![]() |
| Ibnu Aqil : Cinta di Balik Kalung Mutiara Bertali Merah |
(58)
Versi I : Versi Ibnu Aqil
Adz Dzahabi (wafat 748 H) dalam Siyar A’lam Nubala (14/332) menukil Abul Muzaffar Sibt Ibnil Jauzi yang menghikayatkan dari Ibnu Aqil.
Ibnu Aqil bercerita :
“Saya berangkat berhaji. Di perjalanan, saya menemukan kalung mutiara bertali merah. Rupanya, setelah itu, ada orang buta sudah lanjut usia mengumumkan telah kehilangannya. Beliau menjanjikan akan memberi 100 dinar bagi yang menemukannya. Saya kembalikan kalung mutiara itu kepada beliau. “Terimalah 100 dinar ini!”, katanya. Namun, saya menolak. Setelah haji, saya berangkat ke negeri Syam dan mengunjungi Baitul Maqdis. Dalam perjalanan menuju Baghdad, saya singgah di sebuah masjid Aleppo. Dalam kondisi kedinginan dan lapar, jamaah meminta saya menjadi imam salat. Setelah saya mengimami salat, mereka menjamu saya dengan makanan. Hari itu adalah hari pertama di bulan Ramadhan”
Ibnu Aqil melanjutkan :
“Jamaah masjid menyampaikan bahwa, “ Imam masjid kami baru saja meninggal dunia. Tolonglah agar Anda menjadi imam selama bulan Ramadhan”. Saya terima tawaran itu. “Imam masjid kami punya seorang putri”, lanjut mereka. Saya kemudian dinikahkan dengan putri dimaksud”
Setahun kemudian, istrinya melahirkan anak laki-laki. Namun, istrinya sempat jatuh sakit setelah melahirkan. Suatu hari, Ibnu Aqil memperhatikan istrinya yang saat itu sedang memakai kalung mutiara bertali merah seperti kalung yang pernah ditemukannya. Ibnu Aqil lalu bercerita kepada istrinya tentang kalung mutiara itu. Istrinya menangis mendengar cerita itu.
“ Demi Allah! Ternyata orang itu adalah engkau! Sungguh, ayahku dahulu sering menangis dan berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah seorang suami untuk putriku ini seperti laki-laki yang mau mengembalikan kalung mutiara bertali merah kepadaku”
“Ternyata, doa ayahku dikabulkan Allah”, lanjut istrinya. Tidak lama kemudian, istrinya meninggal dunia. Kalung mutiara itu lalu dibawa pulang ke Baghdad oleh Ibnu Aqil.
Versi II : Versi Qadhi Abu Bakar al Anshari
Ibnu Rajab (wafat 795 h ) dalam Dzail Tabaqat Hanabilah (1/443) meriwayatkan kisah Qadhi Abu Bakar al Anshari.
Qadhi Abu Bakar bercerita:
“Saya menetap di Mekkah. Suatu hari saya sangat lapar namun tidak ada sedikitpun makanan yang bisa menghilangkan lapar. Di jalan, saya menemukan kantong sutra dengan tali pengikat dari sutra juga. Kantong itu saya bawa pulang ke rumah. Setelah saya buka, isinya mutiara-mutiara indah yang belum pernah saya lihat sebelumnya”
Qadhi Abu Bakar melanjutkan:
“Cepat-cepat saya keluar rumah. Ternyata ada seorang kakek mengumumkan telah kehilangan kantong sutra. Kakek itu membawa kampil kain berisi 500 dinar. Katanya, “500 dinar ini akan saya berikan kepada yang mau mengembalikan kantong sutra berisi mutiara”
Kata Qadhi Abu Bakar :
“Saya sedang kesulitan. Saya juga lapar. Saya kembalikan saja kantong sutra itu kepadanya dan saya bisa mengambil 500 dinar sebagai hadiah agar dapat saya manfaatkan”
Qadhi Abu Bakar lalu mengajak kakek itu ke rumahnya. Kakek itu secara tepat bisa menyebutkan tanda-tanda kantong sutra, tanda tali pengikatnya, tanda mutiara-mutiara berikut jumlahnya. Maka, Qadhi Abu Bakar mengeluarkan dan menyerahkan kantong sutra itu kepadanya. Sementara, 500 dinar yang dijanjikan akhirnya ditolaknya. Walaupun telah dipaksa berulang kali, Qadhi Abu Bakar tetap menolaknya. Kakek itu lalu pergi.
Qadhi Abu Bakar beberapa waktu kemudian meninggalkan Mekkah melalui jalur laut. Ternyata kapal yang dinaikinya pecah terhantam ombak dan karam. Banyak penumpang tenggelam. Adapun Qadhi Abu Bakar termasuk yang selamat dikarenakan berpegang sepotong kayu bagian kapal. Beberapa waktu, Qadhi Abu Bakar terombang-ambing di lautan tanpa mengetahui arah. Sampai, beliau terdampar di sebuah dataran berpenghuni.
“Saya memilih istirahat di sebuah masjid”, lanjut beliau.
Orang-orang di sana sempat mendengarkan bacaan Al Quran dari Qadhi Abu Bakar. Maka, penduduk kampung itu meminta beliau agar bersedia mengajarkan Al Quran untuk mereka. Penduduk kampung banyak yang memberi uang kepada beliau.
