Panglima Perang Muda

3 menit baca
Panglima Perang Muda
Panglima Perang Muda

(62)

Ada sepenggal bait syair yang bersejarah dan seringkali dialunkan untuk menggambarkan kesunyian hati. Bait syair itu digubahkan pertama kali oleh Abdullah bin Umar bin ‘Amr bin Affan al ‘Arji.

Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala menyebut beliau sebagai pujangga besar sekaligus pejuang pemberani dalam jihad melawan imperium Romawi. Atas sangkaan sebuah kasus, beliau dipenjara di Mekkah selama tujuh tahun sampai meninggal dunia.

Di dalam penjara, Al ‘Arji bersyair, di antaranya :

أَضَاعُونِي وَأَيُّ فَتَىً أَضَاعُوا … لِيَوْمِ كَرِيهَةٍ وَسِدَادِ ثَغْرِ

Mereka tega menelantarkan aku, padahal anak muda seperti apa yang mereka telantarkan?

Anak muda yang siap terjun di hiruk pikuk perang atau mengisi pos perbatasan

Bait di atas adalah baris pembuka untuk rangkaian syair indah setelahnya. Dari bait pembuka saja, sudah cukup menggambarkan kesedihan dan kesunyian hati yang dialami.

Al ‘Arji sebagai pejuang yang masih muda merasa hampa hidup di penjara. Padahal, besar inginnya untuk terus berjuang di medan perang atau di pos perbatasan terdepan.

Namun begitulah dunia, anak muda! Tak selamanya indah. Tidak selalu sesuai angan-angan. Kadangkala, bahkan seringkali bertolakbelakang dengan impian. Menghadapi hal-hal semacam itu diperlukan keteguhan hati dan ketabahan jiwa. Disertai keyakinan bahwa apa yang Allah pilihkan adalah yang terbaik untukmu.

Engkau harus bercita-cita besar! Engkau mesti rela berkorban untuk menggapai cita-cita itu. Ingat, hidup di dunia hanya sekali, maka engkau bertekadlah untuk bermanfaat seluas-luasnya. Taruhlah cita-cita itu di pelupuk matamu, di garis pikiranmu, dan selalu hidup di sudut hatimu. Berserah-dirilah kepada Allah! Sandarkan kekuatan hanya kepada Allah.

Setelah itu semua, jalani dan hadapilah semua kenyataan dengan jiwa yang besar. Ikhlas dan tidak berharap apa-apa kecuali ridha Allah semata.

Penyakit hidup adalah kekosongan. Kosong tanpa cita-cita, kosong tiada asa. Kosong dari tekad bulat, kosong dari semangat kuat.

He, anak muda! Pikirkanlah tentang manfaat apa yang bisa engkau berikan, jangan berpikir mengenai apa yang akan engkau dapatkan. He, anak muda! Bukanlah tentang apa yang engkau terima untuk ditargetkan, namun tentang kebaikan apa yang bisa dilakukan yang harus engkau camkan.

ooo___ooo

Bait syair di atas juga disenandungkan oleh Muhammad bin al Qasim ketika dipenjarakan di Irak. Siapakah Muhammad bin al Qasim?

Ibn Katsir dalam Al Bidayah saat berbicara tentang peristiwa besar di tahun 93 H, menyatakan, “ Muhammad bin al Qasim -keponakan al Hajjaj bin Yusuf- menaklukan kota Debal dan kota-kota lainnya di dataran India”

Ibn Katsir melanjutkan, “ Al Hajjaj menunjuk Muhammad bin al Qasim sebagai panglima untuk menaklukan dataran India padahal usianya masih 17 tahun”. Kemudian Ibn Katsir menerangkan kemenangan demi kemenangan yang diraihnya sampai berhasil menguasai Lembah Sindh.

Iya! Muhammad bin al Qasim adalah sang penakluk Lembah Sindh dan sekitarnya. Saat ini, Sindh adalah negara Pakistan. Oleh sebab itu, bisa dikata, Islam di Pakistan dan sekitarnya berkembang pesat setelah ditaklukan oleh Muhammad bin al Qasim.

Militer bukanlah cara utama, namun pendekatan persuasif dan dakwah yang bijak menjadi sebab banyak penduduk lokal yang semula beragama hindu kemudian memilih untuk masuk Islam.

Ada perubahan arah politik setelah khalifah al Walid I wafat. Penerusnya, yaitu khalifah Sulaiman (adik al Walid I) mengambil kebijakan-kebijakan baru. Panglima Muhammad bin al Qasim pun termasuk yang terdampak. Beliau dicopot dari jabatannya.

Sebenarnya, banyak yang tidak setuju dengan hal itu. Bahkan, ada yang mencoba memberi masukan agar Muhammad bin al Qasim melepaskan diri dari pengaruh Bani Umayyah. Selain jarak yang sangat jauh dari pusat kekuasaan, pasukannya berjumlah besar dan menyatakan setia, penduduk lokal di daratan Sindh pun sangat senang dengan Muhammad bin al Qasim. Apalagi banyak dari mereka yang sudah masuk Islam.

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca