Bermata Tapi Buta, Mati Padahal Berhati

3 menit baca
Bermata Tapi Buta, Mati Padahal Berhati
Bermata Tapi Buta, Mati Padahal Berhati

(74)

Walau hanya obrolan ringan, beberapa pertanyaan yang saya sampaikan kepada Abu Irsyad -sahabat yang mendampingi perjalanan mobil-, dijawabnya dengan lengkap. Sekian tahun menetap di Amsterdam Belanda, Abu Irsyad sangat lancar bercerita tentang kehidupan orang-orang di sana.

“Makan, minum, bekerja, dan berlibur”, Abu Irsyad menyimpulkan singkat tentang aktivitas dan pola pikir orang-orang kafir.

Apa bedanya dengan kehidupan binatang?

Maha benar Allah yang berfirman ;

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمْ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179)

Allah juga berfirman ;

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka. (QS. 47:12)

Dalam Fathul Qadir (5/32) Al Imam Asy Syaukani menjelaskan, “Mereka bersenang-senang dengan kepuasan-kepuasan dunia seolah-olah binatang. Tidak ada yang dipikirkan kecuali urusan perut dan seksual. Mereka lalai dari pertanggungjawaban. Mereka tenggelam dalam buaian dunia”

Demikianlah! Kehidupan orang-orang kafir tak ubahnya seperti kehidupan binatang.

Apa yang mereka pikirkan? Makan, minum, seksual, liburan, tidur, dan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya. Tak terpikir oleh mereka, bahwa hidup di dunia bukan hanya bagaimana bisa bertahan hidup? Tidak sebatas memenangkan kompetisi. Bukan untuk tetap survive di tengah-tengah persaingan global. Hal itu tidak masuk dalam agenda hidup mereka.

Sangat berbeda! Bahkan ibarat timur dan barat, orang yang beriman itu.

Hidup di dunia sifatnya sementara. Bagai seorang perantau di negeri orang yang ada saatnya pulang ke kampung halaman. Ibarat musafir yang singgah sebentar di teduhnya bayang-bayang pohon yang mau tak mau harus melanjutkan perjalanan.

Hidup di dunia ada tujuannya, yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala. Harus menggunakan fasilitas-fasilitas dunia untuk mencari kebahagiaan akhirat. Ia yakin adanya hari kebangkitan, hari perhitungan amal, hari pertanggungjawaban, dan hari pembalasan. Sekecil apapun yang ia perbuat, ada catatannya. Tak ada yang terluput.

Masih lebih baik lagi binatang! Sebab, binatang-binatang tetap bertasbih; memuji-muji Allah Ta’ala, walau kita tidak bisa memahami bagaimana bentuk tasbih mereka.

Di dalam sahih Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad menjelaskan tentang semut-semut sebagai bangsa yang selalu bertasbih kepada Allah.

Bahkan di dalam Al Quran, ada 4 ayat menyebutkan burung-burung pun selalu bertasbih kepada Allah.

Kembali kepada dirimu, anak muda!

Bagaimanakah hidup engkau jalani selama ini? Apa yang engkau pikirkan untuk hari esok? Janganlah hidup seperti binatang! Punya mata namun buta dari kebesaran Allah. Ada telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar firman-firman-Nya. Diberi akal, lalu akal itu dipakai untuk apa? Hatimu yang harusnya menjadi sumber kehidupan, kenapa justru mati?

Janganlah hidup seperti binatang! Kerjamu hanya bagaimana bisa makan, minum, tidur, bermain, dan bersenang-senang. Jangan dan jangan seperti itu! Cukuplah dan berhentilah dari orientasi-orientasi dunia! Apakah belum tiba saatnya hati ini khusyuk tunduk kepada Allah? Kalau tidak dari sekarang, mau kapan lagi dimulai?

Pendopo Lama, 27 Oktober 2021 Bakda Isya

t.me/anakmudadansalaf

Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

“Kata-kata yang baik terhitung sedekah” (HR. Bukhari 2989 Muslim 1009 dari sahabat Abu Hurairah)

Lainnya

  • (62) Ada sepenggal bait syair yang bersejarah dan seringkali dialunkan untuk menggambarkan kesunyian hati. Bait syair itu digubahkan pertama...
  • (194) Negeri Aman di Tengah Pegunungan Tandus Mekkah berada di seputaran 330 meter di atas permukaan laut. Kota tua...
  • (68) Ibn Katsir (Al Bidayah 12/361) meriwayatkan tentang raja Nuruddin Mahmud. Bersama rombongan, beliau suatu hari ingin berkuda. Sinar...
  • (70) Ada yang usul kepada sahabat Abdullah bin Mas’ud, ” Wahai Abu Abdirrahman, sungguh saya sangat senang jika Anda...
  • (369) Haru membawanya tanpa dia rasa. Titik-titik air mata membasahi pipinya. Bertahun lamanya penantian. Tak lelah doa-doa ia panjatkan....
  • Bercerita walau berkenang, Andalus adalah kisah besar dalam sejarah Islami. Walau kini tak semua ingin mengerti dan mau peduli....

Kirim Pertanyaan

Eksplorasi konten lain dari Anak Muda Dan Salaf Official Website

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca