah kesempatan beramal terbuka. Di situ peluang mendulang pahala.
Pondok bukannya anti kritik. Guru-guru kami juga tidak phobi dengan saran dan masukan. Justru di Pondok kami belajar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Tiap-tiap orang punya kekurangan.
Namun jangan lupa, bahwa kita pun berkewajiban untuk menutup aib dan tidak mengumbarnya. Kita berkeharusan untuk memperbaiki, bukan malah merubuhkannya.
Ambil contoh aspek kebersihan. Iya, di manapun, tidak hanya di Pondok, kebersihan mesti dijaga dan diperhatikan.
Apabila melihat sesuatu yang kotor, jangan hanya bicara, jangan hanya marah-marah, jangan hanya mencela, dan jangan hanya pergi sambil menggerutu. Apalagi hanya menyalah-nyalahkan orang lain.
Bukhari (406) dan Muslim (547) meriwayatkan hadis Ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ pernah melihat ludah di dinding kiblat. Beliau lalu membersihkannya kemudian menghadap ke arah sahabat-sahabatnya dan bersabda :
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقْ قِبَلَ وَجْهِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى
“ Jika kalian salat, janganlah meludah ke arah depan. Sungguh, Allah di arah wajahnya jika ia salat “.
An Nawawi (Syarah Muslim) memberikan judul untuk hadis di atas “ Larangan meludah di masjid, baik saat salat maupun di luar salat “
Subhaanallah! Rasulullah ﷺ mengajarkan langkah-langkah bagaimana seharusnya jika melihat sesuatu yang kotor.
Pertama; aksi langsung untuk membersihkan. Tidak menunggu atau memerintah orang lain. Intinya adalah memberikan contoh.
Kedua; mengingatkan dan mengajak orang lain untuk sama-sama ikut andil memperhatikan kebersihan.
Jadi, kalau menilai di Pondok aspek kebersihan kurang terperhatikan, atau melihat sisi-sisi kotor, bukannya mencela, namun berpikir yang disertai aksi nyata untuk bagaimana memberikan solusi.
Misalnya, berinisiatif untuk membantu pengadaan fasilitas kebersihan seperti sapu, tong sampah, atau semisalnya. Atau siap memberikan hadiah bagi santri pegiat kebersihan. Atau memfasilitasi acara edukasi hidup bersih oleh tim kesehatan. Atau menyumbang media yang berisi petunjuk hidup bersih. Atau sumbangsih lainnya.
Jujur saja bahwa banyak kebaikan yang telah kita peroleh selama di Pondok. Satu saja sudah cukup sebagai alasan untuk kita membalas kebaikan dengan kebaikan.
Di saat kita belajar huruf-huruf hijaiyah, melafalkan dengan benar, sampai bisa membaca Al Qur’an dengan baik, bukankah kebaikan ini sangat istimewa?
Maka, jadilah insan yang berintegritas yaitu membalas kebaikan dengan kebaikan. Karena sudah banyak kebaikan didapat di Pondok (jangan hanya melihat sisi kekurangannya!), maka berikanlah hal yang baik untuk Pondok juga.
Allah berfirman :
وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ
“ Dan janganlah kalian melupakan kebaikan di antara kalian “ QS Al Baqarah ;237
Lendah, 17 April 2025
