![]() |
| Hikayat Secuil Sungai Nil |
(380)
Jembatan Giza membentang di atas sungai Nil dengan pulau Rhoda di bawahnya. Dibangun tahun 1908 dengan rangka baja, Jembatan Giza dahulu bisa dibuka-tutup ketika kapal-kapal besar masih ke Kairo.
Menikmati view sungai Nil, teringat ikan Nila. Konon dinamakan ikan Nila karena berasal dari aliran sungai Nil.
Walaupun melewati 11 negara Afrika, yang berhulu di Danau Victoria, Kenya (Nil Putih) dan Danau Tana, Ethiopia (Nil Biru), sungai Nil lebih identik dengan Mesir. 6.650 km sepanjang sungai Nil, wilayah Mesir adalah wilayah tersubur. Apalagi di delta nya, yaitu Kairo ke utara hingga Iskandariyah.
Sungai Nil menyumbang lebih dari 90% kebutuhan air bersih penduduk Mesir. Setelah disaring dan diolah di lebih dari 2.700 stasiun pengolahan, air sungai Nil didistribusikan.
Mesir dibelah oleh aliran sungai Nil. Di kota Kairo saja, ada belasan jembatan besar yang menghubungkan sisi timur Nil dan bagian barat.
Sungai Nil bersejarah panjang. Nabi Musa yang masih bayi dihanyutkan dengan kotak di aliran sungai Nil.
Aliran sungai yang disombongkan Fir’aun karena menganggap di bawah kuasanya adalah sungai Nil dengan 4 cabang utamanya.
Tentang sungai Nil, Rasulullah ﷺ bersabda;
” Saihan, Jaihan, Al Furat, dan An Nil, semuanya berasal dari sungai-sungai surga ” HR Muslim 2839 dari Abu Hurairah.
Ada banyak penafsiran ulama terkait hadis di atas, antara lain ; kesamaan nama, asal muasal airnya dari sungai-sungai di surga, atau kelak sungai-sungai itu akan berada di surga dengan perbedaan sifat tentunya. Ada juga yang menyatakan; kita tidak mengetahui hakikat bagaimana turunnya dari surga. Wallahu a’lam
Di antara kebijakan khalifah Umar bin Khatab adalah perintah kepada para panglima perang yang telah menaklukan wilayah-wilayah penting untuk mengembangkan pusat kegiatan yang tidak terpisahkan oleh sungai-sungai besar. Jika sewaktu-waktu Beliau ingin melihat rakyatnya, tidak ada penghalang sungai besar.
Tidak terkecuali Mesir. Mulanya ‘Amr bin Al ‘Ash menjadikan Iskandariyah menjadi pusat kegiatan karena memang strategis dan telah menjadi kota besar.
Menjalankan perintah Khalifah Umar, maka ‘Amr bin Al ‘Ash pun mengembangkan lokasi di sisi timur Nil yang selanjutnya dinamakan Fustat. Di masa Mesir modern, Fustat ada di bagian selatan Kairo (Old Cairo).
Terlepas status sanadnya, Al Hafiz Ibnu Katsir ( Al Bidayah Wan Nihayah, 7/100) menyebut sebuah riwayat dengan judul ” Kisah Nil Mesir “.
Disebutkan bahwa setelah Mesir ditaklukkan, penduduknya menemui ‘Amr bin Al ‘Ash untuk menyampaikan adat setempat yang menyerahkan sesaji untuk sungai Nil di bulan tertentu.
Sesaji itu; seorang gadis yang telah disetujui kedua orang tuanya, dikenakan pakaian dan perhiasan terbaik kemudian dilemparkan ke sungai Nil.
‘Amr menanggapi, ” Sungguh, adat seperti ini tidak diperbolehkan dalam Islam. Sungguh, Islam menghapus kebiasaan semacam ini “.
Disebutkan bahwa sungai Nil tidak mengalir beberapa waktu sampai-sampai banyak orang ingin pergi. ‘Amr menulis laporan kepada khalifah Umar.
Umar menjawab, ” Sungguh, keputusanmu sudah benar. Sungguh, di dalam suratku ini ada secarik kertas, lemparkan ke sungai Nil”. Kertas itu bertulis, ” Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin kepada Nil penduduk Mesir. Amma ba’du; jika engkau mengalir dengan sendirimu dan atas keinginanmu, janganlah mengalir karena kami tidak membutuhkanmu. Jika engkau mengalir karena perintah Allah dzat yang Maha Esa dan Maha Kuasa, dan Dia lah yang membuatmu mengalir, maka kami memohon kepada Allah agar membuatmu mengalir “.
Kertas itu dibuang ke sungai Nil, dalam satu malam air mengalir hingga setinggi 16 hasta.
Hikayat sungai Nil telah menyertai beribu-ribu tahun sejarah manusia. Dari hulu hingga hilirnya. Dari Danau Victoria, air terjun di Uganda, rawa-rawa di Sudan Selatan, gurun-gurun Sudan, hingga bendungan Aswan, lalu membelah Kairo, dan berakhir di Laut Mediterania. Sungai Nil, sungai dari surga.
anakmudadansalaf.id
