Berteduh di Bawah Payung Adab

3 menit baca
Berteduh di Bawah Payung Adab
Berteduh di Bawah Payung Adab

(368)

Ilmu dan adab tidak boleh dipisahkan. Ilmu tidak ada artinya tanpa adab. Dan adab tidak mungkin diketahui tanpa menuntut ilmu.

Percuma pandai bila kurang adab. Apa yang dibanggakan dari darah bangsawan jika kehilangan adab. Untuk apa jabatan tinggi kalau tidak beradab.

Tanpa adab, cantik dan tampan tidak bernilai. Tanpa adab, kekayaan dan harta tiada guna. Tanpa adab, yang nampak bagus berubah buruk. Tanpa adab, yang lahiriah nya menarik menjadi dibenci.

Biar dikata jelek, dengan adab menjadi cantik dan tampan. Biar tidak pandai, dengan adab lebih dihormati. Biar rakyat jelata, dengan adab pasti dimuliakan. Biar miskin, asalkan beradab tentu berwibawa.

Muhammad bin Sirin ( Al Jami’ Li Akhlaqir Rawi, 1/79) bercerita, ” Mereka (kaum Salaf) mempelajari adab sebagaimana mempelajari ilmu “

Makhlad bin Al Husain (Al Jami’ Li Akhlaqir Rawi, 1/80) mengingatkan, ” Kita lebih banyak membutuhkan adab dibandingkan ilmu hadis “

Anas bin Malik menasihati seorang remaja dari suku Quraisy, ” Wahai, putra saudaraku. Belajarlah adab sebelum engkau belajar ilmu ” ( Hilyatul Auliya, 6/330)

Oleh sebab itu, Salaf tidak hanya semangat menambah ilmu, namun mereka juga mempelajari adab dari majlis-majlis ilmu.

Adz Dzahabi (Siyar A’lam Nubala 11/316) menyebutkan bahwa di majlisnya Imam Ahmad bin Hanbal ada 5.000 lebih yang menghadiri. 500-an mencatat hadis, adapun yang lain memperhatikan adab dan perilaku baiknya Imam Ahmad.

Subhanaallah! 1 banding 10. 1 orang mencatat hadis, 10 mempelajari adab.

Abdullah bin Wahb bertutur, ” Adab Imam Malik yang kami pelajari, jauh lebih banyak dibandingkan ilmu yang kami timba dari Beliau ” (Siyar A’lam Nubala, 8/113)

Di antara adab yang sangat penting adalah berbahasa dengan santun, berkata sopan, berbicara yang halus, dan memilih kata beretika.

Allah Ta’ala berfirman;

وَقُوْلُوْا لِلنَّا سِ حُسْنًا

” Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia”(QS. Al-Baqarah : 83)

Harga diri seseorang pertama kali dinilai dari kualitas bahasa. Jika sopan, menghadirkan kenyamanan dan ketertarikan. Bila kasar, akan dijauhi dan ditinggalkan. Maka, berbahasa itu dengan santun. Bahkan, kata-kata yang baik tergolong sedekah. Berpahala.

Rasulullah ﷺ bersabda ;

اتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقَّةِ تَمْرَةٍ، فمَن لَمْ يَجِدْ شِقَّةَ تَمْرَةٍ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَة

” Lindungi dirimu dari neraka walau bersedekah dengan secuil kurma. Barangsiapa tidak memiliki secuil kurma, maka bersedekahlah dengan kata-kata yang baik ” HR Bukhari 3595 Muslim 1016

Berbahasa yang santun semakin ditekankan jika bersama yang lebih tua, lebih tinggi kedudukannya, dan lebih dihormati. Kepada orang tua, kepada guru, kepada penguasa, dan kepada yang lebih berumur.

Rasulullah ﷺ bersabda;

ليس منا من لم يرحمْ صغيرَنا ، ويُوَقِّرْ كبيرَنا

” Tidak termasuk golongan kami; seseorang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati yang lebih tua ” Hadis dari beberapa sahabat dan disahihkan Al Albani (Sahihul Jami’ , no.5445)

Apalagi saat berdakwah! Jangankan menyampaikan kebaikan untuk kaum muslimin, kepada kaum kafir yang menentang pun, bahasa tetap harus santun. Sebab, hidayah bisa jadi Allah berikan melalui adab yang baik. Dengan bahasa yang santun.

Allah memerintahkan nabi Musa dan nabi Harun untuk mendakwahi Fir’aun dengan kata-kata yang lembut. Allah berfirman ;

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Ta-Ha : 44)

Kata-kata yang kaku harus mestinya dihindari. Bahasa yang kasar seharusnya dijauhi.

Sahabat Abdullah bin ‘Amr menceritakan untuk kita tentang Rasulullah ﷺ ;

لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم فاحشًا ولا متفحِّشًا، وكان يقول: إن من خياركم أحسنَكم أخلاقًا

” Rasulullah ﷺ tidaklah berbicara dengan jelek juga tidak berbuat buruk. Rasullullah juga sering menyampaikan ; Sungguh, termasuk sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya ” HR Bukhari 3559 dan Muslim 2321

Tatakrama berbahasa! Sebuah nilai yang harus diajarkan dan ditanamkan sejak kecil.

Sedih rasanya jika anak kecil tidak beradat bahasa dengan yang lebih tua. Hati berduka saat anak membentak ayah ibunya. Hilang rasa hormat dari yang mengaku keturunan raja-raja karena kata-katanya mencerca. Prihatin betul jika yang punya kuasa suka mencela. Suami istri sekalipun sedang marah, tolonglah jangan mencaci-maki. Susah hati ini ketika ada murid bicara kasar terhadap guru-gurunya. Walaupun tidak sependapat, bahkan benci, bukan alasan untuk menghapus tatakrama berbahasa.

Ilmu tanpa adab, tidak ada harganya! Maka, jadilah payung-payung adab yang meneduhkan. Baik dengan bahasa lisan, maupun bahasa tulisan.

anakmudadansalaf.id

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca