![]() |
| Bersabarlah dan Berinteraksilah! (1) |
(376)
Antara hidup uzlah dan khulthah, An Nawawi (Riyadhus Salihin, bab 70) menguatkan pendapat ber-khulthah. Alasan Beliau?
Ber-khulthah adalah kehidupan yang dijalani oleh Rasulullah ﷺ dan seluruh Nabi. Juga diikuti khulafaur Rasyidin, para sahabat, tabi’in, dan para ulama setelah mereka.
Harus dicatat dan selalu diingat bahwa konsekuensi ber-khulthah adalah berbaur dengan macam-macam orang, bersentuhan dengan watak manusia yang berbeda-beda, dan tidak pernah sepi dari konflik.
Ber-khluthah artinya menghapus egoisme dan dituntut bijak di semua kondisi.
Modal dan pangkalnya adalah sabar! Tidak ada yang lain.
Al Bukhari (3150) dan Muslim (1062) meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud sebuah peristiwa setelah perang Hunain.
Rasulullah ﷺ membagi-bagi harta rampasan perang kepada tokoh-tokoh Quraisy yang baru saja masuk Islam dengan jumlah yang banyak. Ada seseorang yang memprotes, ” Demi Allah, sungguh pembagian ini tidak adil! Bukan wajah Allah yang diinginkan darinya!”.
Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda, ” Siapakah yang adil, jika Allah dan Rasul Nya tidak adil”.
Kemudian Beliau ﷺ melanjutkan,
” Semoga Allah merahmati Musa! Sungguh Beliau disakiti lebih banyak dari hal semacam ini dan Beliau bersabar “
Benar! Nabi Musa diusir dari Mesir. Allah memperlihatkan sekian mukjizat dan disaksikan oleh kaumnya Nabi Musa, namun mereka selalu menentang. Detil pembangkangan Bani Israil tentu sudah diketahui bersama. Dan Nabi Musa bersabar.
Al Utsaimin (Syarah Riyadhus Salihin) menerangkan, ” Para nabi disakiti dan mereka bersabar. Nabi kita ﷺ, kata-kata seperti di atas diucapkan kepada Beliau ﷺ setelah 8 tahun berhijrah. Artinya, bukan di awal-awal berdakwah. Peristiwa itu terjadi setelah Allah memberikan kekuatan kepada Beliau, setelah kebenaran Beliau diakui, setelah Allah memperlihatkan mukijzat-mukjizat Beliau ke seluruh penjuru dunia, dan pada diri mereka. Sudah begitu masih saja dituduh; pembagian ini tidak adil! Bukan wajah Allah yang diinginkan darinya!”
Allah Ta’ala berfirman:
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati “(QS Al Ahqaf: 35)
Hidup ber-khulthah harus rutin membaca sejarah kesabaran para Nabi. Jangan lepas siroh Nabi Muhammad ﷺ untuk dikaji sebagai penyejuk.
Bacalah kesabaran Nabi Muhammad ﷺ menghadapi kaum Quraisy, kesabaran kepada sanak famili, kepada kaum musyrikin, kepada kaum munafikin, kepada kaum yahudi, dan kepada setiap orang yang memusuhi Beliau.
Telaah juga kesabaran Nabi Muhammad ﷺ melayani kaum badui, pendatang asing di Madinah, orang-orang yang ingin belajar Islam, sahabat-sahabat, istri dan anak, tetangga, dan kepada setiap orang yang Beliau berinteraksi kepadanya.
Syaikh Rabi’ bin Hadi menasihati, ” Kalian harus mengikuti metode para Nabi. Pertama; dengan hikmah dalam berdakwah di jalan Allah. Sebagaimana firman Nya, ” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik “. Jadikan metode agung ini di pelupuk mata kalian. Jangan keluar darinya! Kemudian hiasi dengan kesabaran! Sebagaimana firman Allah kepada Nabi Nya ﷺ, ” Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati “
Beliau menambahkan, ” Namun, saya berpikir jika kalian berhias dengan hikmah, sabar, dan akhlak yang mulia, sungguh manusia akan menyambut dan menerima dakwah kalian -insya Allah- “
Rasulullah ﷺ bersabda;
” Orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka, lebih afdhal dibanding orang mukmin yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak bersabar dari gangguan mereka ” HR Ibnu Majah (4032)
Maka, bersabarlah lalu berinteraksilah!
15 Syawwal 1447 H/03 April 2026
anakmudadansalaf.id
